
"Kau lapar?" tanya Ian saat mereka menyeberangi zebra cross.
"Tidak. Aku cuma ingin minum."
"Mau apa?"
"Kopi. Tentu saja."
"Hah! Makanya kau punya kedai kopi."
Mereka terkekeh.
Selma senang Ian masih mengingat hal itu. "Kalau kau pergi ke Norfolk, kau harus mampir ke tempatku lagi."
"Aku pasti akan ke sana."
"Apa kau pernah tampil di Virginia?"
Ian mengangguk. "Beberapa kali. Sesaat setelah EP kami keluar. Aku ada rangkaian tour. Salah satunya juga di Virginia. Oh ya, sudah berapa lama kau di sini? Kapan kau akan pulang?"
"Aku datang kemarin. Dan hari ini aku berencana pulang, tapi aku ketinggalan kereta."
Ian tertawa mengejek lagi, "Hanya dua hari? Itu pun tidak genap! Hah! Kasihan sekali kau ketinggalan kereta! Kenapa tidak mengejar bis?"
Perempuan itu menghela nafas panjang. Ia sama sekali tidak kepikiran tentang bis.
Melihat Selma tak menjawab, Ian menatap perempuan itu dari sisinya. Raut wajahnya yang tadi bercanda kini mendadak mengerut, khawatir.
"Ya ampun. Apa aku salah bicara?"
Selma tersadar kembali dari lamunannya. Ia buru-buru menjawab, "Kalau aku tidak ketinggalan kereta, aku pasti tidak akan bertemu denganmu." Ia tersenyum memikirkan kesimpulan spontannya itu.
Ian pun tertawa. "Kau benar juga! Jadi kau memilih tinggal hanya untuk bertemu denganku begitu?" godanya lagi.
"Ooooh Ian!!!" Selma menyikut lawan bicaranya itu.
Ian tertawa dan mengaduh bersamaan.
"Serius deh! Bukan begitu juga. Pikiranku kacau. Dan aku cuma berjalan keliling kota." Ia menghela nafas berat. "Datang kemari malah membuatku mendapatkan hari terburuk!"
Ian nampak prihatin. Entah mengapa menatap perempuan itu sedih, juga membuatnya sedih. Ia menyenggol bahu Selma lagi. "Apa aku juga terburuk?" Ia mengerlingkan matanya pada Selma.
Selma pun memutar bola matanya. "Ya ampuuuuun! Berhenti menggodaku, please!"
Ian tertawa senang mengetahui triknya berhasil membuat Selma teralihkan.
"Kemarilah!" Ian tiba-tiba menarik tangan Selma.
Ia menggenggam tangan itu. Dan membuat perempuan itu berlari bersamanya menerobos lalu lalang di trotoar.
"Hei! Kau ini kenapa sih?" Protes Selma tak mengerti sembari mengontrol nafas yang mulai memburu.
Sesekali Ian menoleh ke belakang melihat Selma. Ia tersenyum lebar. "Ini menyenangkan tahu! Aku tidak akan membiarkanmu punya trauma karna sudah datang kemari." Ia memperhatikan jalan lagi. Takut-takut menabrak orang lain.
Selma tak bisa menolak untuk tidak tersenyum lebar melihat senyuman Ian itu. "Hentikan, please! Kau lihat! Semua orang mulai memperhatikan kita! Kau kira hal kayak begini tidak membuatku kapok?!"
Ian hanya tertawa.
"Tahu tidak.. kau konyol!"
Tapi Selma malah mulai ikut cekikikan sambil berlari.
"Siapa suruh mau berjalan denganku. Terima sendiri akibatnya!" Ian menoleh lagi padanya dan menjulurkan lidah mengejek.
Selma ngakak. "Ya ampun Ian! Kau kayak anak sma deh! Serius, kita bukan anak sma lagi!"
"Memangnya cuma anak sma yang boleh berlarian seperti ini?!" Ian cekikikan sendiri. Entah apa yang dipikirkannya.
"Coba rasakan, Selma... atmosfir mendung seperti ini. Anginnya menerpa wajahmu. Sangat menyenangkan. Nikmati saja dari pada kau memikirkan kekacauan harimu!"
Hati Selma berdebar. Berdebar kencang karena berlari, malu, dan senang bukan kepalang. Tak tahu kenapa menjadi begitu senang saat Ian menyebut namanya.
__ADS_1
Ian menoleh padanya lagi. Lagi-lagi tersenyum. "Jangan pedulikan orang-orang melihatmu, kalau kau tidak bisa tidak peduli, tambah saja kecepatanmu! Lagi pula mereka tidak menengenalmu. Anggap saja ini jalanmu!" Ian tertawa lagi.
Cowok ini gila! Pekik Selma dalam hati. Ia tak habis pikir. Tapi, ia terus tertawa sambil menikmati angin yang menerpa wajahnya. Sejenak ia merasa ringan. Larinya kali ini ringan. Lepas. Ia lepas. Dan seseorang menggenggam tangannya.
