Sistem Kuas Dan Kanvas

Sistem Kuas Dan Kanvas
Misi Si Ganda


__ADS_3

Segerombolan orang yang memakai seragam karyawan minimarket mengolok seorang pria yang tengah duduk di sebuah bangku taman yang tak jauh dari perumahan dan minimarket itu. "Lihatlah! Si ganda itu terlihat begitu menyedihkan, kesi*alan selalu menghampirinya. Bahkan sekarang ia baru saja dipecat!"


"Hahaha!" Tawa mereka tiba-tiba melenggar secara bersamaan.


"Bahkan orang tuanya turut pergi ke langit karena tidak mau hidup bersama anak si*al seperti dirinya!"


Laki laki itu yang awalnya terlihat diam sekarang bangkit dengan kemarahan, terlihat tangannya mengepal dan .....


Bughh! Suara pukulan itu menghentikan gelak tawa mereka, amarah pria itu membuat wajahnya memerah dengan napas yang memburu.


"Aku diam, bukan berarti aku tidak bisa membalas! Mulut mu itu sudah berani mengatakan hal buruk tentang orang tua ku!"


Melihat pukulan itu melayang di wajah temannya, beberapa pria itu langsung memegangi tangan pria itu dan tentu saja ia kalah jumlah.


"Dengar ganda! Kau itu memang pembawa si*al! Dasar miskin! Wajah tampan mu itu tidak berarti selain menjadi gigo*lo!"


Bughh!


Beberapa pukulan mendarat di wajah tampan itu yang membuat segerombolan orang itu tertawa melihatnya dan setelah puas mereka segera pergi meninggalkan sosok itu yang terlihat terluka.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian .....


Hari ini ia merupakan awal yang baru baginya, karena ia mendapatkan pekerjaan baru sebagai pelayan di salah satu cafe yang terkenal setelah dipecat tidak hormat di tempat sebelumnya karena konspirasi kejam.


"Waktu jam istirahat tiba, silahkan istrirahat selama 15 menit. Setelah itu kembali bekerja." Terdengar air dari manager cafe itu dari balik dinding.


"Hero, mau gabung?" Tawar seorang pria berkacamata padanya.


"Tidak, terima kasih." Tolaknya dengan halus.


"Baiklah."


Seharian bekerja membuat tubuh Hero terasa lelah dan ia segera beristirahat, dengan motornya ia melaju menuju rumahnya. Tapi saat sampai di sana ia justru melihat si jago merah melahap habis rumahnya, tak terlihat ada sisa dari sana, tubuh yang lelah dengan kejadian hari ini justru semakin menjadi saat mendengar olokan dan hinaan dari warga tempat tinggalnya yang mengatakan ia pembawa malapetaka di komplek itu. Malam itu, ia akhirnya terus berjalan mendorong sepeda motornya yang sudah dirusak. Suasana yang terlihat sunyi karena rintik hujan ikut menambah suasana menjadi hening. Hero yang mempercepat dorongan motornya tiba tiba terhenti karena sebuah karung berada di hadapannya. Ada perasaan takut saat ia melihatnya, belum lagi berita mengenai begal dengan berbagai cara untuk menjebak calon korbannya. " Apa ini? Aku harap bukan jebakan atau sejenisnya. Apa aku buka saja ya?" Hingga karena penasaran tidak melihat pergerakan, Hero turun dan membawa karung itu bersamanya, hingga ia sampai di sebuah gubuk sederhana.


"Ok, mari kita lihat!" Pria itu segera membuka karung itu yang ternyata berisi seperangkat alat lukis.


"Wah! Alat melukis!" Karena perasaan senang ia segera membuka dan membersihkan kuas yang kotor itu.


"Mari kita coba!" Setelah bersih ia segera memasang kanvas dan langsung membuat garis pertamanya. Tiba-tiba saja ia mendengar suara dari coretannya itu yang berbunyi “Selamat anda telah mengaktifkan sistem kanvas dan kuas!”

