
Rizky bersama Som kini berada di sebuah jembatan. Jembatan ini terkenal akan keindahan dan instragamble bagi warga jakarta
"aku tak menyangka. Jakarta kini berubah cepat. Som" kata Rizky sambil memandang mobil-mobil melintasi jembatan tersebut
"Ah Tuan perkataan anda seperti seorang kakek tua saja. Tapi Saya juga ikut kagum Tuan. JPO senayan ini begitu indah di malam hari. Saya tak pernah menyangka" kata Som dengan sedikit nada becandaan.
"Hahaha. Kamu Som. Oh iya. saya sudah nerima uang Rp: 611.15 Triliun dari manto. apa benar itu uang dari hasil Mafia Sisillia sebelumnya?" Tanya Rizky
"syukurlah anda sudah menerimanya. Tuan. Sedari kemarin kami mewanti-wanti tim Audit kami untuk segera melakukan kiriman uang kami kumpulkan dari pemimpin sebelumnya lalu perpindah tangan kepada anda. Setiap Bulannya kami mendapatkan penghasilan 100-300 Miliar Rupiah dalam perbulannya. tapi semenjak Pandemi penjualan kami menurun drastis" kata Som
Rizky hanya sedikit tercengang dari dalan mendengar hal itu tapi tidak dipungkiri bahwa 100 hingga 300 miliar bagi sekelompok mafia papan atas tidak dapat di pungkiri itu bisa saja terjadi.
"Som. Ayo kita bawah. saya melihat disana makan enak buat kita nongki" kata Rizky
"ada kopi nya kan. Bos?" tanya som tanpa malu
"Ada dong masa tempat nongki gak ada kopi. Ente kadang ente kadang" kata Rizky sambil terkekeh.
__ADS_1
Rizky bersama Som menuju lift yang disediakan oleh JPO Senayan tapi Rizky berubah pikiran untuk menggunakan kakinya saja untuk turun dari jembatan itu tersebut
"Tuan. Kenapa kita gak pakai lift aja?" Tanya Som yang bingung tapi tetap mengikuti tuannya
"lama dan lagi pula itu lift seharusnya digunakan untuk para lansia & disabilitas tapi malah dipake orang-orang bukan targetnya" ujar Rizky.
Som hanya mengangguk dan patuh terhadap tuannya itu karena ia bisa apa? wong dirinya hanya sebatas bawahan saja.
"Pak. Kopi 2 disini" kata Rizky ketika mereka berdua sudah sampai disalah satu penjual kopi keliling yang menggunakan sepeda ontel.
"Ya Mas. Duduk aja dulu. Kopinya saya siapkan" kata penjual kopi itu dengan tersenyum.
"Oy cepet lari. Ada Satpol PP datang. Oy!" Teriak seseorang entah asalnya rizky tidak ketahui.
benar saja ada dua mobil patrol satpol pp yang menuruni pasukannya untuk mengamankan Pedagang liar yang berada di trotoar jalan.
"Maaf Pak. Saya tidak bisa bikin kopinya saya tidak mau dagangannya saya disita" kata Penjual kopi yang tidak jadi membikinkan kopi kepada Rizky & som.
__ADS_1
Rizky yang mendengar itu hanya memaklumi saja karena dulu dirinya juga pernah bagian dari mereka.
kerasnya ibukota pernah ia rasakan walaupun hanya beberapa bulan saja tapi bagi rizky itu neraka dunia yang dimana saat sebelum hari kelulusan kuliah. Rizky sudah merasakan pesaingan yang sangat ketat di ibu kota Jakarta ini.
"kita gak ngopi dong. Tuan?" Tanya Som
"Ya mau gimana lagi. Kita cari kafe dekat sini aja" kata Rizky dengan senyum pasrah.
Padahal Rizky ingin membeli kopi para pedagang itu karena kopi nya yang enak sekaligus membantu mereka dengan cara elegan dan tidak merendahkan pedagang itu.
"Som. Kapan kamu bergabung sebagai Anggota Mafia Sisillia dan alasannya?" Tanya Rizky.
"Ya gitu deh Tuan. Pesaingan Ibu Kota terlalu ganas bagi saya yang pernah putus sekolah saat kelas 2 SMP. Mau tak mau. Suka tak suka. Saya gabung dengan mafia sisillia yang melalui kerabat jauh saya" kata Som.
...----------------...
...BYE...
__ADS_1
...----------------...