Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 30 - 04.00 am


__ADS_3

04.00 am


Danny terheran saat telepon masuk itu memunculkan nama Selma. Sementara itu, Selma sendiri ada di sampingnya. Begitu menanyakan keheranannya dan mengetahui respon Selma nampak kalut dan tak sabaran, detik itu juga ia menyadari sesuatu. Perempuan itu tidak membawa ponselnya. Ia sudah mengira, panggilan itu pasti dari si Ian. Ian pasti memegang benda itu dan berusaha mencari Selma, membujuk perempuan itu agar kembali. Jadi, secepat kilat ia matikan panggilan masuk itu.


Danny masih tak terima. Ia tak rela semudah itu Selma pergi dari sisinya. Ia tak rela Selma terbang berkelana lepas ringan bak kapas. Ia tak ingin kalah dalam persaingan ini. Tidak, sebelum ia mencoba langkahnya yang satu ini. Sebab, kedua pilihan ini sama sekali berbeda.


Selma dan Poppy adalah seperti junglefowl dan angsa danau. Bersama Selma ia menjadi tangguh, tumbuh di berbagai kondisi yang menantang, dalam rimba seakan sepasang junglefowl yang berjuang dan bertahan hidup bersama. Bersama Poppy ia begitu disanjung dan bertahtakan singgasana terjamin, dalam sebuah danau indah seakan sepasang angsa menawan yang menarik perhatian siapa saja.


Meski, mungkin agak terlambat, ia tak ingin dianggap pengecut. Ia tak mau dianggap tak memperjuangkan. Ia tak terima dianggap sebagai lelaki rendah seperti itu. Setidaknya, jika langkah ini tak berhasil, Selma sudah melihat usahanya.


"Kita keluar sekarang, itu lebih penting," kata-kata itu meluncur tepat saat Poppy dan sang ibu berjalan menyeberang ke arah mobilnya terparkir.


Mungkin inilah saatnya, titik penghabisan yang beberapa kali ia bayangkan. Entah bagaimana hasilnya.


Poppy datang dengan dahi mengerut. Menaruh beribu curiga, dan tak sabaran. Ia mengintip dari luar jendela, dan dengan cepat mengetuk-ngetuk kaca tebal itu sekuat tenaga. Lalu memekikkan nama lelaki yang ada di hatinya itu beberapa kali, "Danny!" Memberi kode agar Danny dan siapapun itu yang dikiranya, segera keluar dari sana.


"Danny! Keluar sekarang!" teriaknya.


"Danny!" pekiknya sekali lagi.

__ADS_1


Danny menghela nafas. Sebegitu pedulikah Poppy dengan ini semua? Bukankah ia hanya peduli dengan posisinya di sini?


Selma dan Danny membuka pintu bersamaan. Masih berkecamuk dengan pikirannya masing-masing. Sementara, sang nyonya besar memperhatikan mereka saksama.


"Apa yang sedang kau lakukan? Siapa dia?" mata perempuan supermodel itu mulai berkaca-kaca.


Danny terdiam memandangnya.


"Danny! Kenapa kau diam saja?!" suara Poppy mulai bergetar.


"Danny..." panggil sang ibu.


Wanita itu tak menjawab, alih-alih menatap tajam pada Selma yang berdiri di samping Danny. "Siapa dia?"


"Selma Wood. Dia..."


"Dari Norfolk, bukan..." sahut wanita itu cepat dan tegas.


"Mom tahu?"

__ADS_1


Wanita itu tak mengangguk, tak juga menjawab. Ia hanya bergantian menatap anak lelakinya dan perempuan yang datang bersamanya. "Calon menantuku hanya Poppy. Dan tidak ada yang tak kutahu darimu, Danny. Aku ibumu."


"Mom, tunggu dulu!"


Wanita itu tak lagi tertarik. Ia berbalik sembari memegang lembut lengan Poppy yang pancaran matanya masih terguncang mendapati kejadian di hadapannya. "Ayo kita masuk, Poppy." Ia terus memegang lengan Poppy sembari berjalan ke arah kediamannya.


"Tunggu!" pekik Selma tiba-tiba.


Danny terkaget dengan apa yang dilakukan Selma. Ia pikir Selma akan membantunya mengatakan sesuatu agar sang ibu yakin padanya. Ia hanya menatap Selma, menunggu entah apa yang akan Selma katakan setelah ini.


"Danny dan aku sudah lama mengenal. Kami tumbuh bersama, berjuang bersama. Aku menyayanginya sudah beberapa tahun belakangan."


Ibu Danny berbalik. Sedikit tertarik dengan pancingan Selma. Ia menatap tajam ke arah Selma. "Tahu apa kau tentang cinta, anak muda?! Tidak ada yang lebih tahu tentang cinta di sini, selain cinta ibu pada anaknya... yang tahu apa yang terbaik untuk anaknya."


Dada Selma serasa bertalu-talu mendengar sahutan itu. Rasa panas mulai merambatinya, namun ia tarik nafas perlahan. Selma berusaha menenangkan dirinya. Tak ingin dianggap sebagai perempuan lemah. Waktu yang menempanya, bagaimana sang ibu mengajarkannya banyak hal, tidak akan ia hempaskan segampang itu. Tak henti-hentinya ia berkata pada diri sendiri untuk tetap kuat, meski batinnya menjerit-jerit. Ia resapi betul bagaimana kasih sayang yang ibunya berikan, murni dan penuh pemakluman, banyak arahan dan ampunan atas setiap arah dan keputusan yang anaknya ambil, meski ia tahu setiap seorang ibu selalu ingin yang terbaik untuk anaknya menurut versinya sendiri-sendiri.


"Semarah apapun aku padanya, rasa peduliku selalu ada untuknya. Aku senang melihatnya berkembang, mendapatkan apa yang ia impikan, dengan pijakan awal yang ia bangun dengan susah payah. Aku tidak akan merusak hal itu. Aku akan membiarkan ia melesat, meraih segala titik yang ia targetkan. Jadi, aku harap kau juga memahami hal itu, nyonya... Masih ada banyak hal yang ingin ia kerjakan dan ia raih, kuharap kau tidak menghalangi dan memberatkan langkahnya. Jadi, aku akan melepaskannya. Aku tidak lagi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengannya. Tapi, aku akan selalu ada untuknya ketika ia membutuhkan."


Danny tertegun, tak percaya dengan yang diucapkan Selma. Ia hanya bisa mengucap nama perempuan yang beberapa tahun mengisi hidupnya itu.

__ADS_1


Selma menatapnya. Tersenyum sekilas. "Sekarang, boleh aku menjawab telepon itu?"


__ADS_2