Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 9 - 04.00 pm


__ADS_3

04.00 pm


"IAAN!!" pekiknya sembari terengah-engah.


Ian beberapa meter jauh di depannya. Sementara Selma berusaha mengejar. Perempuan itu melongok ke depan, meski tertinggal jauh berusaha mengetahui langkah Ian kemana. Laki-laki itu jauh di depan sana, berbelok ke kiri.


Ian berpacu cepat. Pencuri sialan! Umpatnya. Ia lari secepat kilat. Ringan bak kapas tertiup angin. Beberapa kali menerjang pengguna jalan. Dan ia tak peduli seseorang mengumpat padanya. Ia hanya fokus pada pencuri itu.


Setelah berbelok ke kiri, di depan sana rupanya sosok bertudung yang dikejarnya itu berlari memasuki sebuah gang kecil di sebelah apartemen.


Ian mengerem lajunya. Menengok ke kiri. Gang itu buntu karena terhalang pagar kawat sekitar dua setengah meter. Mengetahui hal itu, si pencuri langsung mengobrak-abrik isi tas dan berencana akan segera memanjat pagar dan lari dari sana. Semua isi tas berceceran. Termasuk naskah dan sapu tangan milik Selma yang kini setengahnya sudah mendarat di genangan air. Saat ia akan mengambil sebuah dompet merah, Ian tak tinggal diam. Ia berlari ke arah orang itu.


"Hei brengsek! Jauhkah tanganmu dari benda itu!"


Orang itu memekik, "****!"


Orang itu kalah cepat. Ian menerjangnya. Mendaratkan sebuah pukulan tepat di dekat rahang orang itu. Pencuri itu sedikit terpental ke belakang. Lengah. Dan Ian segera menyambar dompet Selma.


Tiba-tiba Selma datang di ujung gang. Perempuan itu memekik, "IAN!"


Ian menoleh. Mengetahui itu adalah Selma. Ia melemparkan benda di tangannya itu hingga melambung ke arah Selma. Dengan mata terbelalak dan cekatan Selma menangkap dompetnya.


Tiba-tiba saat menoleh ke Selma itulah, satu pukulan mendarat ke perut Ian. Ia mengaduh keras dan terpelanting. Ian segera bangkit sebelum orang itu kembali menyerangnya. Dan dua detik kemudian mereka berdua sudah bergulat.


Selma memekik, "Ya Tuhan!"


Selma berdiri seperti cacing kepanasan. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia bingung. Dan ia takut Ian kenapa-kenapa. Selma menengok ke sana kemari di luar gang. Lalu melihat dua orang polisi sedang berjalan di dekat mobil terparkir. Selma melambai-lambaikan tangan pada mereka dan memekik, "TOLONG! TOLONG! TOLONG AKU!"


Dua orang polisi itu melihat dan segera berlari mendatangi Selma. Salah satu di antara mereka berteriak. "Ada masalah apa nona?!"


Selma hanya menunjuk-nunjuk ke dalam gang kecil berisi banyak tong sampah itu. Dua polisi yang sudah di hadapannya melongok sekilas dan langsung berlari ke arah dua orang laki-laki yang sedang adu jotos itu.

__ADS_1


"Hei! Hentikan!" kemudian terdengar suara peluit lantang dari salah satu di antara mereka.


Selma berteriak, "Laki-laki itu pencuri! Yang bertudung dan berjaket hitam! Ia mencuri tasku barusan."


Laki-laki yang dimaksud Selma tersebut terkejut mengetahui polisi datang. Ia menjotos hidung Ian dengan keras hingga berdarah. Ian sekali lagi mundur jauh dan mengerang.


"Aaargh!"


"Ian!" pekiknya. Selma segera berlari dan memapah laki-laki itu. "Ya Tuhan hidungmu!" katanya lagi saat melihat darah mengalir dari sana.


"Oooh!" Kata Ian kesakitan. Ia segera mengambil sapu tangan dari sakunya dan menyumpal hidungnya.


Sementara itu, si pencuri segera menjauh dan memanjat pagar kawat di depannya. Ia berusaha kabur. Namun, dua orang polisi itu segera membekuknya. Pencuri itu mendapatkan borgol di kedua tangannya.


"Kalian bisa ikut kami ke kantor? Hanya untuk dimintai keterangan."


Selma mengangguk.


Selma baru sadar dengan barang-barangnya. Ia hanya mamandangi sekitarnya sembari membentuk huruf O di mulutnya. Terkejut.


"Ya Ampun! Banyak sekali cobaan hari ini."


"Tabahlah," kata Ian sembari mulai membantunya memungut barang yang tercecer. Ia segera memberikannya pada Selma.


"Ada yang kurang. Di mana naskah dan sapu tanganku?" katanya lirih.


Ian berjalan ke genangan air dekat tong sampah. Ia membungkuk dan mengambil dua benda yang sudah kusut, kotor dan setengah basah itu. "Maksudmu ini?" katanya berbalik menghadap Selma sembari menunjukan dua benda itu.


Lagi-lagi perempuan itu syok dan membentuk huruf O di mulutnya. "Ya Ampuuuun!" Ia berjalan gontai perlahan ke arah Ian dengan raut masih syok.


Dahi Ian berkerut. Alisnya terangkat satu. Ia mengangkat naskah itu. "Well, sekarang bagaimana jawabanmu? Kau masih mau menyimpan benda ini?"

__ADS_1


Selma mendekat.


"Kau tahu Sel, aku berdiri di depan tong sampah. Kalau kau memilih membuangnya, kau tidak perlu repot-repot melakukannya. Aku bersedia melakukannya."


Selma tertawa. Sungguh ironi, batinnya.


Ian terkekeh.


"Dasar insiden sialan!" kata Selma.


Tawa mereka tak terbendung ke udara.


"Ijinkan aku melihatnya sekali lagi, sebentar saja."


"Oke. Tidak masalah. Tapi, kusarankan kau tidak memegangnya karna aku tahu ini sensitif dan kau bisa berubah pikiran."


Selma memandang hasil pekerjaannya yang sudah dikerjakannya dalam waktu lama itu. Lalu ia menghela nafas. "Well, baiklah. Kau boleh membuangnya."


Dan dengan satu gerakan dari tangan Ian, benda itu melayang dan dengan mudah mendarat sukses ke dalam tong sampah. "Well, urusan kedua sepertinya sudah beres!" seru Ian sambil membersihkan kedua tangannya. "Ayo kita pergi!"


Ian menyerahkan sapu tangan milik Selma. Dan mereka berdua pun pergi dari sana menuju kantor polisi untuk memberikan keterangan.


"Maafkan aku. Dan terima kasih banyak sudah menolongku."


"Bukan masalah, Selma. Sudah seharusnya aku menolongmu," katanya sembari masih kesakitan di perut. Ia sedikit mengaduh.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Selma khawatir.


Ian meringis. "Tidak apa-apa. Hanya sakit wajar setelah berkelahi."


Dengan spontan Selma melingkarkan tangannya ke lengan kiri Ian. Mereka tertaut. "Jangan buat aku khawatir lagi."

__ADS_1


Ian terkekeh. Laki-laki itu mengelus lembut telapak tangan Selma yang melingkarinya. "Baiklah, Miss Stranger!"


__ADS_2