Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 33 - She Turns into Between New and Old Love


__ADS_3

^^^New loves and old loves you're in between.^^^


^^^Miss you baby with each minute passed. Kiss you slowly cause I'm moving fast. I'd love to make it better but I can't go back. I try to look forward and not see past. And hope that the new year, don't look like last.^^^


^^^Marc Scibilia - New Years Old Years^^^


Selma tergesa-gesa memasuki kamar. Ia mengemasi barang. Ian menyusul di belakangnya. Laki-laki itu memberikan sebuah kaus yang tercecer di lantai. Selma menerimanya. "Trims." Lalu menjejalkannya begitu saja ke dalam ranselnya.


"Jam berapa kereta selanjutnya berangkat?" tanya Ian yang ikut mondar-mandir di sana.


"Dua puluh menit lagi."


Ian menepuk dahinya. "Ya ampun, Selma! Kau ceroboh."


"Banyak hal buat aku ceroboh hari ini."


Ian geleng-geleng kepala sembari tersenyum. "Sorry? Ku antar kau sekarang pakai motorku."


Selma menyandarkan ransel di pundaknya. Sembari menenteng tas tangannya. "Kau ada motor?" tanyanya tak percaya. Tertawa sarkastis. "Tahu begitu, semalaman kita bisa menggunakannya."


Ian tertawa. "Mungkin lain kali. Lalu ia menghela nafas. Berat. Apakah ada lain kali?


Di sisi lain Selma hanya mampu menyimpan dalam hati. Mungkinkah lain kali? Bahkan ia tidak yakin apakah nanti ada kata kembali, kemari.


Pandangannya bertemu dengan Ian.


Mereka terkait di sana beberapa detik. Tak melepas. Lalu saat kedua pasang mata itu mulai nanar, Ian dan Selma sama-sama membuang muka.


"Ayo cepat!" seru Ian.


Mereka pun keluar.


Ian menyambar kunci motornya di atas nakas ruang tengah. Ia mengumpat. "Sialan!" lirih, namun penuh emosi.


"Kau barusan bilang apa?"


"Sungguh sialan kau harus pergi sekarang! Tak bisakah aku membuatmu tinggal?"


"If I can.. I'll stay. Tapi, kita berdua masih punya urusan sendiri-sendiri. Kau punya tour, aku punya coffee shop serta anak buah yang harus kutangani."

__ADS_1


"Deal. You're gonna leave!" kata Ian ketus.


"Leave. Deal!" sahut Selma singkat dengan rahang mengeras.


Berat. Sungguh berat. Mereka terdiam hingga gas motor meraung dan melesat dengan kecepatan penuh. Membelah jalanan yang tak bisa dikatakan padat, namun juga tak bisa dikatakan lengang. Sementara angin menderu keras menampar keduanya, ada hal lain yang lebih sakit dari tamparan itu. Perasaan yang seakan tak mungkin berlanjut. Menahannya kuat. Semakin kuat menahan, semakin kuat pegangan Selma yang melingkari tubuh Ian. Dan semakin kuat pula pegangan Ian pada stang.


"Sialan!" pekik Ian yang teredam oleh helmnya.


Selma tetap mendengarnya. Hatinya bak kulit teriris pisau.


***


Kereta pagi itu akan segera berangkat. Langkah kaki Selma tertahan tak jauh dari pintu masuk gerbong. Hanya beberapa meter. Tak ada lagi waktu ekstra yang sedia membawanya kembali ke Crosby Street. Meskipun, ada seseorang yang bersedia dengan senang hati membawanya ke sana.


Hanya tiga menit. Setelah itu seakan babak baru kisah manis Ian akan tamat. Tak tahu, entah kapan akan ada babak baru yang lain lagi. Meski begitu sudah cukup untuknya untuk menyadari sesuatu. Ia sudah tahu bahwa hatinya mampu memulihkan diri. Hanya perlu satu orang dalam waktu singkat, ia tahu ia mampu bergetar karena seseorang yang lain. Jadi, ia tahu tak ada penyesalan untuk kisah singkat ini. Menguras energi, menjungkirbalikkan kewarasannya, namun tetap manis.


Keduanya saling berhadapan. Menikmati temu untuk terakhir kali. Menyimpan apa yang mampu untuk dikenang. Sesingkat dan secermat mungkin.


Rambut coklat ikal itu. Beradu dengan wajah oval plus alis tebal dan mata hijau yang indah. Sedikit tajam, namun selalu hangat. Binaran yang tak akan pernah Selma lupakan. Terlebih kala dipadukan senyum mengembang seorang Ian Walsh yang bisa membuat siapa saja juga ikut menarik lengkung bibir ke atas. Rebel, uniqe, charismatic. Konyol. Jujur. Menyebalkan, namun suka menolong. Suka menggoda, namun berhati tulus. Ia merasa beruntung pernah singgah sekejap di pelukan menenangkan itu. Ia merasa bahagia pernah berlari dan bergandengan tangan dengan sosok di hadapannya itu. Ia bersyukur pernah dipedulikan dan dijaga oleh seorang Ian Walsh. Mungkin setelah ini, ia hanya bisa menyaksikannya kembali lewat video unggahan di internet atau siaran musik dan berita hiburan di televisi, dan sesekali chatting ketika sama-sama menyisihkan waktu luang. Tiba-tiba matanya nanar kembali. Memerah dan mulai basah.


