
Di kursi yang sederhana namun nyaman terlihat wajah Jill antara kesal dan senang. "Apa?" Tanya Jill di sela Hero menatapnya.
"Biar ku tebak, kau memikirkan hal yang lain tadi ya?" Tebak Hero membuat wajah Jill bersemu.
"Tidak! Mana ada! Kau ini, dasar." Jill memalingkan wajahnya. Meskipun harapannya harus pupus karena Hero tidak melakukan adegan seperti yang ia harapkan melainkan hanya membersihkan wajahnya dari kotoran burung kecil.
"Bilang saja, aku tidak akan marah." Hero masuk ke kamarnya dan mengganti pakaiannya meninggalkan Jill bersama sweety yang tengah curhat.
"Kau tau, ia itu tidak peka. Aku sangat heran padanya. Tapi, selama aku bisa dekat dan bersama dia, itu bukan masalah." Gumam Jill pada sweety yang memandangi wajah cantiknya.
"Aaaa!" Jill tiba-tiba saja berteriak saat kejadian seperti Dejavu kembali lagi. Hanya saja kali ini tubuh atas Hero saja yang ia lihat, tidak sampai bawah seperti sebelumnya.
"Ada apa?" Tanya Hero cepat.
"Itu, sweety mengigit ku dengan gemas. Jadi, aku kaget." Jawab Jill, mana mau ia mengaku mengenai perbuatan nya.
"Biar saja, ia pasti gemas denganmu." Jawab Hero.
"Ada berapa tadi ya?" Pikiran mesyumm itu datang lagi, seolah ada soal matematika yang harus ia ingat untuk mendapatkan jawabannya.
"Kau tidak minum?" Tanya Hero melihat minuman Jill yang masih penuh.
'Aku jadi lapar sekarang.'
"Jill!"
"Iya, aku lapar. Ya, lapar. Kau bagaimana?"
"Iya, sepertinya begitu. Aku buatkan mie spesial, kau tidak masalah dengan itu kan?"
"Tidak, lagipula aku belum mencobanya." Hero sungguh mendapatkan kejutan dari hidup tuan putri ini.
"Kalau begitu cobalah, kau akan merasa ketagihan." Hero berlalu diikuti oleh sweety ke dapur.
Jill mengikuti dari belakang, tak lama ia menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil melihat Hero yang tengah asyik memotong bahan serta berkerja dengan cepat memanjangkan Jill terpukau. "Selain menari diatas kanvas kau juga ahli masalah perdapuran."
"Ya, begitulah. Aku terbiasa dan ada kesenangan sendiri di dalamnya serta kenangan nya juga." Jill mendengar dengan seksama ucapan Hero.
"Mau ku bantu? Meskipun aku tidak bisa semuanya atau membuat nya menjadi lezat setidaknya aku bisa melakukan sesuatu chef?" Hero mempersilahkan Jill mendekat dan ia memberikan sebuah wortel untuk Jill potong.
"Bisa kan? Tuan putri?"
"Tentu saja." Jill menggerakkan tangannya mengikuti pisau tentunya dengan sangat amatiran membuat Hero terkekeh.
__ADS_1
"Aaa!" Jill terkejut saat merasakan tangannya dilapisi tangan Hero dan pisau itu menari di sepasang tangan berbeda itu. Perasaan Jill menjadi tak karuan, sedangkan Hero terlihat fokus.
"Sudah, boleh juga tuan putri." Hero mengedipkan matanya sebelah membuat Jill tersenyum kecil.
"Lumayan, ada sensasi tersendiri." Jawab Jill namun Hero tengah meletakkan wajan di kompor dan menuangkan minyak ke sana dan tak lama Jill mendekat dan menyodorkan sepiring bawang.
"Terima kasih." Bawang itu mandi bersama minyak dan tak lama mengeluarkan aroma yang wangi, Hero begitu lincah dalam memasak dan dengan perlahan Jill mengeluarkan ponselnya lalu merekam Hero.
Sweety tampak mendekat dan Hero tak merasa terganggu akan itu, membuat senyum Jill semakin terkembang. "Sangat indah." Gumam Jill membuat Hero tersadar.
"Apa?" Tanya Hero.
"Sangat harum." Dan Hero hanya mengangguk setuju.
"Duduklah, sebentar lagi selesai." Namun Jill tidak pergi, ia ingin melihat hingga selesai aksi Hero memasak.
Sekarang dua porsi mie telah tersaji, terlihat begitu menggiurkan dan harum. Jill terlihat begitu antusias dan Hero hanya tersenyum karena tingkahnya. "Ini, cobalah Tuan putri." Jill tanpa ragu mencobanya dan ia menggoyangkan kepalanya ke kanan dan kiri sebagai tanda menikmati.
"Dasar wanita." Hero ikut menyuapkan mie itu ke dalamnya mulutnya, tidak ada pembicaraan selain adu sendok dan juga pandangan Jill yang terlihat begitu mengagumi Hero.
