Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 27 - 02.10 am


__ADS_3

^^^Misery's the moment when I lost you. . . There's too much smoke to see it. There's too much broke to feel this. I love you, I love you. And all of your pieces.^^^


^^^Andrew Belle - Pieces^^^


02.10 am


Hampir setengah jam berlalu, tubuhnya lunglai dan lembek seperti puding berfla di dalam sebuah nampan. Nampan itu terlalu nyaman sampai membuatnya betah di sana. Kalau saja waktu berbicara seakan siaran langsung, ia ingin bicara pada waktu, minta supaya saat seperti ini ditambah, dikalikan, lalu dipangkatkan hingga ribuan kali. Lengan berotot itu begitu nyaman. Tak ada yang perlu diragukan dari fisik memikat Ian Walsh.


Selma sempat meragukan sikapnya yang begitu baik karna bayang-bayang mediang kekasihnya. Walaupun demikian Ian masih melindunginya dan menerimanya. Apa aku hanya cemburu? Tunggu... untuk apa aku cemburu?! Ia pun membuang pemikiran itu. Selma mengusap-usap wajahnya.


"Kau kenapa?" tanya Ian tiba-tiba. Nampaknya sedari tadi lelaki itu masih curi-curi pandang memperhatikannya.


Selma menggeleng. "Tidak kenapa-kenapa."


Ian memincingkan mata, "Kau pasti berpikiran yang bukan-bukan kan?!"


"Sungguh, tidak kenapa-kenapa."


Ian menggerakkan lengan yang sedari tadi tertimpa pipi Selma. Otomatis Selma menyingkirkan tubuhnya yang sedari tadi merosot di sana.

__ADS_1


"Ups.. maaf," kata Selma singkat. Tak enak dengan Ian. Mungkin itu mengganggunya.


Sudut-sudut bibir Ian terangkat. Lelaki itu bahkan tak keberatan, meskipun sekarang ia memutarkan tangannya, melemaskannya sejenak agar rasa kaku itu pergi. Lalu ia melingkarkan lengannya ke belakang punggung Selma. "Tidak. Tidak apa-apa. Sini... Kemarilah!" Ian tersenyum kembali.


Di temaram lampu ruang tengah itu, pipi merona Selma tersamarkan. Lagi-lagi gejolak di dadanya kembali bertalu-talu, walau ia ragu. Ia jadi bertanya-tanya, bisakah patah hati secepat ini berlalu. Tapi, terkadang manusia tidak sadar betapa Tuhan punya kuasa atas segala hal, termasuk membolak-balikkan hati manusia.


Ian memutar bola matanya. Ia tersenyum geli. "Walaupun ribuan kali aku berkata kau selalu bisa bersandar padaku kapan pun kau membutuhkannya, tetap saja ototku punya kapasitas terbatas dan bisa kram."


Selma tertawa, "Maaf."


"Aku cuma butuh melemaskannya sebentar." Ian menepuk-nepuk bahu depan kirinya. "Nah, sekarang.. kemarilah! Kau boleh bersandar semaumu."


Keduanya saling pandang. Perlahan Selma menjatuhkan kembali kepalanya ke sana, dengan hati-hati, dengan degub mengetuk-ngetuk. Sementara itu, Ian melingkarkan kedua lengannya. Merengkuh perempuan itu dengan lembut, tanpa sedikit pun ragu.


Selma mengangguk. "Begini lebih baik," katanya mengulangi.


Selama beberapa menit tak ada yang diutarakan oleh kedua mulut itu. Tak ada. Hanya ada hembusan nafas yang beradu di udara. Hening. Namun, begitu nyaman. Terkadang jemari Ian bermain di helai rambut Selma. Merasakan lembutnya helai-helai tebal yang halus. Ia menyandarkan dagu di puncak kepala perempuan di sisinya itu, Sesekali menghirup aromanya yang tak akan ia lupakan. Ia mengira-ngira apa aroma yang menghujam inderanya. Mungkin aroma jeruk segar bercampur almond hijau. Mengingatkannya pada musim semi. Ia simpan aroma itu untuk diingat dalam waktu lama. Ia kunci memori itu dalam loker dengan nomor sepuluh besar dalam hidupnya.


