
Life is too far to walk alone. You can't do it on your own. It's like bare hands digging through stone. The people gonna be okay, storms never come to stay. They just show us, how bad we need each other. And the trials of today, they are signs along the way. To remind us, how bad we need each other...
^^^How Bad We Need Each Other - Marc Scibilia^^^
00. 20 am
Selma sendiri tak mengerti dengan dirinya. Tak habis pikir dengan emosi yang berkecamuk dalam dirinya tengah malam ini. Setelah terbang dan mengembang, lalu marah dan jengkel, muak, tenang, berdebar kembali, letih, terkejut, hingga marah kembali. Ia masih tak mampu menyimpulkan sekarang ia merasa apa.
Waktu menjungkir balikkan emosinya. Waktu membawanya ke berbagai peristiwa yang berbeda dan berkesan. Kesan baik maupun buruk. Hanya dalam kurun waktu beberapa jam.
Hidupnya tahun ini penuh kontradiksi. Beberapa bulan terasa berjalan lambat dan tenang seperti tak terjadi apa-apa, meski dalam penantian panjang. Sekarang dalam sehari berubah bak arena pertandingan penuh keringat dan drama. Satu hari telah memberinya tendangan, timangan indah, rangkulan, lalu pukulan. Dengan cepat semua silih berganti. Menggantikan kelambatan dan kedataran yang belakangan membungkusnya. Hanya dalam hitungan jam.
Bila mana di sini adalah rumah. Ia mungkin sudah memilih untuk membenamkan diri di bawah selimut. Mencoba membuang semuanya di belakang. Meninggalkan semuanya dengan tidur. Memohon pada Tuhan untuk mimpi indah.
Nyatanya, semua hanya khayalan. Sekali lagi ia berjalan tak tentu arah, hanya berbeda jam. Tadi siang, kini lewat tengah malam. Selma masih berjalan di sudut-sudut kota New York tanpa seorang pun di sisinya. Perasaannya kacau. Tak menentu. Ia masih marah. Marah dengan Ian yang tiba-tiba menyemburnya seperti bunyi terompet sialan tanpa nada dan ditiup seenaknya di malam pergantian tahun yang berisik.
Sisa-sisa genangan di kelopaknya tumpah. Ia menyekanya dengan cepat. Dahinya masih berkerut, namun Selma barusaha menstabilkan diri. Masih beberapa jam lamanya menunggu pagi hingga jadwal kereta ke Norfolk tiba. Ia putuskan untuk memeriksa informasi bis atau penginapan yang dekat lewat ponsel pintarnya. Namun, baru saja membuka aplikasi, ponselnya langsung memberi salam "good bye". Baterainya habis. Tak mampu membantunya mencari jalan keluar.
Ia memekik, "Bodoh! Bodoh! Bodoh! Sialan kau!" sudut-sudut matanya kembali basah. Lagi-lagi ia menyekanya cepat.
Dalam diam. Ia terus berjalan. Dingin menyerbunya. Ia rapatkan mantelnya. Memasukkan kedua telapak ke dalam saku mantel itu. Kemudian ia berhenti dan mengerang. Menendang-nendangkan ujung sepatunya pada sebuah tiang lampu di pinggir jalan. Selma sungguh kesal dengan hidupnya hari ini. Bahkan bayangan dirinya di jalan tercetak tampak sendirian menyedihkan.
Ia lagi-lagi berusaha mengontrol emosi. Mengambil nafas panjang lalu membuangnya. Pikirannya berkelana ke sana-kemari. Mencari jalan keluar. Berpikir, Selma! Berpikir! begitu ceracaunya.
__ADS_1
Ia pun teringat tak jauh dari apartemen Ian ada sebuah penginapan. Entah itu ide baik atau buruk. Berputar ke lagi ke arah 76 Crosby Street dan berjalan jauh ke sana, ia sudah tak kuat. Apalagi sedari tadi ia tak melihat lagi ada taksi yang lewat. Ya Tuhan! Tamat kah riwayatku? takutnya dalam hati. Dan sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah menyusuri Lafayette Street dan melihat apakah ada penginapan di sepanjang jalan itu.
