Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 16 - 08.45 pm


__ADS_3

Selma dan Ian masuk ke sebuah rumah mewah yang sudah ramai. Di dalam mereka melihat Luke dan Jenny sedang berbincang-bincang dengan tuan rumah. Pria berpotongan rambut gondrong yang tergulung rapi di belakang, berkaca mata kotak berbingkai hitam, berjambang, namun berpenampilan klimis.


"Apa itu orangnya?" bisik Selma pada Ian.


"Yup!" jawab Ian. "Anthony Roger. Wartawan yang lumayan senior. Dia juga punya kantor majalah sendiri yang lumayan besar dan cukup terkenal."


Roger. Mendengar nama belakang itu pikiran Selma jadi terusik. Ia ingat satu nama yang sekarang ini paling tidak ingin diingatnya.


Ian menggandeng tangan Selma. Selma sudah merasa nyaman dengan hal itu. Seakan tangan mereka pas untuk dipasangkan satu sama lain. Ian membawa dirinya melangkah menuju kawan-kawannya yang sedang asyik bercakap-cakap dengan Anthony Roger. Luke, Jenny, dan Anthony menyambut kedatangannya dengan senang hati.


"Ian Walsh!" pekik Anthony. "Akhirnya kau datang juga. Selamat datang di kediamanku," katanya dengan senyum lebar.


"Terima kasih, Sir!" ia pun menjabat tangan orang itu dengan kuat dan dengan raut tak kalah senang. "Aku sangat bersemangat bisa datang kemari. Akhirnya ada kesempatan bisa bertemu anda lagi."


Pria itu terkekeh. "Aaah.. kau tahu kan, meskipun aku sudah tua begini, aku juga bisa mencintai musik anak muda," Laki-laki itu tertawa lagi, "Salah satunya musik kalian. Eksperimen folk dan rock kalian boleh juga! Aku sudah tidak sabar mendengar kalian memainkan lagu."


"Terima kasih, Sir! Rasanya sangat terhormat sekali bisa diundang olehmu."


Anthony melirik ke arah Selma. "Kau tidak sendiri ya rupanya?"


Ian teringat lagi oleh Selma. Ia hanya tersenyum. Buru-buru mengenalkan perempuan itu pada Anthony, "Kenalkan. Ini Selma Wood," ia tak memberikan klarifikasi bahwa mereka hanyalah dua orang asing yang kini sedang saling mengenal satu sama lain lebih dekat.


Mereka pun berkenalan.


Jenny terus menatap Selma. Terang-terangan. Perempuan di samping Luke yang tengah mengenakan dress merah simpel itu memperkenalkan diri ke Selma.


"Hei, Aku Jenny. Yang bermain violin.. dan kadang juga mengisi vokal. Apa dia sudah menceritakan tentang itu padamu?"


Selma tersenyum, "Tentu saja aku tahu dirimu! Aku kan juga sangat suka mendengarkan musik-musik kalian. Aku Selma."

__ADS_1


Jenny tertawa malu. "Oh.. begitu ternyata. Jadi, kau kekasih barunya Ian ya?" tanyanya terus terang.


"Sebenarnya tidak," jawab Selma lirih, "Aku dan dia baru kenal dan cukup dekat."


"Aaaah..." hanya itu yang keluar dari mulut Jenny. Ia tersenyum menggoda.


"Oh sudahlah.. tidak ada apa-apa."


Jenny hanya tertawa kecil padanya.


Ian berbisik pada Selma. "Kalau aku tampil nanti, nikmati saja pestanya. Jangan merasa aku meninggalkanmu."


Selma tersenyum. "Baiklah. Aku akan menunggumu sampai selesai. Aku akan mendengarkanmu bernyanyi."


Sementara Anthony, Luke, dan Jenny mengobrol, Ian berbisik di telinga Selma. "Sebenarnya dari pada bermain gitar dan menyanyi untuk Anthony dan semua yang ada di sini, aku lebih menganggap aku bernyanyi untukmu," Ian mengerlingkan matanya. "Ini sama saja khusus untukmu menonton Black Box live pertama kali kan?"


Ian mengangkat alisnya. "Siapa bilang gratis?! Bayaranmu untuk menginap dan konser gratis adalah tetap sama seperti kataku tadi," katanya menantang perempuan itu. Sunggingan jahil itu pun muncul di sudut bibirnya.


Selma menatapnya tajam. "Jangan coba-coba, Ian! Jangan pernah! Apalagi di sini!"


"Coba saja kabur.." Ian menjulurkan lidahnya. Dan belum sempat Selma membalas, Ian memanggil Anthony. "Sir, jika seseorang ingin bernyanyi dengan kami malam ini apa boleh?"


