Sistem Kuas Dan Kanvas

Sistem Kuas Dan Kanvas
Istana Jill


__ADS_3

Dari tangga berdesain melingkar itu langsung terdengar suara langkah kaki yang keras dan begitu bergemuruh, membuat penghuni istana itu langsung menoleh bersamaan, gaun navy itu terlihat menjuntai mengekori pemiliknya. Wajah sumringah itu terus terlihat hingga di depan pintu silver itu yang akhirnya berhadapan dengan sosok tampan dengan tuxedo nya.


"Hah!" Wajah cantik itu terlihat mengambil napas setelah berlarian dari kamarnya.


"Belum pergi sudah berkeringat, kau mengelilingi istana ini Tuan putri?" Pertanyaan itu keluar membuat ia langsung menggeleng.


"Jangankan istana, aku ini atlet maraton tau! Kenapa baru datang? Tidakkah kau tau aku sudah ....."


"Siapa Jill?" Ucapan Jill terhenti saat mendengar suara bass Daddy nya.


"Sekarang, ayo kita lihat aksimu tuan pelukis!" Hero hanya diam di depan pintu sambil menunggu sosok Daddy Jill yang akan berhadapan dengannya.


"Siapa dia? Apakah ia ...." Ucapan pria paruh baya berdarah Eropa itu dengan tatapan yang seksama pada Hero, sedangkan yang ditatap terlihat tenang.


"Selamat malam Tuan." Sapa Hero dengan tenang tak lupa senyum memikatnya. Namun tetap saja Daddy Jill masih belum bergeming dari posisinya begitu juga dengan matanya.


"Daddy! Ayo katakan sesuatu." Ujar Jill yang menjadi takut akan diamnya sang Daddy.


"Tuan? Apa kau datang untuk menjadi pelayan atau bertamu?" Hero terdiam akan lontaran pertanyaan itu.


"Istana sebesar ini, tentunya tidak ada apa-apa dengan saya. Jika panggilan Tuan menjadi masalah, haruskah saya memanggil Daddy juga?" Tampak Daddy Jill tersenyum sangat kecil.


"Minta ia pulang saja, jika tetap di sana!" Jill terperangah mendengar ucapan Daddy nya yang meminta Hero masuk.


"Bagaimana? Kagum?" Tanya Hero di sebelah Jill yang masih termangu, dapat Hero cium aroma parfum lembut dari tubuh Jill.


"Jangan senang dulu, mungkin pertunjukan yang sebenarnya ada di dalam tuan besar pelukis?" Hero hanya terkekeh lalu melangkahkan kakinya menuju istana Jill yang bergaya Eropa itu. Jill pun ikut masuk melihat apa yang akan terjadi setelahnya.


"Jadi, kau ingin mengajak putriku ke pesta?"


"Bukan mengajak lebih tepatnya menemani." Jill mengeluarkan tatapan mautnya karena ucapan Hero. Sebelum Axton membalas ucapan Hero ia melirik putrinya yang terlihat sedikit kacau akibat adegan larinya.


"Jill, perbaiki riasan mu dulu." Jill langsung menyentuh rambutnya dan sedikit berantakan dan mengangguk kecil dengan mata yang memberikan kode pada Hero sedangkan yang diberi kode hanya diam.

__ADS_1


"Baik Daddy." Jill kembali menaiki tangga menuju kamarnya dan setelah memastikan suara langkah kaki itu tidak terdengar lagi, pembicaraan kembali berlanjut.


"Menemani? Kalau begitu kau pastinya mendapatkan undangan?" Tanya Axton Daddy Jill bermanik biru itu.


"Maksudnya ini?" Hero mengeluarkan undangan bewarna gold itu yang terlihat berkilau terkena cahaya istana itu.


"Kau dari keluarga mana?" Tanya Axton lagi. Karena jujur saja, undangan itu tidak sembarangan dapat didapat hanya kalangan tertentu saja.


