Sistem Kuas Dan Kanvas

Sistem Kuas Dan Kanvas
Jebakan


__ADS_3

Hero berusaha mengatakan selamat pagi dengan bahasa Jepang yang membuat sosok itu berhenti menatap dirinya dan membalas. "Tidak perlu berbahasa Jepang, aku mengerti bahasa mu." Balasnya membuat Hero menggangguk.


"Big T tengah ada pekerjaan. Kau bisa tunggu di sini, sekitar lima belas menit. Tidak masalah bukan?"


"Tentu saja." Hero duduk kembali seraya berpikir apa yang akan terjadi, sedangkan pria tadi langsung pergi ke belakang yang tidak diketahui Hero. Saat asyik melirik ponselnya tanpa ia sadari ada tatapan mata yang tengah memperhatikannya.


Seiring Hero asyik dengan ponselnya maka mata itu juga asyik melihatnya. Tak lama Big T datang membuat Hero segera memberikan basa-basi nya. "Kau suka menunggunya?" Tanya Big T.


"Aku menikmati dekorasi nya, sangat indah dan menarik." Balas Hero seraya Big T mendudukkan bokongnya di sofa lembut itu.


"Kau tepat waktu, aku suka. Bukan berarti kau lupa tugasmu di sini."


"Aku mengingatnya."


"Bagus." Tak lama terdengar suara tepukan tangan yang ternyata seorang pelayan yang tengah membawa kanvas serta kuas dan alat untuk melukis.


"Ini adalah tempat kau melukis. Ambillah, aku akan mengatakan apa yang akan kamu lukis. Dengar! Aku hanya mengatakan sekali, dan kau harus mengingat nya dengan baik. Aku tidak suka mengulang, kalau kau gagal, kau dan juga pria tua itu dapat akibatnya. Mengerti?"


"Baik, aku mengerti." Hero mengambil kuas dan bersiap untuk melukis.


"Di sebuah tanah yang tinggi, subur dan juga luas yang diisi oleh 2 pohon sakura tak lama seiiring waktu, tumbuh satu pohon sakura kecil yang tak lama beberapa tahun kemudian tumbuh lagi satu pohon yang membuat tanah itu dihiasi warna dan kebahagiaan siapapun yang melihatnya. Tapi sebuah badai, membuat keguncangan di tanah itu, hingga sebuah burung kecil yang tidak tau darimana ia berasal hingga di sana dan mengakibatkan pohon yang terakhir tumbuh itu mati. Tidak tau apa yang diperbuat olehnya, kesuburan tanah di sana menjadi terganggu begitu juga dengan pohon yang hidup di sana. Beberapa waktu kemudian, terlihat dua pohon pertama mati, hanya satu pohon yang hidup. Pohon itu berjuang sendiri di tengah kesendirian dan juga badai."


Sesaat terdengar helaan napas dan saat bersamaan Hero dibuat kebingungan dengan cerita Big T. 'Aku rasa ini yang dimaksud oleh pemilik toko, sungguh membingungkan. Tapi, aku tidak boleh menyerah!'


"Bingung?" Terdengar nada remeh di sana saat melihat raut wajah Hero.


"Tidak, aku menunggu lanjutannya." Jawab Hero.

__ADS_1


"Tak lama, setelah sekian lama dari kesendirian. Burung yang pernah datang itu datang lagi, tapi dengan sebuah burung kecil di sampingnya dan satu burung lagi bewarna pink seperti kelopak bunga sakura. Dan ceritanya selesai, aku ingin kau melukis nya dari dari awal ku bercerita hingga akhir cerita dalam satu waktu dan tempat!" Big T bangkit dari sofa nya dan Hero terdiam seraya mencerna cerita itu. Saat ia asyik dengan pemikirannya, terdengar suara klik dan Hero terkejut saat melihat jendela dan pintu yang mengelilinginya menutup otomatis diiringi suara Big T.


"Aku berikan waktu satu hari, kau bisa makan dan minum juga. Aku akan melihatnya lusa, selamat bekerja!" Big T menghilang bersamaan dengan suaranya meninggalkan Hero sendiri.