02.37 pm
"Bukankah ini lebih mainstream?!" Pekiknya di sebelah kanan Ian.
"Tidak, tahu!"
Selma melotot. Ia menunjuk tempat di depannya. "Pub, Ian! Pub! P-U-B! Kau bilang tidak mainstream?! Ini lebih mainstream dari pada tempat lain yang kukunjungi!"
"Kau makhluk yang keras kepala! Jangan sok tahu kalau belum tahu maksudku, Sel!"
Selma memutar bola matanya. Baru beberapa saat ia bertemu dengan Ian secara langsung, tapi mereka sudah lancar saling beradu mulut, tertawa dan mengejek. Dunia memang penuh misteri.
"Apa karena ini hari yang buruk buatku lalu kau mau mengajakku mabuk-mabukkan?!" Selma menatap Ian tak percaya.
Ian hanya menatap Selma datar. Membiarkan perempuan di sampingnya itu mengomel hingga selesai. Perempuan yang mengomel itu lucu sekaligus menyebalkan! pekiknya dalam hati.
"Kita baru saja bertemu kau mau membuatku mabuk? Ya ampun Ian! Kau gila atau apa?" katanya sewot.
Selma menghela nafas. Ia menyerah tatkala Ian hanya memandangnya tanpa ekspresi yang jelas.
"Sudah mengomelnya?" Tanpa pikir panjang ia menarik lagi tangan Selma. Ia menyeret Selma masuk ke dalam.
Selma protes besar padanya. "Kau benar-benar serius membawaku masuk ke sini?! Ya Tuhan Ian! Please.. jangan buat aku senewen!" Dan Selma bertambah sebal karena ia tidak suka musik hingar-bingar yang sekarang sukses membuat kepalanya tambah berdenyut.
"Ya ampun Selma! Tenang saja! Aku tidak bermaksud membuatmu mabuk!" Ian jengkel dan juga gemas melihat tingkah perempuan di sampingnya itu.
"Lalu untuk apa kau membawaku kemari?"
Kini mereka menerobos beberapa orang.
Di tengah-tengah jalan Ian menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap Selma. Hampir saja Selma menubruknya. Mereka berhadap-hadapan. Ian pun menatap Selma tajam. "Diamlah! Dan ikuti saja aku!" Ia lupa mengatakan sesuatu dan nadanya berubah lebih lembut. Tatapannya melunak dan memohon. "Please? Bisakah kau mengikuti aku dan menerima kejutan dariku?"
Selma terpaku. Ia menatap Ian dan terkunci di sana. Dengan terbata-bata ia mengangguk, "Ok.. ay."
Ian membawanya masuk lebih dalam. Mereka melewati meja bar. Seseorang di dalam sana menyapa Ian. Ian membalasnya.
"Kau mau ke gudang belakang?" tanya laki-laki bartender itu santai.
"Yup! Apa David di dalam?" jawabnya tak kalah santai.
"Ya."
Gudang belakang?! Apa ini?! Pekik Selma dalam hati. Ia sedikit terkejut dengan percakapan itu. Membuatnya berpikiran yang bukan-bukan. Katanya mau mengajakku minum kopi. Kenapa gudang belakang? Apa maksudnya? Jangan-jangan ini sarang mafia? Jangan-jangan Ian memang penjahat? Ya Tuhan! Aku harus bagaimana? Lari.. aku harus lari dari sini!
Tapi, sebelum ia bertindak. Ian memperkuat genggamannya pada tangan Selma. Selma mendadak merasa ngeri. Ya Tuhan! Bagaimana ini?!
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak! Kau pasti aman bersamaku." kata Ian tiba-tiba seakan mengetahui pikirannya.
Selma lebih tenang, tapi ia terkejut dan bergidik tatkala memandang laki-laki yang ada di sampingnya itu. "Kau ini cenayan ya? Indigo?"
Tawa Ian meledak seketika. "Bwuahahahaha...! Ya ampuuun Selma! Kau ini bicara apa? Bahkan kau sudah mabuk sebelum minum!" Ia tertawa lagi.
Selma mencebik. "Kenapa seakan-akan kau selalu tahu apa yang sedang kupikirkan?! Huh!"
Ian cekikikan. "Kau tahu tidak. Kau menggemaskan!"
"Ian! Jangan mulai menggodaku lagi!"
"Bagaimana kalau aku tidak menggoda, dan itu kenyataannya?!"
Selma seperti tersengat sesuatu. Ia terbungkam seketika.
Ian terus membawanya masuk ke dalam. Melewati lorong yang sebelah kirinya toilet dan sebelah kanannya ruangan tertutup. Terus masuk ke dalam. Dan di ujung sana nampak sebuah tangga ke lantai dua. Selma pikir, mereka berdua akan naik ke tangga itu.
Tapi, tidak. Ia terkecoh. Tiba-tiba Ian membuka sebuah pintu di bawah tangga itu. Padahal tadinya ia tak melihat ada pintu di sana. Pintu itu tak terlihat karena ditutupi wallpaper karpet merah maroon setema dengan dinding-dinding di sekitarnya.
