
Saat Hero baru saja memasuki kediamannya, terlihat beberapa orang-orang datang ke sana. Bukan lagi sosok wanita cantik seperti tadi tapi sosok paruh baya yang sepertinya Hero kenali.
"Akhirnya kau datang juga Hero!" Ujarnya dengan senang perlahan mendekati Hero yang masih diam.
"Kalian?" Ucap Hero memindai semuanya.
"Iya, kami butuh bantuan." Hero tersenyum mengejek. Ternyata, sekelompok orang ini langsung memperlihatkan tujuan mereka.
"Oh? Begitu ya. Aku tidak kaget." Hero melenggang masuk dengan mobilnya disertai tatapan yang mengikuti laju mobilnya.
"Berapa? Dan apa jaminannya?" Hero juga tidak suka berbasa-basi.
"Lima juta, tolong nak!" Mendengarnya Hero teringat akan masa lalunya.
"Tolong? Bahkan dulu aku juga bilang begitu. Tapi..... Apa yang kudapat?"
"Maafkan kami." Hero melihat perubahan wajah tersebut tapi ia masih ragu dengan isinya.
"Kami aku lakukan apapun!" Hero tertawaan mendengar kalimat tersebut.
"Sungguh?" Mereka mengangguk bersama.
"Bersihkan ini!" Hero menunjuk sepatu mahalnya yang membuat sekelompok orang tersebut saling memandang.
Perlahan tapi pasti Hero dapatkan melihat dua orang mendekat dan mencoba menyentuh sepatutnya, saat Hero merasakan kepuasan akan hal itu. Bayangan ibunya membuat ia menarik kakinya segera dan tentu saja hal ini menjadikan kebingungan bagi keduanya. "Ada apa nak?" Tanya mereka pelan.
"Ambil ini! Dan jangan datang lagi!" Hero menutup pagarnya dan sekelompok orang tersebut pergi dengan ucapan terima kasih.
"Apapun keburukan yang dunia lakukan. Kau tidak perlu membalasnya nak, jika tidak ada kebaikan yang kau temukan maka, kaulah yang harus menciptakan nya."
__ADS_1
"Aku melakukannya. Ibu lihat? Hatiku menolak nya karena keterikatan yang ibu berikan padaku." Hero ingin sekali membalas dengan caranya, tapi setidaknya dengan ia melemparkan uang tersebut ia dapat melihat sekeluarga kepala desa tersebut memungut uang yang ia berikan.
"Tapi aku tidak janji berikutnya." Hero melepaskan pakaiannya dan berbaring sambil bermain game dengan sistem kekayaannya.
"Uang $5000 telah masuk ke rekening tuan."
"Ada pesan?" Hero membaca tulisan tersebut yang membuat ia termangu sesaat.
Sebuah bangunan besar yang telah dihiasi dengan ornamen juga begitu banyak orang yang datang membuat para wartawan telah berkerumun di sana. Dan benar saja mereka langsung berbondong-bondong mendekati Hero yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Tuan Hero." Begitu banyak pertanyaan tapi Hero hanya tersenyum, ia hanya memilih pertanyaan yang akan ia jawab saja.
Kamera langsung menangkap dirinya dengan pose andalan pria yang biasa saja tapi luar biasa baginya. Sepanjang Hero lewat, begitu banyak tatapan mata yang entah kagum, iri dan sebagainya.
Hero diundang ke pesta ulang tahun anggota dewan, tentu saja ia datang. Saat asyik dengan makanannya ia dihampiri oleh sosok pria paruh baya. "Selamat malam." Sapanya yang dibalas Hero.
"Selamat malam juga Tuan....
"Senang bertemu dengan anda." Ujar Hero yang mendapatkan balasan senyuman.
"Aku sudah mendengar berita tentang mu, dan lebih mengejutkan faktanya. Aku sangat takjub dengan kesuksesan mu diusia muda. Aku rasa kita bisa bekerja sama, karena aku akan membutuhkan design makanan ku nanti."
"Terimakasih atas pujiannya, saya juga takjub dengan kesuksesan anda, saya rasa itu akan saya perlukan resep kesuksesannya nanti."
"Aku beritahu saja, kesuksesannya adalah seorang wanita cantik yang menjadi istriku hingga sekarang." Hero sepertinya tahu arah pembicaraan ini.
"Jangan berfikir aku akan menjodohkan mu. Aku hanya mengatakan rahasianya saja, lagipula perjodohan sudah cukup kuno. Aku lebih suka dengan cinta yang mengalir begitu saja, itu lebih baik bukan?" Hero mengangguk setuju.
"Aku memiliki seorang putri, tapi sepertinya ia memiliki jiwa yang bebas. Tadinya aku ingin memperkenalkan dirinya dengan mu, sepertinya kalian cocok untuk berteman. Ia bisa belajar juga darimu, tapi sepertinya tidak bisa."
__ADS_1
"Ia kabur?"
"Iya, tapi meskipun begitu. Aku senang ia bisa bertahan tanpa bantuan ku."
"Mungkin ia tengah mencari sesuatu, anda tenang saja. Ia akan kembali ke keluarga nya."
"Iya, aku yakin itu. Namanya Helena." Hero tengah mencerna nama tersebut, sepertinya ia tidak asing.
"Helena?" Ulang Hero.
Ditengah perbincangan itu ada sebuah tatapan dengan rencana piciknya dan juga tatapan kerinduan yang tidak terobati melihat Hero yang tengah dikerumuni oleh wanita cantik. "Lihat! Banyak yang antri!" Kekeh Albert.
"Iya, tapi aku pilih-pilih."
"Itu sangat bagus! Tapi jangan terlalu, nanti kelamaan."
Hero menjawab pertanyaan yang diberikan padanya dan tentunya wajah cantik wanita ada di sekelilingnya dan dengan gaya cool nya ia menjawab yang membuat para wanita tersebut histeris. "Ayah! Aku ingin Tuan Hero menjadi suamiku!" Seorang wanita cara keturunan Asia bicara sambil memandangi Hero.
"Jangan khawatir, nanti Ayah atur!" Tentu saja membuat putrinya bahagia.
"Ayah sudah punya rencana?"
"Tentu saja."
Jill duduk di tengah kerumunan tapi hatinya terasa kosong saat ini. Ia pergi bersama Lim calon suaminya kesini sedangkan Daddy nya tidak ada karena ada urusan. "Mau cake?" Tawar Lim.
"Coklat." Jawab Jill, saat ia mengedarkan pandangannya ia melihat sesuatu yang buruk dengan penglihatannya.
Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.