Tak jauh dari sana terlihat dua orang laki-laki tengah berjalan ke arahnya. Mereka cekikikan dan memperhatikan gerak-gerik Selma.Bulu kuduk Selma menegang. Selma tahu ia sedang diperhatikan. Ia hanya pura-pura tak peduli. Kedua lengannya di dekapkan ke depan, ke setiap lengannya. Seakan berharap bisa memproteksi dirinya agar tak terlihat. Sementara, suhu semakin dingin, tatapan kedua laki-laki itu meningkatkan level merindingnya. Selma menunduk sembari terus berjalan. Berharap orang-orang itu tak menghiraukannya. Tapi, terlihat semakin jelas kalau memang kedua laki-laki itu mengincarnya. Selma semakin menciut dan takut. Celaka! Tuhan tolonglah aku... pintanya dalam hati.
Hingga beberapa langkah lagi mereka mendekatinya, namun sesuatu yang lain lebih mengagetkan Selma. Sebuah rengkuhan lain di tubuhnya hadir dari belakang. Selma sangat terkejut. Tak siap jika itu serangan dari sisi lain. Ia tak tahu harus berbuat apa, tubuhnya membeku. Laki-laki yang merengkuhnya itu kini berjalan di sisinya seraya masih merapatkan diri padanya. Lebih dekat lagi.
"Kenapa kau jalan duluan sih, babe?!" lagaknya merajuk.
Sekonyong-konyong ketegangan Selma sirna. Ia bernafas lega. Kini tubuhnya merosot dan berpangku pada pelukan lelaki di sampingnya itu.
"Maafkan aku," katanya lemah. Ia tak habis pikir kenapa tiba-tiba lelaki itu ada di dekatnya. Tapi, ia tahu barusan akting yang mendadak itu untuk menjaganya.
Saat mereka berpapasan dan berhadapan dengan kedua lelaki tadi, Selma pun aman. Orang-orang itu seketika memandang acuh, mengalihkan arah, dan tak lagi mengincarnya. Kedua pria itu melangkah begitu saja menjauh darinya.
Lelaki itu memeluknya. Mengusap lembut kepala Selma. Mencoba menenangkannya, tanpa kata.
"Maafkan aku.. maafkan aku.. Aku tak tahu kenapa aku berteriak padamu. Aku hanya kesal.. tapi aku tak bermaksud membuatmu marah.. Aku..." kata Selma mencoba berbicara sembari sesenggukan.
Lelaki itu mengeratkan rengkuhannya. Entah mengapa ia juga merasa pedih. "Sssssstt... sudahlah... Aku tahu.. Tak apa, Sel. Tidak apa-apa, tenanglah... Kau hanya lelah. Ayo kita kembali," katanya lembut.
Selma mengangguk. Ia kembali berdiri tegap. Menghapus seluruh air mata yang jatuh di pipinya.
Lelaki itu memperhatikannya. Lalu tersenyum. "Sudah mendingan?"
__ADS_1
Selma mengangguk kembali. "Kenapa kau tiba-tiba ada di sini?"
Tangan lelaki itu menyentuh lembut puncak kepala Selma. Ia tersenyum simpul. "Tak tepat jam segini meninggalkanmu pergi sendiri. Aku menyusulmu. Aku mengikutimu. Bahkan sudah sejak kau menendang-nendang tiang lampu tadi."
Tawa menggema.
Selma tersipu malu. "Jangan diingat-ingat. Itu memalukan!"
"Kau tadi lucu, Selma! Menyedihkan, tapi menggemaskan."
"Oooh.. sudahlah!"
"Oke. Aku tidak akan bahas lagi. Lihat! Kau sudah sangat lelah. Ayo kita kembali!"
Selma mengangguk.
Keduanya kembali berjalan bersisian. Menuju arah mereka datang tadi.
"Kenapa kau melakukan itu setelah apa yang terjadi pada kita?" tanya Selma tiba-tiba.
Lelaki itu menengadah. Memandang langit kelam. Ia tersenyum. "Terlalu berharga jika pertemuan singkat ini berakhir seperti itu," ia diam sejenak. Lalu menatap Selma. "Aku masih ingin bersamamu hingga detik terakhir kau pergi. Aku masih membutuhkanmu di dekatku."
Kedua tangan mereka yang bersisian terasa dekat dan hangat. Bertahan di tengah dinginnya malam musim gugur. Dan tanpa banyak bicara, lelaki itu menggenggam tangan Selma. Menggandengnya pulang.
__ADS_1
Pipi Selma menghangat. Ia diam seribu bahasa dalam rengkuhan Ian.