
Selma berharap ketenangannya bisa bertahan hingga ia sudah berada di rumah esok. Pulang ya? tanyanya sendiri di depan cermin saat memoleskan bedak tipis di wajahnya. Mengira-ngira apa ia nanti akan merindukan sosok Ian Walsh.
Sedesir getaran merambati dirinya. Tiap kali ia memikirkan tentang Ian. Tiap kali Ian tersenyum padanya. Perih hatinya menguar. Terobati. Andaikan ia pusing, Ian bagai setablet aspirin. Apakah tepat menempatkan Ian seakan-akan obat anti nyeri? Tidak. Selma menggeleng. Sungguh, itu bukan hal yang tepat.
Ian adalah orang yang tulus. Sosok perempuan seperti Sheila telah membuatnya menjadi pribadi yang banyak belajar untuk bertindak lebih baik. Menggunakan Ian hanya sebagai penghilang luka sama saja dengan menyakiti hatinya dan juga tak menghormati mediang Sheila.
Ia ambil pigura yang tadi tergeletak itu. Sheila memang cantik. Bukan hanya fisiknya, tapi juga hatinya. Menatap kembali potret Ian di sana yang seakan-akan begitu mendamba dan menyayangi Sheila, perasaan Selma tersergap. Indah. Hangat merayapinya. Senang menatap keserasian potret dua insan itu. Pancaran bahagia Ian begitu tergambar. Di satu sisi, ada seberkas rasa ganjil yang mulai timbul di hatinya, karna ia tahu ia bukan perempuan semulia Sheila. Ia tak pantas disandingkan dengan Sheila, apalagi berada di samping Ian. Rasa-rasanya seperti tak patut memekarkan harap terlalu lebih.
Selma kembali ke hadapan cermin. Menatap wajah sendu yang berbingkai rambut gelombang tebal di hadapannya itu. Bingung mau diapakan. Ia putuskan menyisirnya rapi dan mengikatnya jadi satu lalu menyampirkannya di samping pundak. Tak perlu roll dan segala macam alat, toh rambutnya yang bawah sudah cukup bergelombang. Ia beri sedikit perona pipi. Dan wajahnya sukses terlihat segar. Segala kepenatan dan kegundahannya cukup tertutupi. Ia merapikan atasan blus hitamnya yang manis. Kali ini memadukannya dengan skinny jeans hitam dan sepatu boots cokelat yang setia menemaninya sejauh ini. Ia duduk dan sedikit membersihkan sepatunya. Lalu mengambil tas tangannya. Dan bangkit untuk keluar dari kamar.
***
Ian hanya bisa terpana melihat penampilan Selma yang simpel dan manis itu. Terlihat elegan dengan rambut indah dan setelan hitamnya. Sementara itu, Selma juga terpana melihat Ian dengan versi lebih segar. Menggunakan celana jeans hitam, dipadukan kaus merah dan blazer hitam yang berpotongan pas di tubuhnya. Membuat dadanya semakin terlihat bidang dan badannya lebih tegap. Tak lupa Ian mengemas gitar Fender akustik hitam kesayangannya untuk dibawa.
"Sungguh, sebenarnya kau tidak perlu banyak usaha untuk terlihat oke, Selma."
__ADS_1
"Kau bilang temannya Luke itu wartawan senior kan? Pasti beberapa orang penting ada di sana. Lagi pula, aku tidak berusaha keras kok dengan ini.. make up dan sebagainya."
Alis Ian terangkat satu. "Tidak berusaha keras, tapi terlihat cantik!"
Rona pipi Selma pun naik setingkat ketika mendengar pujian itu. "Terima kasih banyak, Mr. Stranger. Kau juga kelihatan keren."
Ian tertawa kecil. "Apa masih perlu sih, sebutan Stranger itu di antara kita? Well, sama-sama."
Selma ikut tertawa.
Mereka pun berjalan keluar dari apartemen Ian. Menelusuri lorong sambil masih bercakap dan cekikikan.
