Sistem Kuas Dan Kanvas

Sistem Kuas Dan Kanvas
Sinar di Tengah Keromantisan


__ADS_3

Jill langsung menuju rumah Hero dengan mobilnya. Terlihat wajah sumringah terus terlihat di sana, sambil bersenandung Jill mengikuti lagu kesukaannya serta sesuai dengan perasaannya. "Aku tidak sabar rasanya!" Ujar Jill sambil terus merapikan rambut hitam legamnya.


Perjalanan yang lumayan itu, membuat semuanya tidak terasa karena perasaan yang bahagia. Saat sampai di sana, Jill langsung turun dan ketika melangkah ia terpaku dengan pemandangan dihadapannya. "Hero?"


Sedangkan Hero yang tengah asyik dengan aktivitas nya langsung melihat ke arah halaman kediamannya yang ternyata sudah didatangi oleh tuan putri itu. "Jill? Kapan kau datang?" Tanya Hero sambil meletakkan kardus di kursi.


"Baru saja, ini .... Apa?"


"Hmm?"


"Maksudnya apa yang kau lakukan?" Ulang Jill pada Hero seraya melangkah mendekat.


"Aku hanya membereskan barang-barang ku." Jawab Hero apa adanya.


"Kau mau pindah?" Tanya Jill dengan tatapan menyelidik.


"Kenapa berpikir begitu?" Tanya Hero.


"Jawab saja iya atau tidak!" Jill tidak suka pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan dan Hero yang menyadari langsung mengajak Jill duduk.


"Minum dulu, dengar aku hanya membereskan barang-barang ku saja. Tidak bermaksud pindah, kalaupun iya apa pengaruhnya untukmu?" Ujar Hero.


"Tentu saja ada pengaruhnya, aku harus selalu tau kau tinggal di mana. Karena kau memiliki hutang padaku, jadi aku harus tau tempat mu setiap saat!" Hero bukannya kesal ia justru terkekeh dengan Jill berserta mimik wajah yang begitu menggemaskan itu.


"Oh jadi tuan putri ini menagih janji ku rupanya. Wajah ini begitu menggemaskan sekali!" Amarah Jill langsung berubah dengan merah kali karena perlakuan Hero padanya, sedangkan sang pelaku tidak merasa apa-apa.


"Kenapa memerah?" Goda Hero.


"Ishhh! Sudah sekarang aku mau menagih janjiku." Ujar Jill yang tentunya Hero langsung paham.

__ADS_1


"Baiklah, katakan Tuan putri." Hero menjadikan kedua tangannya sebagai penumpu untuk wajahnya sehingga membuat Hero terlihat antusias dan memandangi lekat Jill.


"Aku mau ..... Kita pergi mengelilingi kota. Seharian! Tidak ada ponsel atau apapun." Akhirnya Jill mengeluarkan permintaannya.


"Baiklah tuan putri, permintaan mu dikabulkan. Tapi sekarang, aku harus berpakaian yang benar dulu untuk berdampingan dengan tuan putri ini." Hero berujar seraya menaik turunkan tangannya seolah memindai penampilannya kepada Jill.


"Ok, cepat ya. Aku tunggu di sini." Jill menunggu di teras seraya membicarakan Hero bersiap-siap.


"Aku merasa dunia terbalik, biasanya para pria yang menunggu wanitanya untuk bersiap-siap. Dan yang terjadi padaku justru kebalikannya aku yang menunggu sedangkan sang prianya bersiap-siap." Jill mengeluarkan ponselnya seraya mengetikkan sesuatu yang tertuju pada Mommy nya.


"Selesai! Sekarang waktu seharian bersama Hero!" Sungguh Jill begitu senang, walaupun ia belum mendengar apa yang Hero rasakan, tapi menghabiskan waktu bersama Hero pria yang memiliki magnet yang menarik dirinya sungguh serasa mendapatkan jackpot besar.


Sekarang ke dalam kamar Hero yang dihiasi oleh sistem kekayaannya yang berukuran sedikit mengecil. Hero menyisir rambutnya setelah memakai gel rambut. "Menghabiskan waktu bersama seharian, sungguh aku tidak mengerti pemikiran tuan putri itu. Yang jelas, aku menepati janjiku dan siapa yang tau aku akan menemukan sesuatu untuk sistem kekayaan ku." Setelah merasa cukup, Hero segera beranjak dari cerminnya dan beberapa saat ia menatap sistem kuas dan kanvas yang menampilkan berbagai macam tulisan terutama tulisan tidak ada misi selama 24 Jan kedepan.


