Sistem Kuas Dan Kanvas

Sistem Kuas Dan Kanvas
Sosok Masa Lalu


__ADS_3

Hujan mengguyur tempat yang dipenuhi oleh kerumunan orang tersebut yang perlahan satu persatu orang-orang pergi meninggalkan sepasang pria dan wanita yang terlihat sebuah payung melindungi mereka. "Ayo kita pulang." Tidak ada jawaban, selain pandangan ke dua tanah yang masih basah tersebut.


"Daddy, Mommy aku pergi dulu. Aku akan datang lagi nanti, aku akan memperjuangkan keadilan untuk kalian. Maaf.....


"Its Ok, ada aku. Ayo, kita pulang." Hero membawa Jill ke dalam dekapannya dan mereka langsung pergi menuju mobil yang terparkir menunggu mereka.


Malam semakin larut, Jill baru saja tertidur. Tapi tidak dengan Hero, ia masih membuka matanya seraya ditemani sinar dari desain miliknya. "Tuan, mereka berada di kota x. Aku akan segera ke sana dan lusa akan dapat kabar."


"Bagus, aku tunggu. Dan pastikan tidak ada kekacauan di hari ku."


"Baik Tuan."


Sinar matahari terlihat datang dengan Jill yang duduk melamun di meja makan kediaman Hero ditemani oleh sepasang suami istri yang dibantu oleh Hero. "Apa Nona butuh yang lain?" Tanyanya dibalas gelengan oleh Jill.


"Kita akan menikah besok, apa kau setuju?"


"Kau yakin? Pernikahan dilandasi oleh cinta dan juga....


"Jangan mulai Jill. Apa kau tidak paham juga? Jika aku tidak sungguh-sungguh aku akan meninggalkan mu bahkan sejak kau menghubungi aku di malam itu, aku tidak akan datang. Kalau kau masih ragu, baiklah... Jill menangis tanpa suara, sejak kejadian itu emosinya terlihat bermasalah dan Hero menghela napasnya karena hal ini. Jujur saja ada perasaan dalam dirinya untuk Jill, entah cinta atau sayang atau peduli.


"Maaf, aku tidak mengerti.... Apa....


"Ya, jangan memikirkan apapun. Ada aku, aku yang akan mengurus segalanya."


"Aku menyedihkan ya?" Tanya Jill


"Tidak. Cantik seperti biasa. Jadi Tuan putri, jangan menangis karena besok adalah pernikahan kita. Hmm?" Hero menangkup pipi Jill membuat kedua adu pandang itu bertemu.

__ADS_1


"Hero, tuan putri ini mencintaimu." Setelah mengatakannya Jill mendekatkan wajahnya dan adu benda kenyal tersebut tak terelakkan. Keduanya terhanyut sesaat di tengah adegan tersebut mereka dikejutkan dengan kedatangan Bibi disana.


"Maaf nak, Bibi ingin mengambil....


"Silahkan. Aku akan berangkat ke perusahaan, kau di sini ya. Ada bibir dan Paman." Jill mengangguk dengan wajah memerah karena kepergok.


"Hati-hati." Hero merasa senang dan cekikikan karena membayangkan adegan tadi. Suasana hatinya mendadak bahagian hingga memasuki ruangannya. Saat baru saja duduk sambil melihat laporan perusahaan ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang.


"Selamat pagi keponakan ku." Mata Hero langsung memicing melihat kedatangan sosok tersebut terlihat bawahannya menduduk meminta maaf dan Hero membalas dengan kode.


"Silahkan duduk Big T." Hero berujar sambil menatap.


"Bisa kita bicara dengan baik?"


"Tentu saja, memang baik bagaimana lagi maksudnya?" Terlihat Big T menghela napasnya.


"Aku mendengarkan."


"Hana adalah adik perempuan ku satu-satunya. Dulu kami tinggal di di Jepang tepatnya Tokyo, tapi saat usia Hana memasuki kuliah dia ingin pergi dari Jepang dan memilih negara lain, ingin berpetualang katanya."