"Kau terbiasa melakukan ini juga?" Tanya Jill.
"Iya, saat kita melakukan sesuatu maka semuanya harus selesai jangan setengah-setengah. Ibu ku yang mengatakannya, setelah masak dan makan, piring langsung dicuci jangan ditumpuk." Ujar Hero sambil mematikan kran air.
"Setiap ibu begitu bukan? Mommy mu juga? Hanya beberapa perbedaan saja." Jawab Hero.
"Benar, jadi kau menginginkan istri yang bisa melakukan pekerjaan rumah seperti ini?" Tanya Jill penasaran.
"Jika ia bisa aku bersyukur, jika tidak. Tidak masalah, seorang istri tidak harus bisa semuanya atau meminta mereka melakukan semua itu dan ini. Seorang suami harus membantu istrinya, pekerjaan dalam rumah tangga dijalankan bersama , dibantu bersama bukan hanya istri saja. Ia bukan pembantu yang bisa segala hal. Ayahku selalu membantu ibuku, tidak ada perintah di sana tapi kerjasama dan saling pengertian. Yang aku butuhkan adalah sikapnya bukan yang lain." Jill terpaku mendengar ucapan Hero.
"Keluarga mu hebat sekali, pantas saja kamu seperti ini." Hero mengelap tangannya dan melihat Jill yang memandang ke arah jendela.
"Kau tidak bersyukur?" Tanya Hero membuat Jill tersadar.
"Bukan, hanya saja Daddy ku tidak begitu." Balas Jill.
"Tapi Daddy mu sangat menyayangi mu, ia menyalurkan rasa cintanya dengan cara yang berbeda. Latar belakang serta pekerjaan Daddy mu tidak sama dengan ayahku atau orang lain, yang terpenting ia menyayangi mu dan tidak ada pertengkaran di keluarga mu bukan?"
"Iya."
"Kalau begitu bersyukurlah. Selagi adalah kedua orang tua mu, nikmatilah habiskan waktu bersama, meskipun kau akan menjawab Daddy mu sangat sibuk. Tapi, jika kau bicara, ia akan melakukannya."
"Aku senang bertemu denganmu." Tanpa ba-bi-bu be-bo Jill memeluk Hero membuat Hero terdiam dan tak lama membalasnya.
__ADS_1
"Ya. A-"
"Meow!" Aksi pelukan itu terhenti melihat sweety yang tengah kehausan mencoba menyalakan kran di wastafel.
"Dia haus." Keduanya tertawa karena sweety.
Hero mengeluarkan kuas dan kanvas nya, tentunya bukan kanvas kekayaan miliknya. Jill meminta lukisan mereka bertiga, membuat Hero menyanggupinya. "Kau bisa kan? Tuan pelukis? Anggap saja latihan sebelum besok."
"Tentu saja." Hero mulai menjalankan kuasnya dan Jill duduk manis bersama sweety yang tengah dilukis oleh Hero.
Mata itu mengejap melihat hasil lukisan yang telah jadi. "Bagaimana? Tidak bisa berkata-kata kan?"
"Indah sekali, seperti nyata. Terima kasih banyak."
"Tidak perlu berterima kasih. Aku senang melakukannya." Jawab Hero sambil memberikan lukisan itu pada Jill.
"Aku harus pulang." Ujar Jill sambutan melirik jam.
"Iya, nanti kemalaman. Mau ku awasi?" Tawar Hero.
"Tidak perlu. Jalanan masih begitu ramai, masih jam 8."
"Kabari aku, jika sudah sampai."
"Baiklah. Aku pergi." Hero mengantar Jill hingga ke depan dan setelah Jill pergi para tetangga terlihat bergosip yang membuat Hero terdiam.
"Nikahi saja, pacaran terus." Setelah mengatakan itu sepasang ibu-ibu itu berlalu dan membuat Hero kesal ingin bicara.
"Nikahi apa? Aku tak melakukan apapun padanya. Gosip terus!" Hero langsung masuk dan menutup pintunya segera. Saat ia kembali ke kamarnya terlihat sistem kuas dan kanvas nya memberikan informasi.
"Pembangunan hampir 80%." Itulah tulisan yang tertera membuat senyum Hero terkembang.
"Usaha pertama ku, akan membuat ledakan nanti. Aku harus mencari sosok yang bisa diajak kerjasama nantinya atau melihat kemampuan musuh juga. H Art company akan segera rilis."
"Astaga! Aku lupa, besok melukis dan datang ke kediaman orang itu. Aku penasaran apa lukisan nya?" Hero bertanya tanya sambil bermain game di sistem kuas dan kanvas nya dan tentunya mendapatkan hadiah yang menambah kekayaan dirinya.
"Selamat! Tuan mendapatkan hadiah uang sebesar 100 juta."
"Pengangguran mana yang mendapatkan uang seperti ku, hanya dengan menari di atas kanvas. Hahahaha."
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1