"Gila! Apa maksudnya? Aku tidak mengerti? Apa ini jebakan?" Hero menjadi menyesal dan bingung bersamaan.


"Tidak! Aku tidak boleh menyerah! Ingat, apa yang ibu katakan. Jika sudah mengambil suatu pilihan, maka kita harus menyelesaikannya, tidak ada hal yang berada di batas kemampuan kita. Ya, itu dia. Sekarang berpikirlah Hero, tenang dan berpikirlah. Aku yakin itu seperti sebuah kiasan dan aku harus paham maksudnya." Sunyi, sepi dan tenang bercampur menjadi satu, Hero mengambil napas panjangnya dan masih belum membuahkan apapun bahkan garis pun belum.


Karena kesunyian ini, pikirannya seolah kembali ke masa lalu, di mana setelah pulang sekolah ia suka sekali duduk di halaman rumahnya yang rindang dan melihat burung yang berkicau di sana. "Lihat apa Hero?" Terdengar suara lembut yang membuat Hero tersenyum senang.


"Ibu, aku melihat burung Pipit yang tengah terbang dan membawa beberapa daun atau ranting ke pohon yang tinggi."


"Begini rupanya, kenapa kau senang sekali melihatnya?" Tanya ibunya.


"Entahlah, saat melihat burung Pipit itu aku teringat akan Ayah, ayah kan pekerja keras dan juga pernah membawa kayu, seng dan yang lainnya untuk membangun rumah kita ini." Ujar Hero membuat senyum ibunya terkembang.


"Lalu, ibu siapa?" Hero terdiam sejenak dan tak lama menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Pohonnya atau burung yang satunya?" Tebak Hero ibunya tidak menyalahkan atau membenarkan tapi menjelaskan.


"Sebuah keluarga seperti pohon besar itu, tapi seiring waktu ia memiliki dahan dan ranting yang baru itu seperti anak-anak nya dan burung Pipit itu seperti orang lain yang datang hinggap lalu menemukan sesuatu lalu membangun sarang bersama. Jika pohon itu tidak memenuhi syarat untuk mereka, maka?"


"Burungnya akan pergi membawa keluarga nya mencari pohon yang baru."


"Benar, terkadang hidup tidak sejalan dengan yang kita inginkan. Jadi, kita harus menyelesaikannya sendiri atau bersama."


Hero tersadar dan ternyata jam menunjukkan pukul tengah malam. "Aku tertidur ternyata, lukisannya belum jadi." Hero tampak mengumpulkan kesadarannya dan cahaya lampu yang tengah menyinari sebuah pigura membuat Hero tersenyum.

__ADS_1


"Itu artinya, keluarga Big T." Hero langsung menarikan tangannya bersama kuas dan bekerja di tengah kesunyian malam itu.


Di sisi lain, terlihat Big T yang masih belum terlelap menatap pigura kecil di sana, terlihat dua anak laki-laki dan perempuan.


"Butuh sesuatu T?"


"Tidak, ada apa kemari?" Tanya Big T pada pria yang seusia ayahnya itu.


"Hanya sedikit bertanya, jika berkenaan menjawab." Big T tampak menaikkan alisnya.


"Silahkan, mengenai apa?"


"Pemuda itu, yang tengah melukis." Ujarnya membuat Big T terkekeh.


"Melukis? Aku yakin, ia akan menangis esok hari karena gagal."


"Anggap saja begitu, jadi dari mana dia?"


"Tentu saja pria dari negara ini, dan pastinya tidak penting, seperti seekor serangga kecil yang melewati ku dan harus ku atasi. Kenapa memangnya Paman?" Big T menjadi penasaran dengan pertanyaan pria ini.


"Tidak ada, hanya saja nyalinya yang besar membuat ku penasaran."


"Hmmmm, aku ingin tidur. Paman boleh keluar."


"Baik." Setelah pintu itu tertutup, Big T menutup matanya dengan lampu yang menyala sedangkan pria yang dipanggil Paman itu tampak berpikir keras.


"Apa aku salah?" Ujarnya di tengah kesunyian malam.

__ADS_1


Bersambung .....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2