Jenny melotot tak percaya. Cowok sinting! pekiknya dalam hati.


Mata Anthony membeliak dan berbinar-binar. "Itu ide bagus! Siapa saja boleh.. seburuk apapun suaranya. Termasuk aku. Ngomong-ngomong kalian jadi menerima rencanaku kan? Aku akan memberikan kejutan untuk istriku dengan benar-benar bernyanyi untuknya di depan banyak orang. Ia pasti tersipu malu. Aku pilih lagu kalian yang berjudul Beautiful Soul. Karena undangannya tidak terlalu banyak.. hanya teman dan keluarga dekat. It's oke. Aku akan bayar berapapun tagihannya," katanya dengan tawa yang diikuti Luke, Jenny, dan Ian. "Supaya tambah meriah dan istriku senang. Aku rela."


Lalu tawa Ian serasa hambar. Ada kilatan tak mengenakkan di wajahnya. Selma memandang wajah itu. Ia jadi bertanya-tanya apakah ada yang salah. Saat mata Selma bertemu dengan Luke. Ia mendapati ekspresi Luke juga sama dengannya. Tawa kecilnya pada obrolan Anthony, tapi pikirannya tertuju pada Ian. Sama-sama merasa tak enak dengan Ian.


Luke pun menimpali. "Tentu, sir. Dengan senang hati kami akan mengiringimu bernyanyi lagu apapun yang kau mau. Hei, kalau begitu.. kenapa tidak Selma juga bernyanyi?! Untuk Ian! Aaah.. kau tahu kan, sir.. mereka kan pasangan baru. Mungkin supaya Ian ikut senang. Sepertinya akhir-akhir ini ia agak murung," lalu Luke mengerlipkan matanya penuh arti pada Selma.

__ADS_1


Sekali lagi Selma melotot dan kini giliran ditujukan pada Luke. Sementara itu, ekspresi Ian kembali normal. Ia terlihat antusias dengan ide Luke yang sama dengan apa yang ada di otaknya. Bila itu menyangkut Selma, kenangan sedihnya jadi tak terpikirkan lagi.


Anthony terkekeh. "Ooh.. tentu saja! Bakal semakin meriah pesta ini! Sepertinya kalian pasangan serasi. Aku senang sekali melihat kalian bersama. Kau terlihat cantik, Miss Wood."


Selma jadi kikuk, "Sepertinya aku bakalan gugup sekali."


Jenny tertawa kecil. "Bahkan aku yang biasa tampil juga punya kegugupan kok. Tenang saja, Selma.. atur nafas dan tutup matamu jika akan memulai."


"Kenapa kalian jadi kompak menyerangku sih? Aku jelas belum siap mempermalukan diri sendiri," protes Selma.


Semua tertawa. "Malam ini, semua diijinkan mempermalukan diri di atas panggung kecil itu," kata Anthony sembari menunjuk panggung kecil yang sudah dipersiapkannya di ujung ruangan tengah yang besar ini. "Dengan begitu, acaranya tidak akan terasa kaku dan lebih santai lagi."


Mereka semua tertawa lagi.


Lalu kebersamaan mereka terinterupsi oleh satu suara yang menyerukan nama Anthony dari depan pintu.


"Anthony! Hei pamanku yang keren!" seru suara itu.


Tubuh Selma mendadak menegang. Tangannya meremas ujung blouse-nya kuat-kuat. Ia sangat mengenal suara yang bersumber beberapa langkah di belakangnya itu. Oooh... tidak! Bagaimana bisa?! Apa yang dia lakukan ke sini?! Oooh.. aku ingin menghilang rasanya! jerit Selma dalam hati. Kalau bisa rasanya ingin sekali ia lari dari sana.


Anthony yang berhadapan langsung dengan pintu melambaikan tangannya dengan riang. "Senang sekali, akhirnya kau datang!"


Dan sebelum Selma berniat kabur dengan pamit ke toilet, suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Sosok yang dikira-kiranya siapa itu sudah berdiri di samping Ian. Selma menundukkan wajahnya. Berusaha tak terlibat, tak dikenali, dan tak ada kontak mata.


Namun, Anthony memperkenalkan sosok itu pada mereka. "Nah anak-anak, kenalkan.. ini keponakan kesayanganku. Daniel Roger. Dan Danny, kau tahu kan mereka Black Box.. Luke, Ian, Jenny?!"


"Tentu saja, Anthony! Kau tak berhenti-hentinya menceritakan mereka padaku, sama seperti seseorang dulu. Panggil aku Danny saja, guys!" katanya dengan senyum lebar.


Tubuh Selma seakan membeku mendengar ucapan itu. Tahu persis apa yang dimaksudkan oleh laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2