"Ayah memberikan izin tapi tentu dengan pengawasan. Semuanya berjalan lancar, Hana berkuliah di Singapura tapi saat ada study tour kampusnya memilih salah satu pulau negara ini yang memiliki candi indah dan terkenal. Hingga semuanya berubah ketika ia bertemu dengan pribumi dan menjalin hubungan. Lambat laun semuanya tercium dan terjadi ketidaksetujuan, tapi Hana memilihnya dan melepaskan statusnya sebagai Putri bangsawan. Kau tahu benar siapa pribumi tersebut, Armand Sastroamidjojo."


"Dan melahirkan aku?"


"Benar, aku pernah melakukan berbagai cara untuk membawa adik kecilku lagi , segalanya ku lakukan tapi cinta adikku dan juga pria itu tidak lemah. Sebelum kelahiran mu, Hana mengalami keguguran, setelah itu mereka pindah. Aku tidak melanjutkan pencarian karena sakit hatiku dan tidak suka karena ayahmu menghilangkan kebahagiaan keluarga kami." Hero memandangi dengan seksama wajah Big T yang memiliki mata seperti ibunya.


"Ayahku tidak menghancurkan apapun. Aku tidak tahu yang terjadi, tapi ibuku diperlakukan seperti ratu oleh ayahku, meskipun tidak memiliki harta dan kekuasaan seperti anda."

__ADS_1


"Aku merasa menyesal setelah bertahun-tahun, aku melakukan pencarian kembali tapi tidak berhasil karena adikku ternyata sudah tiada menyusul orang tuaku. Awalnya aku tidak merasakan apapun padamu. Tapi kecurigaan ku timbul setelah tantangan yang ku berikan. Kau seperti Hana, dan Hana berhasil mendidik mu begitu juga dengan ayahmu."


"Lalu?"


"Aku tidak memintamu ikut bersamaku atau apapun itu. Sekarang aku merasakan beban ku sudah hilang, penyesalan dan rasa bersalah sudah hilang hatiku jadi tenang sekarang. Meskipun aku belum bertemu dengan Armand dan memperbaiki segalanya, tapi aku yakin dia memiliki sikap yang luar biasa."


"Aku tidak bisa mengatakan apapun. Tapi satu hal yang jelas, Arigato. Ibu seringkali bercerita mengenai negara sakura dan kisah di sana mungkin ia menceritakan kerinduan terhadap kalian, aku dapat merasakan kerinduan tersebut tapi sepertinya ada penghalang besar di dalamnya." Hero tampak menjeda ucapannya sambil melihat pigura Ayah dan ibunya.


"Paman, aku tidak bisa berbahasa Jepang dengan baik, Ibu belum sempat mengajarkan semuanya atau aku tidak bisa mengingat dengan baik." Tama bangkit dan merengkuh tubuh keponakannya itu, begitu juga dengan Hero.


"Mereka berhasil mendidik mu. Aku bangga akan hal itu." Keduanya berpelukan, masa lalu yang membelenggu dengan perasaan yang egois akhirnya berakhir. Hero tidak menyangka masih memiliki keluarga dari ibunya.


"Jadi, kapan undangannya? Aku tau semuanya."


"Tidak ada undangan, keluarga tidak membutuhkan itu bukan?" Hero terkekeh.


"Kau benar, Hana terlihat bahagia dengan kesederhanaan meskipun pertentangan pemikiran dari keluarga." Tama melihat wajah adiknya yang terpampang di foto atas meja Hero.


"Begitulah, tapi ibuku tidak melupakan keluarganya dan aku yakin begitupun sebaliknya."


"Kau sangat sukses sekarang, berdiri di atas kakimu tanpa bantuan siapapun. Aku yakin kau melalui banyak hal dan ini adalah balasannya. Ayah dan ibumu pasti bangga."


"Iya, aku sudah membuktikan pada ayah dan ibu." Saat keduanya tengah asyik berbincang, kedatangan seseorang menghentikan pembicaraan mereka.


"Aku belum memperkenalkan dia. Dia adalah Neeu Ashoru kepercayaan keluarga kami." Tama memperkenalkan Hero dengan sosok paruh baya yang Hero hafal wajahnya.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2