Bila waktu mampu diputar kembali. Ian rasa ia tetap tak akan kecewa. Melindungi perempuan di hadapannya itu baginya sudah tepat, meski hanya beberapa jam. Meski tak sepenuhnya mampu membuat perempuan itu tersenyum di pesta semalam, ia sudah cukup puas mampu menghadirkan tawa di antara mereka. Mungkin itu sudah cukup mengusir patah hati seorang Selma Wood. Ian tahu, sudah cukup baginya ada di sana. Ketika yang dibutuhkan Selma adalah seorang kawan yang setia di sampingnya, seseorang yang mendengarkannya, seseorang yang sedia untuknya, seseorang yang memberinya tawa, seseorang yang menyediakan pundak dan pelukan untuk bersandar barang sejenak.


Kedua kelopak mata Ian mulai basah. Semakin basah tatkala bertemu dengan milik Selma yang juga sudah tergenang. Lalu, air mata yang tertahan itu seketika mengalir bersamaan. Mencair dan membasahi sudut-sudut pipi keduanya. Seiring mencairnya tembok es yang sedari tadi menahan mereka. Hingga Ian menarik tubuh Selma mendekat padanya. Dan Selma dengan cepat lunglai jatuh ke sana.


Untuk sekali ini. Tak ada yang tertahan. Untuk kali ini saja. Tak ada yang terpendam. Hingga nafas memburu keduanya saling beradu di udara. Meninggalkan uap yang melayang hingga lenyap. Tersusul oleh sentuhan hidung keduanya yang kian menggetarkan perasaan masing-masing. Lalu kecupan itu hadir. Mendarat lembut. Bergerak perlahan-lahan. Seakan menjadi pertama dan yang terakhir. Begitu dalam dan membekas jauh di lubuk hati. Sekali lagi, perlahan sekaligus memburu. Lembut bak kapas. Hingga akhirnya terlepas.


Perlahan Selma menjauhkan Ian dari tubuhnya. Menyingkirkan dengan lembut genggaman Ian yang menahannya. Sekali lagi keduanya saling menatap. Mencari jalan keluar yang pas di dalam pandangan masing-masing. Namun, hal inilah yang pas. Untuk saat ini. Dan mungkin seterusnya. Selma tersenyum untuk terakhir kalinya.


"Terima kasih," katanya singkat.


Ian tersenyum. Meski ada kalimat tertahan yang tak akan ia ungkapkan hingga saat terakhir ini. Mungkin memang sebaiknya tak perlu diungkapkan. Menjaga kepingan kecil menakjubkan dalam hidupnya ini tetap demikian. Tetap utuh untuk disimpan dengan indah. Tak perlu dikatakan. Karena Ian tahu, seseorang yang akan dirindukannya tiap menit berlalu itu, sudah mengerti semuanya. Mengerti getaran yang ia rasakan. Getaran yang hadir kembali setelah sekian lama menghilang.


Ian membuang sisa tetesan air mata di sekitar wajahnya. Ia tersenyum lebar. Membuat Selma juga tersenyum lebar.


Dan detik itu tiba. Selma membalikkan badan. Berjalan cepat menuju lini keberangkatan. Melangkahkan kaki ke dalam gerbong.


Ian menghela nafas panjang. Mencoba menerima kepergian itu.


Perempuan itu menghilang. Secepat kereta melesat menuju ke arah selatan. Berjalan berseberangan dengan Ian. Tak terlihat lagi.

__ADS_1


***


Ian menginjak persneling motor hitamnya. Menekan gas kuat. Memacu kecepatan dan menerabas angin lagi. Sendiri. Tanpa ada tangan dari belakang yang berpegang kuat dengannya. Ia ingat keberangkatan tadi. Itu pegangan Selma yang pertama dan terakhir di atas motornya.


Sekali lagi ia membelah lalu lintas yang tak sepi, juga tak ramai. Masih hidup. Berkutat pada kenangannya sendiri. Ada kepedihan karena rindu yang dengan cepat menyergap. Meski begitu ia merasa berbeda. Aneh, karena sekarang ia merasa lebih hidup dan bersemangat.


Otaknya mulai merangkai sepenggal bait.


I guessed girl's weary face


I tried to create laughter


to her lips curving down


She walked and run with me


We were crying and laughing 'till the end


Kini ia memarkirkan dan mengunci stang motornya. Meninggalkan kenangan itu untuk sementara terparkir di sana. Laki-laki itu berjalan cepat menuju apartemennya. Kenangan-kenangan itu berjalan cepat menumbuknya. Menghantamnya. Membuatnya tak tinggal diam dalam gundah gulana.


Ian memasuki studionya. Meraih gitar kesayangannya. Lalu keluar menuju rooftop apartemennya. Otaknya terus bekerja. Jiwa musisinya tak pernah tidur. Meraup semua rasa yang terlanjur hadir dalam kurun waktu sehari itu. Menumpahkannya ke dalam sebuah chorus yang ia rangkai penuh kemantapan hati. Jemarinya tak luput mencari nada-nada yang baginya pas. Mencoba menciptakan suasana sedih, namun dengan rangkaian melodi yang mampu bercerita dengan ringan dan riang. Ada kalanya keindahan tercipta dalam kesederhanaan.


For one night


we collided


we embraced


For one night


strangers turned into a new love


The time quickly snatched


She turns into between new and old love


Who knows we'll meet someday again


Ian duduk mengenang ketika di sana bersama Selma. Berbagi dunianya bersama perempuan itu. Ian mengingat kebersamaan singkat itu. Kini ia memainkan senar-senarnya. Menyanyikan sebuah kisah. Lagu rindu penuh harapan.

__ADS_1


__ADS_2