Tak ada singgungan tentang waktu pagi. Tak ada pembahasan mengenai jadwal kepergian. Meski, topik itu sudah ada di depan mata dan akan menjadi kenyataan dalam hitungan beberapa saat lagi. Tak ada. Mungkin terkeramatkan. Atau ada ketakutan di sana. Ketakutan tak kan berjumpa lagi ketika mereka sudah terpisahkan oleh satu langkah kaki Selma menaiki gerbong kereta.

__ADS_1


Jika pembicaraan itu terungkap sekarang, keduanya tahu itu tak akan berarti banyak. Mungkin akan merusak kebersamaan mereka yang benar-benar akan segera berakhir. Mungkin hal sensitif itu lebih baik ditahan hingga akhir. Membiarkannya berlalu begitu saja. Biar saja diacuhkan. Biar saja momen terakhir ini berjalan indah apa adanya, tersimpan utuh, meski hanya sekejap.


Detik dan menit terus berlalu. Sementara Ian menangkap semua yang bisa ia tangkap dan simpan. Selma menikmati semua yang bisa ia rasakan. Hangat pelukan yang mungkin saja tak akan tergantikan oleh apapun. Tak akan menyamai kehangatan perapian, selimut, hingga rengkuhan lengan lain ketika dingin layaknya musim gugur dan salju hadir. Kenyamanan yang tak kan sama dari hadirnya orang lain, meski Danny sekalipun.


Kedua tangan Selma terangkat. Menelangkupkannya pada kedua telapak tangan Ian yang ada di hadapannya. Kini keempat telapak tangan itu saling silang tindih. Semakin erat dalam keheningan yang memikat. Ia sudah tahu jika nanti mereka berpisah, genggaman tangan itu yang akan selalu ia rindukan. Lagi-lagi ia bertanya, apakah rindu itu kelak akan begitu berkecamuk sampai menusuk-nusuk dirinya?


Ian berkutat pada pikirannya sendiri. Ia  mengira-ngira nanti tak akan pernah lagi menjumpai seseorang lain yang seperti ini. Seakan ia tahu dan bersumpah, yakin akan hal itu pada dirinya sendiri. Tuhan memberinya perjumpaaan dengan sosok ringkih yang indah, yang juga gigih untuk kedua kali dalam hidupnya. Namun, Selma berbeda. Perempuan itu mencekik kewarasannya. Membuat emosinya naik turun. Setengah mati mampu membuatnya berlari berkilo meter jauhnya di malam hari. Mencabik-cabik ketenangannya, hanya untuk mengkhawatirkan keberadaan dan keselamatan perempuan itu. Dan kehadiran perempuan itu sendiri di sisinya bagaikan sebuah obat. Ia tak akan tahu lagi bagaimana setelah ini, apakah ia akan terjerat pada kehilangan lagi. Ia takut, tak ingin merasakan kehilangan lagi.


Lamat-lamat ia dengarkan dengan saksama hembusan nafas itu. Menghanyutkannya dalam ketenangan. Tak membuatnya berandai-andai kemana-mana. Karna dengan begini, kemana-mana jadi tidak begitu penting. Hanya berhenti di sana. Terpaku. Menikmatinya. Bak penonton menikmati suatu pertunjukan koreografi yang memikat.


Ia hirup sekali lagi aroma itu. Lalu dalam diam mengecup puncak kepala itu. Selma terpejam merasakan semuanya. Romansa itu paling indah sekaligus menyakitkan. Cepat datang dan cepat pula harus berlalu.


Perempuan itu sekelebat berharap semua hanya mimpinya setelah putus cinta. Mimpi indah yang diberikan Tuhan untuk menghiburnya setelah badai di awal hari ini. Sekilas ia juga berangan-angan, mungkinkah jika ini nyata akan berjalan lancar. Jika dunia yang berbeda itu disatukan, apakah ada rela dan lebur untuk satu sama lain, tapi sekali lagi ia tak mau berangan-angan terlalu jauh. Di cakrawala bintang-bintang mulai memudar, seiring angan-angannya yang juga kian menguap.


"Kau tahu... Apa yang menarik dan membuatku damai saat ini?"


"Apa?" ata Selma mendongak pada Ian.


Lelaki itu menatap setiap inci wajah yang ada di hadapannya itu. "Selma..."

__ADS_1


"Ya?" tanya selma bingung.


"Jawabnya Selma. Itulah arti namamu."


__ADS_2