"Baiklah, kalian tenanglah di sini aku akan mencari makanan kalian." Setelah melakukan adegan seolah ia akan meninggalkan anaknya sendirian di rumah yang kosong.


Hero menutup pintunya dan langsung menuju ke tempat Jill. Jill yang merasa kedatangan sosok Hero langsung melihat dan terkesima dengan penampilan Hero saat ini. "Apa aku begitu tampan? Hingga tuan putri tidak bisa berkata-kata." Ujar Hero dan membuat Jill tersadar.


"Kalau begitu, ayo kita pergi Tuan putri." Jill tanpa ragu langsung menggandeng tangan Hero yang disambut dengan baik oleh Hero. Keduanya langsung melangkah ke tempat mobil Jill, tapi tiba-tiba Hero menghentikan langkahnya dan membuat Jill kebingungan.


"Ada apa?" Tanya Jill.


"Naik mobil mu?" Tanya Hero pada Jill.


"Lalu, naik mobil mu begitu? Atau motor mu?" Tanya Jill balik.


"Kalau kau tidak keberatan tidak masalah. Kita ...."


"Gunakan motor saja. Aku tidak mau mobil unlimited itu membuat semua orang dibuat menatap mu nanti."

__ADS_1


"Kalau dengan motor kau tidak takut panas?" Tanya Hero yang tentunya mengetahui bagaimana kehidupan Jill, ia tentu memikirkan Jill yang tidak terbiasa dengan motor, seorang tuan putri pastinya terbiasa dengan mobil.


"Yakin? Nantinya kulit mu terbakar oleh matahari." Ujar Hero.


"Aku tidak masalah, aku memakai sunscreen yang terbaik dan akan selalu menjaga wajahku serta kulitku dari pancaran sinar matahari." Balas Jill seperti artis yang mengiklankan produk kecantikan.


"Baiklah, kita menggunakan motor saja. Tuan putri sepertimu akan merasakan sensasi yang berbeda nanti." Jill langsung naik ke atas motor dan Hero langsung melajukan motornya membelah jalanan kota.


Jill merasa angin menerpa wajah serta rambutnya, ia merasakan sesuatu yang berbeda dan juga Hero yang melajukan motor menyalip serta membawanya ke jalan yang belum pernah ia lewati.


"Ini sangat menarik dan luar biasa!" Ujar Jill membuat Hero tersenyum mendengar ungkapan sang tuan putri.


"Aku mau ke sana!" Tiba-tiba saja Jill menepuk pundak Hero bak tukang ojek yang membuat Hero menghentikan laju motornya dan manik Hero menatap ke penjual es krim yang sejak tadi membuat mata Jill berbinar.


"Es krim?"


"Iya, ayo kita makan es krim!" Hero hanya mengikat Jill setelah memarkirkan kendaraannya.


Jill berjalan dengan langkah bahagia seperti anak-anak yang mendapatkan izin orang tuanya untuk makan eskrim. "Pak, aku ingin eskrim rasa vanilla ya. Dan ..."


"Strawberry!" Ucap Hero dan keduanya lalu menikmati eskrim di bangku taman. Hero sesekali memandangi Jill yang terlihat begitu antusias.


"Kau tidak pernah seperti ini ya?" Tanya Hero membuat Jill masih say memakan es krim nya.


"Tidak, apa begitu terlihat? Karena itu aku sangat bahagia. Kau tau, sejak kecil aku selalu berada di tempat yang diatur oleh Daddy ku. Dari sekolah, liburan dan apapun itu. Karena itu aku sangat senang merasakan hal ini, bebas seperti orang biasa." Jill bercerita sambil matanya berkaca-kaca. Hero lalu mendekap pundak Jill membuat tubuh Jill tersentak.


"Kalau begitu, sekarang nikmatilah. Dan aku akan menunjukkan betapa menyenangkannya ini." Jill sedih lebih mendekat dan keduanya menjadi dekat satu sama lain, hanya pelukan yang menenangkan.


Saat adegan bak film romantis itu manik Hero menuju jarinya yang di mana cincin giok miliknya bersinar.

__ADS_1


Bersambung .....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2