Jill terduduk sambil berpikir apa yang terjadi di bawah sana, meskipun ia tengah dirias dibantu oleh pelayannya pikirannya saat ini berada di bawah. " Apa yang akan ditanyakan Daddy nantinya? Apalagi Hero menjawab seperti itu! Huh!" Pelayan yang melihat Tuan putrinya seperti itu hanya menggeleng kecil dan tentunya terlihat oleh Jill.


"Kenapa? Apa yang lucu?" Tanya Jill dengan bibir mengerucut.


"Tidak ada nona, tapi wajah Nona jadi menggemaskan." Jawabnya membuat Jill langsung melihat ke cermin.


"Hah! Bagaimana nanti?"


"Nona tenang saja, saya yakin semuanya akan baik-baik saja."


"Kenapa kau bisa berkata begitu?" Tanya Jill menyelidik.


"Kau panggil siapa?" Pelayan itu menyadari kesalahannya menyebut Hero yang membuat Jill terlihat tak suka.


"Maaf Nona, tapi dilihat dari sikap dan pembawaan yang tenang, tuan besar akan mengizinkan nanti." Jawab pelayan Jill dengan tertunduk.


"Sudah, ayo bantu ini. Aku ingin segera turun dan jangan ulangi lagi!"


"Baik Nona." Jill langsung tidak suka dengan gadis atau wanita yang melihat Hero dan memuji ketampanan nya, meksipun Jill akui ia begitu terpesona dengan Hero yang terlihat bak pangeran dari kerajaan tetangga yang datang melamar nya.


Wajah congkak terlihat dari pemuda berusia 25 tahun itu, ia baru saja keluar dari kamarnya dan langsung disambut oleh pria paruh baya yang sebelas dua belas dengannya. "Bagaimana pa? Aku tampan kan?" Tanyanya sambil merapikan jas mahalnya.


"Tentu saja, putraku terlihat luar biasa! Papa yakin, para wanita ataupun gadis dari kalangan emas permata itu akan terhipnotis oleh pesona mu." Ujarnya membuat senyum angkuh itu semakin keluar.


"Biar ku tebak, Papa sudah mengetahui sasaran nya?"

__ADS_1


"Tepat sekali!"


"Hahahaha!" Tak berselang lama keduanya tertawa di ruangan kaca itu.


Jill langsung kebingungan saat tidak menemukan sosok Hero yang tadinya duduk di sofa coklat itu.


"Daddy, di mana Hero?"


"Pahlawan mu? Ia sudah." Axton berujar sambil bersiul yang jauh ke arah luar membuat wajah Jill langsung berubah drastis.


"Daddy mengusirnya? Kenapa! Aaaaaaa! Pokoknya aku tidak mau pergi!" Jill menghentakkan kakinya karena kesal sedangkan Axton tidak berekspresi apapun.


Keluh kesah itu terdengar membuat Jessi langsung keluar dan menghampiri putrinya. "Ada apa sayang?" Tanya dengan lembut membuat Jill langsung mengadu.


"Mommy! Lihat, Daddy baru saja mengusir Hero ku, aku hanya mau pergi dengan dia saja, tidak mau yang lain!" Adu Jill membuat Jessi langsung memainkan matanya.


"Apa? Kau menyalahkan ku? Tanpa mendengar penjelasan ku?" Balas Axton.


"Lalu kalau bukan? Salahku begitu?" Balas Jessi.


"Putrimu itu langsung mengambil kesimpulan tanpa mendengar penjelasan Daddy nya ini."


"Daddy bohong!"


"Lihat? Ia langsung memotong nya? Pria itu sudah ku minta ...."


Tiittt! Tiiit! Tiiit! Suara klakson mobil membuat keluarga yang tengah beradu argument itu langsung keluar menuju halaman dan mata merah langsung tertuju pada benda yang telah terpakir manis dengan warna hitam legamnya sedangkan di kursi kemudi terlihat sosok yang Jill inginkan. "Hero!" Teriak Jill dengan senang ditengah pandangan orang tuanya pada kendaraan Hero.


"Buggati Mistral!" Ujar Axton dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.



Bersambung .....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2