__ADS_1


Mata pria itu masih mendelik karena tidak percaya akan apa yang ada dihadapannya saat ini. Sistem? Apakah ia bermimpi? Itulah yang menjadi tanda tanya bagi pria itu sekarang. Meskipun suaranya menghilang, tapi perlahan di kanvas itu terdapat tulisan dan di sana tertulis kata next. Hero menekan kata meskipun ada keraguan di dalamnya dan tak lama CLING! tulisan berikutnya muncul. Yang mana mata itu menangkap tulisan jika ingin mendapatkan uang sebesar 20 juta maka silahkan selesaikan misi yaitu lukislah benda persegi di mana ia bisa dibuka dan ditutup dan dari sana kita bisa melihat sesuatu dibaliknya. Hero berpikir sejenak hingga ia mengedarkan pandangan ke segala sisi gubuk yang tidak memiliki pintu atau jendela itu dan setelah menemukan benda yang ia yakini itu adalah jawabannya.


"Ok, mari kita coba!" Ia segera melukiskannya di tempat yang telah disediakan. Hingga tak berapa lama, suara cling kembali muncul dan mata Hero terbelalak saat melihat seamplop uang yang berisi dua puluh juta rupiah.


"Uang ... Aku ..... Kaya? Aku kaya!" Itulah ucapan yang terlontar dari mulutnya.


Meskipun tangan itu bergetar menyentuhnya seperti menyentuh gadis perawan saja. Tapi ia segera membuka dan mendekap uang di dalam amplop itu. Pria itu berulang kali menepuk pipinya karena masih tak percaya akan hal ini. Ia takut ini adalah mimpi semata. Kilauan dari kanvas itu membuat perhatian Hero kembali ke sana. Matanya kembali menangkap kilauan yang ternyata, tulisan itu berkedip ditambah dengan simbol kotak hadiah yang sudah terbuka.


Indra pendengaran Hero menangkap suara yang berasal dari kanvas itu. "Selamat anda berhasil menyelesaikan misi dan selamat anda mendapatkan uang sebesar 20 juta rupiah! Jika ingin melanjutkan misi silahkan tekan tombol berikutnya!


"Aku akan melanjutkan, siapa yang tahu hadiah berikutnya?" Keantusiasan ia menyusut ketika tidak melihat reaksi dari kanvas itu, tidak ada lagi sistem seperti tadi. Pikiran pria itu mulai kalut, apakah ada yang salah, rusak atau hanya bisa digunakan sekali saja, atau apakah ia di prank? Berbagai pikiran dan diagnosa memenuhi kepala pria tampan itu yang terdapat beberapa luka di sana dan juga berkeringat karena hal ini. Berulang kali ia melakukan reka adegan seperti tadi saat ia pertama kali ia melakukan misi. Ia terdiam sejenak, hanya ada kesunyian yang dihiasi oleh suara jangkrik yang berada di sekitar gubuk yang ia tempati saat ini.


"Jangan rusak, aku harap ini tidak rusak, aku mohon ..." Pinta Hero. Pria itu tidak menyerah begitu saja, ia membersihkan kembali kuas yang ia gunakan tapi tetap masih tidak berhasil, seperti sebuah situs yang tidak bisa dibuka karena jaringan atau paket data yang habis. Dia termenung kembali dan saat ia menggerakkan tangannya terutama membolak-balikkan telapak tangannya matanya menangkap Ibu jarinya yang ganda. Seperti mendapat petunjuk saat melihat jari gandanya, pria itu dengan perlahan mendekati kanvas itu dan terlihat ia menghela napasnya dengan panjang. Dalam hatinya semoga yang ia pikirkan memang benar dan akurat. Saat jari gandanya ia tempelkan pada tulisan next itu ....


CLING!!!! Misi selanjutnya!!!


Bersambung .....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya. Dukung karya ini agar author makin semangat untuk menulis episode berikutnya ya. Terima kasih banyak semuanya...

__ADS_1


__ADS_2