Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 15 - 08.30 pm


__ADS_3

Ponsel Selma bergetar kembali saat dirinya dan Ian sedang berada di dalam taksi. Ia jarang menerima pesan dan telepon. Jika itu bukan ibunya, ayahnya, adiknya, Luna dan Ansel-teman dekatnya, Ian Walsh di inbox sosmed, atau para pegawainya, maka itu pasti Danny. Ia pun menggeser layar sentuhnya. Ia bertaruh dengan diri sendiri pasti itu Danny. Dan.. tepat saja tebakannya. Dua pesan masuk itu dari Danny semua.


Ia berdecak. Apa perlunya lagi denganku? Mau apa lagi dia?!


Selma pun membuka pesan itu.


Danny: Please Selma, aku minta maaf. Sungguh, aku minta maaf.


Pesan ke dua.


Danny: Please Selma, bisakah kita bertemu? Kapanpun kau bisa, aku menunggu jawaban darimu. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Kumohon..


Selma meremas ponsel itu sekali lagi. Sudah perih hatinya, dan baru saja kembali tenang. Tapi, tampaknya kini Danny tak membiarkannya untuk damai sedikit pun. Ia lelah dengan permainan ini. Ia lelah dengan segala sikap Danny yang sudah mengacuhkannya dan menyakitinya. Selma hanya memandang ke luar jendela. Ia berkata dalam hati, Aku tidak mau membalasnya. Biar saja kau menunggu, Dan! Supaya kau tahu bagaimana rasanya menunggu hal yang tidak pasti!

__ADS_1


Tanpa ia sadari, Ian yang duduk di sampingnya menatapnya. Wajah muram itu sekali lagi tertangkap retina Ian. Wajah yang selalu menariknya. Wajah yang bahkan lebih indah di bandingkan di foto. Lebih indah ketika ia memandangnya langsung pertama kali bahkan saat muram seperti ini. Membuat Ian ingin menyibak rambut di pipinya itu. Lalu membuatnya tersenyum.


Tangan Ian pun naik ke sana. Menyentuh lembut ujung kepala Selma. Mengelusnya perlahan.


Selma terkejut. Seketika ia menoleh ke Ian yang dekat dengannya itu. Raut muram itu bertemu dengan raut hangat milik Ian. Mata sendu itu bertemu dengan mata berbinar milik Ian. Tangan Ian meluncur ke pipi Selma. Menangkupnya lembut. Selma memejamkan matanya seketika. Merasakan kelembutan dan kehangatan yang dipancarkan oleh Ian. Setetes air mata mengalir di antara hidung dan pipinya. Dahi Ian berkerut. Ia benar-benar mencemaskan perempuan di dekatnya itu. Tanpa ia kira ia jadi merasa lebih terikat pada Selma. Ian menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.


"Jangan menangis," pintanya lembut.


"Aku tidak sedih, Ian."


"Lalu kenapa menangis?"


"Aku bahagia. Aku merasa hangat karena bersamamu. Bahkan di saat berat. Terima kasih."

__ADS_1


Tak ada yang bisa melukiskan kebahagiaan Selma pernah bertemu dengan seorang Ian Walsh. Bahkan jika nanti ia harus pulang dan berpisah dengan Ian, ia tak menyesal pernah bersama dengannya meski hanya sebentar saja. Tak pernah ia merasakan kehangatan seperti ini selama berbulan-bulan sebelumnya. Hidupnya memang serasa sepi. Bahkan saat Danny ada dulu, ada hal di dalam dirinya yang tak dapat dijangkau oleh Danny. Namun, sejak mengenal Ian, ia serasa tersentil. Ia tersenyum lebih banyak dalam sehari. Lebih dari pada biasanya. Bersama Ian ia tenang, tertawa dan berlari lepas bersama.


Mata mereka saling mengunci. Ian masih menangkup pipi merona itu.


"Sudah kubilang aku bersamamu. Meski cuma untuk hari ini. Aku senang. Dari awal aku merasa pilihanku menemuimu akan menjadi hal yang tak akan kusesali." Dan tanpa Selma duga, Ian mendekatkan wajahnya. Lalu mengecup lembut singkat dahinya. "Sama-sama," katanya lalu tersenyum penuh arti.


Selma tak dapat menahan lengkung manis di bibirnya itu. Senyumnya merekah. Namun, ia tetap saja malu. Mukanya memerah. Ia pun kembali melihat ke jendela luar sembari mengatur nafasnya. Pikirannya melayang ke wajah Ian, meski orang itu ada di sampingnya.


Apa aku sedang bermimpi? Oh.. ya ampun! Jangan kacaukan semuanya, Selma! Setelah ini kau harus pergi dari sini. Kau punya kehidupan sendiri yang jauh berbeda darinya. Bukankah kau sudah bertekad tidak akan kencan dengan laki-laki populer yang kemungkinan bisa memporak - porandakan hidupmu?! Bahkan meskipun Ian laki-laki baik, kau tidak sebanding dengan sosok Sheila yang sebelum ini ada dalam hidupnya! Selma sibuk memperingatkan dirinya sendiri. Setelah ini ia takut kenyamanan ini akan menjadi lebih rumit.


Detak jantung Ian serasa meningkat. Ia menyisir rambutnya dengan jemari ke belakang. Menenangkan diri sekaligus mengatur nafasnya. Takut-takut ia salah tingkah. Itu tadi hal spontan yang keluar begitu saja dari dasar hatinya. Ada gejolak dalam dirinya. Apa aku benar-benar punya rasa dengan perempuan ini?! Ya Ampun! Setelah apa yang kulakukan aku malah tidak begitu yakin. Aku takut menyakitinya sama seperti si brengsek Danny itu. Aku tidak mau jadi laki-laki brengseknya yang kedua. Sialan! Apa aku sudah pantas untuk bersanding dengan seorang perempuan lagi? Kalau saja bayang-bayang Sheila sudah menghilang sepenuhnya.. tapi, aku masih mengenangnya, merindukannya, memperingati hari kematiannya. Bagaimana jika itu malah menyakitinya?


Sedikit-sedikit ia mencuri pandang pada Selma. Ingin sekali menyibak isi kepalanya dan mengetahui apa yang sedang dipikirkan perempuan di sampingnya itu. Bahkan ingin sekali ia menyembuhkan luka itu. Menguatkan kerapuhannya. Memeluknya. Mengisyaratkan kalau ia sangat senang ada bersama dengan perempuan itu, walaupun ia tahu baru kali ini mereka bertatap muka dan lebih saling mengenal.

__ADS_1


__ADS_2