Selma mengintip sejenak isi ruangan itu. Ia terbelalak. Ruangan itu kontras dengan di luar sana. Lebih tenteram dan dihiasi lampu-lampu downlight berwarna kuning. Tidak terlalu luas juga tidak terlalu sempit. Dan sayup-sayup terdengar alunan musik jazz. Ia melangkah masuk mengikuti Ian. Alunan musik menjadi lebih terdengar jelas. Sebuah bar ada di pojokan tengah ruangan. Ada sekitar dua puluh pasang bangku di hadapannya. Dan terisi hanya sekitar sembilan. Banyak sekali lukisan tentang laut dan pantai di dindingnya. Beberapa papan surf ditempel di beberapa sudut sebagai hiasan. Dindingnya sebagian terlapisi karpet abu-abu, sebagian lagi hitam. Selma terkesima dengan interiornya. Ya Ampun! Keren sekali! Tempat apa ini?!
__ADS_1
"Kau terkejut?" Tanya Ian tiba-tiba.
Selma hanya mengangguk dan terkesima. Ia buru-buru memfokuskan pandangannya ke Ian. "Tempat apa ini?"
"Markas kami." Ia lalu buru-buru berjalan ke depan. Ke meja bar.
Di sana. Seorang laki-laki berpenampilan santai dengan kaus berkerah hitam melambaikan tangannya pada Ian. Ian terkekeh padanya.
"Yo! Kau apakan rambutmu?! Astaga!"
Laki - laki itu hanya terkekeh. "Apa aku kelihatan lebih tampan?"
"Ooh! Sungguh! Aku lebih suka rambut gimbalmu!" Ian tertawa padanya.
Laki-laki itu menghentikan cekikikannya. Ia menoleh ke arah belakang Ian. Menatap Selma sekilas yang nampak sedikit canggung. Lalu menatap Ian lagi, minta penjelasan. "Kau datang tidak sendiri rupanya?"
Ian mengangguk. Sementara itu, Selma duduk di sebelah Ian. "Ini temanku. Selma ini David. Dave ini Selma."
Dua orang itu pun berkenalan.
"Aku tidak pernah melihatnya," kata David.
"Memang wajah baru. Ini pertama kalinya Selma datang kemari. Dia dari Norfolk."
Alis David terangkat satu. "Well, selamat datang Selma! Semoga kau menikmatinya!"
Selma tersenyum berusaha ramah. "Trims David."
"Kukira kalian sedang berkencan!" David tertawa. "Maaf kalau aku salah kira."
Ian dan Selma serempak tertawa dengan nada aneh.
"Aku baru saja putus dengan tunanganku. Masa aku langsung punya pacar baru? Yang benar saja!" Selma tertawa sarkastis.
Dave melotot. "Astaga! Kasihan sekali kau! Aku tebak suasana hatimu pasti sedang buruk-buruknya. Mau minum sesuatu? Kecuali alkohol. Kau bisa mendapatkannya kalau kau keluar dari sini."
"Tentu.. tentu.. " Selma terkekeh. "Tempat ini sangat kontras dan menjelaskan. Aku ingin es kopi saja."
"Oke!" Kini David beralih ke Ian. "Kau mau minum apa kawan?"
Ian yang sedari tadi memperhatikan wajah perempuan berambut sepunggung di sampingnya itu langsung tersadar kembali. Ia segera beralih ke David. "Americano," jawabnya singkat.
Ia kembali melihat Selma. "Kau tahu, itu tadi sangat menjelaskan."
Selma yang sedari tadi pandangannya masih menginterogasi interior ruangan langsung menoleh ke sumber suara. "Apanya?"
Mereka saling pandang.
"Tunanganmu."
Selma langsung terdiam. Ia menghela nafas berat. Lalu menatap Ian lagi. "Koreksi. Mantan tunangan."
Ian terkekeh.
Selma juga tak bisa mengelak untuk ikut terkekeh karena wajah itu begitu dekat dengannya. Ia tertawa kecil dengan Ian. Apa kubilang! Senyum dan tawanya selalu membuat orang lain ikut terbawa dengannya! Benaknya.
Satu sisi perempuan itu teralihkan senyuman Ian, dan satu sisi teringat kembali wajah Danny yang pernah mengisi hari-harinya. Lalu tawanya seakan setengah hampa.
Ian kembali serius. "So... jadi itu alasanmu pergi kemari?" Alisnya terangkat satu.
Selma tersengat. Lagi. Damn! Kenapa dia selalu tepat mengatakan apa yang sedang kupikirkan?! keluhnya dalam hati.
Selma mengangguk.
Mereka berdua saling menatap dalam keheningan.
Ian menatapnya penuh simpati. "Menangislah! Katakan saja! Semua... kalau kau ingin."
Lalu dalam kebisuan, air matanya perlahan mulai meleleh ke atas pipi.
Setelah minuman datang, satu genggaman tangan datang di atas tangannya. Lama. Seperti itu. Semakin keras senggukannya, semakin erat tangan Ian menggenggamnya.
__ADS_1