
Melihat Hero yang belum melaju ditambah dengan suara klakson pengendara lain yang tidak sabaran membuat jantung Jill terkejut dan sontak ia memukul pundak Hero. "Ah, ya." Hero melaju sebelum suasana semakin riuh. Menyadari ada sesuatu, Jill bertanya.
"Memikirkan apa? Apa kau melihat sesuatu di lampu merah tadi?" Tanya Jill.
"Kalau aku katakan, kau tidak masalah?" Balas Hero membuat Jill terdiam sejenak dan tak lama mengangguk setuju diikuti suatu imut bola berbulu.
"Tak apa. Jadi, apa itu?"
"Kita ke sana." Jill menengok ke mana motor membawa dirinya, terlihat Hero kembali memutar arah dan ternyata ia berhenti di sebuah toko bercat hijau tua dengan genteng tanah liat serta vas keramik dan beberapa bunga yang menjuntai disekitar langit-langit.
"Toko antik?" Ujar Jill menata papan di atas genteng.
"Iya, ayo." Ajak Hero, sempat ada keraguan dalam dirinya yang membuat Hero sadar.
"Atau, ku antarkan pulang dulu?" Hero melihat ada kecemasan dalam diri Jill mungkin karena suasana serta penampakan toko antik ini.
"Tidak, ada kau kan. Aku tidak perlu cemas." Jill menggandeng tangan Hero yang membuat Hero sukarela membiarkan nya ditambah dengan tangan sebelahnya yang menggendong bola berbulu itu.
Dua pasang kaki itu mulai memasuki toko, di mana terdengar bunyi bel yang membuat sosok di dalamnya tersadar ada sosok lain yang baru saja masuk. "Selamat datang, mau cari apa? Atau hanya ingin melihat-lihat, boleh saja." Jill mencoba menatap sosok yang baru saja bicara begitu juga dengan Hero yang ternyata terlihat sosok tua dengan karakteristik Chinese.
"Kami mau melihat dulu Paman." Jawab Hero yang merasakan genggaman Jill cukup erat.
"Silahkan, semoga ada yang menarik." Balasnya dengan senyuman yang membuat matanya semakin hilang.
__ADS_1
Hero melangkah masuk melihat berbagai rak tas diisi barang-barang antik mulai dari perhiasan, perobatan atau sekedar hiasan.
"Ada kalung violet!" Ujar Jill sambil menunjuk ke arah salah satu rak.
"Kau mau?" Tanya Hero yang membuat Jill mengangguk.
"Biar saya saja." Kedua langsung terkejut saat sosok pemilik sudah berada di belakang mereka. Mereka jadi bertanya, kapan ia melangkah.
"Iya." Hanya itu yang dapat Hero katakan demikian keadaan ini. Tangan yang mulai menua itu mengambil kalung yang Jill maksud dan memberikannya pada Jill.
"Ini Nona." Jill menerima dengan pelan dan bersujud menetralkan rasa cemasnya.
"Terima kasih." Merasa calon pembelinya tidak nyaman, pria tua itu berlalu ke tempatnya semula.
"Iya, aku tau Tuan pelukis." Hero memalingkan wajahnya dari Jill serta kalung violet, ia harus mencari sesuatu yang membuat ia dibawa kemari. Sesekali ia melirik cincinnya yang belum bercahaya lagi.
"Jill, aku ke sana ya. Kau tunggu di sini saja, duduk saja di situ. Aku hanya ke sana." Ujar Hero yang membuat Jill patuh saja. Mungkin karena merasa tidak ada ancaman atau perlindungan Hero yang ia yakini serta ada bola berbulu yang berada bersamanya.
Hero menuju rak hiasan serta perlengkapan dapur dan seni. Ia melirik beberapa barang dan juga melewati rak, tapi belum melihat kembali sinar yang cincinnya. "Hei, ayolah! Aku sudah seperti orang bodoh yang berkeliaran tidak jelas." Gerutu Hero.
Saat ia melewati sebuah rak kecil dengan cermin yang cukup besar ia melihat cincinnya kembali bersinar terang dan mengarah pada rak kecil itu. "Rak ini." Hero melihat dengan seksama isi dalam rak iya tapi tak begitu terlihat karya gelap. Saat terus mencintai mendekat dan sesekali tangannya membuka, tapi tak berhasil malahan ia dikejutkan dengan suara dibelakangnya.
"Maaf, bagian ini tidak dijual!" Hero menoleh dan melihat sosok pemilik yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Rak ini?" Tanya Hero memastikan.
"Iya, apa Tuan tidak membaca? Ini bagian privasi ku, batasnya hanya sampai itu." Jelasnya yang membuat Hero segera menoleh dan baru membacanya.
"Maaf, aku tidak tahu karena asyik melihat." Jawab Hero.
"Tak apa, jadi ada yang menarik?" Tanyanya membuat Hero dilema.
'Bagaimana ini? Aku tidak mungkin mencuri nya bukan? Aku bisa terkena masalah nanti. Apa aku tanya saja? Atau melakukan transaksi atau kesepakatan? Tapi apa?' Begitu banyak pertanyaan di benaknya saat ini.
"Halo!"
"Hero, sudah?" Sekarang Jill yang ikut nimbrung membuat Heri makin bingung.
"Yang ini saja." Hero hanya bisa mengucapkan itu karena otaknya sudah buntu.
"Mari." Saat akan ada transaksi pembayaran, mereka semua dikejutkan dengan kedatangan para pria berpenampilan menyeramkan yang masuk hingga pintu berbunyi keras membuat Jill ketakutan.
"Apa yang terjadi?"
Bersambung .....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1