
Hero secepat kilat datang dengan bantuan sistem kuas dan kanvas miliknya. Bak Rapunzel di negeri dongeng ia langsung tiba di kediaman Jill. Betapa kagetnya Hero saat melihat kediaman mewah Jill sudah dipenuhi oleh polisi. "Apa yang terjadi?" Gumamnya sambil mendekati seorang polisi.
"Maaf ada apa ini?" Tanya Hero.
"Keluarga itu mengalami pembantaian. Kami sudah menangkap satu orang pelaku dan dua lainnya kabur."
"Lalu bagaimana dengan korban? Ada yang selamat kan?" Tanya Hero tidak sabaran.
"Ada dari beberapa korban ada seorang wanita ia ditemukan di lemari tubuhnya lemah karena kekurangan oksigen dan sudah dibawa ke rumah sakit kenanga." Tanpa lama, Hero segera meluncur ke sana, ia yakin itu adalah Jill. Saat sampai di sana ia langsung bertanya pada perawat dan langsung dibawah ke kamar yang ditempati korban.
Saat pintu terbuka, Hero merasa lega itu adalah Jill, terlihat ada luka di beberapa bagian tubuhnya dan juga wajahnya terlihat lebam dan sayatan di tangannya.
"Pasien baru saja diberikan obat tidur, jadi jangan menganggu pasien." Ujar perawat tersebut dengan pelan dan diangguki oleh Hero.
Ia mengambil kursi yang berada di belakangnya dan duduk untuk menempati Jill. "Apa yang terjadi? Padahal baru kemarin akan mengantarmu dan semuanya baik-baik saja." Begitu banyak tanya di benaknya saat ini.
Sambil menemani Jill, Hero menghubungi seseorang. " Yan, selidiki kejadian yang menimpa kediaman Axton, dan segera!"
"Baik Tuan." Panggilan terputus, Hero yakin kediaman Axton yang memiliki penjagaan yang ketat tidak mungkin semudah itu ditaklukan dan menyebabkan kematian bahkan Jill terlihat menyedihkan.
"Aku akan menemani mu. Cepatlah sadar, kita akan menikah." Hero menggenggam tangan Jill yang terpasang infus.
Keesokan harinya, Hero terbangun karena mendengar suara histeris sosok yang ia kenali. "Pergi! Jangan mendekat! Jangan! Pergi!" Terlalu beberapa perawat Berisha menenangkan Jill yang histeris.
"Jill!" Hero mendekati Jill, mendengar suara yang ia kenal, Jill langsung mengangkat wajahnya dan melihat sosok dihadapannya.
"Hero....
"Ya, ini aku.....
__ADS_1
"Ak-u ta- kut! Me.... Mereka membawa pisau dan.... Jill tergagap menjelaskan sambil terisak. Hero langsung memeluk dan menenangkan Jill.
"Tenanglah, mereka tidak ada. Ada aku di sini, tenanglah." Jill memeluk erat tubuh Hero merasa Jill sudah sedikit tenang memberi kos pada perawat untuk meninggalkan mereka.
"Jangan tinggalkan aku....
"Tidak akan." Sekarang kaos yang dipakai oleh Hero sudah basah karena air mata ketakutan Jill.
Setelah melihat Jill kembali tertidur, Hero mendapat pesan dan Yan sesuai yang ia minta. Pintu terbuka dan memperlihatkan Yan dengan setelan Hitam memberikan hormat dan menyerahkan dokumen di tangannya.
"Ada penghianat di kediaman Nona Jill. Seorang pelayan yang bekerja sama dengannya keluarga Lim tunangan nona Jill. Datang investigasi diketahui bahwa keluarga Lim ingin menguasai semua aset kekayaan keluarga Axton yang tidak disetujui dan hal itu menjadi awal kejadian. Kemungkinan Nona Jill berada di kamar saat kejadian." Jelas Yan sambil memberikan foto dari investasi dan dokumen serta rekaman.
"Dan seperti yang tuan lihat, sepertinya karena mengira semuanya aman pelaku tidak melihat kamera tersembunyi dan itulah yang menjadi bukti yang kuat. Ayah Lim berhasil ditangkapnya tapi Lim dan rekannya belum."
"Cari mereka. Aku yakin mereka tidak akan tinggal diam."
"Baik Tuan." Dengan kekayaan dan kekuasaan Hero sekarang, apapun bisa ia dapatkan secepat mungkin.
"Terima kasih banyak, dan perketat juga penjagaan di kediaman ku."
"Baik Tuan." Setelah Yan pergi, Hero segera mandi di kamar VVIP Jill. Baru saja pintu terbuka Hero melihat Jill yang duduk terdiam menatap dinding putih.
"Mau sesuatu? Haus?" Tawar Hero yang membuat Jill merespon.
"Hmmmm." Hero memberikan segelas air dan Jill menghabiskan dalam sekali teguk.
"Ada cumi asin dan kangkung. Kesukaan mu, ayo makan dulu. Aku suapi?"
"Apa Daddy dan Mommy sudah dimakamkan?" Hero terdiam.
__ADS_1
"Tidak perlu menyembunyikan apapun, aku tau. Aku di sana, dan mendengar semuanya, tembakan, teriakan dan....
"Sudah. Jangan lanjutkan! Aku menunggumu, kau yang berhak bukan?" Hero segera memberikan pelukan penenang untuk Jill.
"Setelah kau sembuh, kita akan memakamkan orang tua mu."
"Aku tidak punya siapa-siapa sekarang, aku sendiri."
"Tidak, ada aku. Ingat? Aku akan menikahi mu."
"Karena kasihan?"
"Kenapa berpikir begitu? Apa kau meragukannya?"
"Entahlah, aku tidak tau."
"Bukan kasihan tapi.....
"Tidak perlu dilanjutkan. Aku sudah tau, aku ingin makan supaya cepat sembuh. Kasian Daddy dan Mommy." Jill tersenyum kecil tapi Hero tau ada begitu banyak luka di sana.
"Buka mulutnya." Sudah dua hari Jill dirawat dan ia sudah semakin membaik. Dokter mengatakan tubuh Jill sudah membaik tapi kemungkinan ada trauma yang dialami oleh Jill dan disarankannya menemui psikolog.
"Baiklah, rapat kita akhiri. Sebulan kemudian, kita mulai pembangunan." Hero baru saja menyelesaikan rapat nya, dibalik itu ada sepasang mata Jill yang memperhatikan.
"Ingin mengatakan sesuatu?" Hero tau Jill memperhatikan dirinya.
"Aku ingin pulang."
"Baiklah." Setelah membereskan barang-barang dari rumah sakit. Hero membawa Jill dengan mobilnya, sepanjang perjalanan tidak ada percakapan. Tak lama keduanya sampai dan merupakan langsung disambut dengan orang-orang berpakaian hitam dan rangkaian bunga serta dua peti.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.