Selma tertawa. "Ya ampun! Jadi itu sungguhan ya?! Kukira itu cuma omong kosongmu saja. Saat aku masuk studiomu tadi, aku melihat-lihat catatan di dinding. Aku benar-benar tak menyangka kau menulis ulang tahunmu tanggal 28. Bahkan kau mencatat hari ulang tahunku juga! Ya Tuhan! Faktanya tanggal lahir kita memang benar-benar berurutan!"
Ian tertawa. "Aku menulisnya waktu itu karena juga terkejut dan entah mengapa sangat excited. Kita sering chatting dan berbicara tentang banyak hal. Dan tak tahunya, kita ulang tahun hampir bersamaan. Aku jadi berpikir, apa itu bisa mempengaruhi bagaimana aku bisa merasa begitu terkoneksi saat berhubungan denganmu, padahal kita hanya bertemu sekali dan hanya terhubung melalui chat."
__ADS_1
"Mungkin juga ya?" kata Selma ikut menduga-duga.
Selma pun mengenang kejadian setahun silam. Masih jelas diingatan Selma saat itu hari ulang tahunnya. Siang hari yang di kedai kopi dan donat yang mulai ramai. Tiga orang pegawainya juga sibuk melayani pelanggan. Tak ada siapa-siapa di sampingnya. Menyedihkan. Bahkan
Danny sedang sibuk dengan agenda barunya untuk sebuah pertunjukan puisi dan teaternya. Mereka pun jadi adu argumen dan bertengkar hebat. Seakan tak ada orang di dunia ini yang peduli dengannya. Selma pun memilih tak peduli. Namun, tak lama setelah itu, ia tak menduga ibunya menelepon. Memberikan ucapan selamat ulang tahun, doa, dan harapan baik untuknya. Hatinya begitu terhibur dengan kehadiran satu orang paling berharga baginya di dunia ini. Meski sedang berjauhan, mendengar suaranya sudah cukup.
Ia pun mengotak-atik ponselnya. Lalu teringat ia pernah menyimpan foto berdua dengan ibunya tatkala berlibur musim panas bersama. Ia mengunggah foto itu ke akun instagramnya. Memberikan ungkapan terima kasih di sana. Terima kasihnya karena wanita itu telah melahirkan, mencintai, peduli dan menjaganya hingga sekarang. Tak lama setelah itu beberapa ucapan ulang tahun datang untuknya. Termasuk satu yang selalu menarik perhatiaannya, seorang anggota grup musik Black Box.
Ian Walsh: @selmawood Selamat ulang tahun!
Malamnya ketika berselancar di internet dan membuka beberapa akun sosial medianya. Selma memutar lagu-lagu Black Box. Iseng ia membuka akun instagram Ian Walsh yang tertaut di info milik Black Box. Lalu, ia mulai mencari tahu sosok Ian lebih banyak. Dan seketika matanya terbelalak ketika melihat tanggal lahir Ian. 28 Oktober. Sehari sebelum ia ulang tahun. Ya ampun! Bagaimana bisa?! Kemarin ia ulang tahun! pekiknya dalam hati. Ia pun mengirim satu pesan pada akun Ian Walsh.
Selma: Aku baru tahu, aku punya tanggal lahir berdempetan dan hari ulang tahun yang hampir bersamaan dengan gitaris Black Box. So, selamat ulang tahun, Ian Walsh! Maaf terlambat.
Tak lama setelah itu Ian membalas pesan dari Selma.
__ADS_1
Ian Walsh: Hahahahaha... Tak terduga ya?! Terima kasih. Selamat ulang tahun juga untukmu! Kau... yang mengelola kedai kopi dan donat enak di Norfolk itu bukan? Aku sedang tidak jauh dari situ, belum tutup kan?
Dan tiba-tiba Ian Walsh ada di hadapannya. Menjadi pengunjung terakhir spesial di kedai malam hari itu. Menyanyikan selamat ulang tahun untuknya. Selma mendapat kejutan ulang tahun paling berkesan. Ia tak pernah menyangka mendapatkan ucapan dari salah satu pemusik kesukaannya. Pemusik yang sebelum punya nama, sebenarnya pernah singgah di kedai itu.