Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 25 - 01.00 am


__ADS_3

01.00 am


Tak ada mata terpejam untuk malam ini. Tepatnya dini hari ini. Meski wajah Selma terlihat lebih kusam dan letih, matanya benar-benar bulat membuka sempurna. Lampu kamar tamu yang padam tak mampu membungkam segala pandangnya. Tak ada bunyi-bunyi membelah sunyi malam, hening, tapi ia tetap terjaga.


Ia masih saja terpaku pada langit-langit ruangan yang ia diami. Pikirannya meraba-raba. Apakah pulang menjadi sangat berat untuk kali ini? Apakah setelah ia masuk pada gerbong kereta dan melaju menjauh, Ian akan melupakannya? Apakah getaran aneh di dirinya terhadap laki-laki yang tengah terlelap itu adalah ilusi sesaat atau malah hal yang benar? Apakah gelombang yang membuat degupnya selalu meningkat tatkala di dekat laki-laki itu, akan bersemayam sementara atau justru berdiam diri lama di benaknya? Bagaimana jika hal itu malah berkesan lama dan akan menghantuinya setiap hari? Dan apakah Ian benar-benar sudah terpejam di sana? Mungkinkah ia masih memimpikan Sheila?


Selma berbalik badan ke kanan. Tak nyaman. Ia menyamping ke kiri. Tak tenang. Ia mendengus keras. Sebenarnya tak ada bau rokok atau aroma harum mengganjal di sana, maupun bau alkohol menyengat, pun sampah berserakan, apartemen itu sungguh terlalu bersih dari perkiraannya, begitu pun dengan kamar yang ditempatinya. Tetap saja ia merasa tidak pas, ada yang mengganjal dalam benaknya.


Ia terduduk mendadak. Menghela nafas keras. Ia tepuk-tepuk dadanya yang terasa aneh. Menghela nafas lagi. Beberapa kali demikian tak jera. Hingga hela nafas terakhir ia pun bangkit. Meninggalkan ranjang itu. Keluar dari kamar.


Sejenak ia berhenti, menatap pintu kamar Ian yang tertutup. Bertanya-tanya apakah lelaki itu sudah terlelap. Bagaimana rupanya ketika tertidur, apakah setenang samudera.


Selma kembali berjalan, melangkah ke dapur. Menyalakan beberapa lampu di beberapa ruangan yang dilaluinya. Ia memanaskan air kemudian mulai membuat kopi. Lagi. Kalau aku tak bisa tidur lelap begini, sekalian saja minum kopi lagi. Tak ada salahnya terjaga sampai besok naik kereta. Toh, di dalam kereta aku bisa tidur beberapa jam, batinnya.


Selma keluar dari sana dengan membawa secangkir kopi. Ia duduk di bawah sofa ruang tengah. Duduk di atas karpet hangat dengan lutut tertekuk di depan dada. Ia menyeruput kehangatan dari cangkir marmer itu. Sedikit demi sedikit melegakan. Ia menatap layar televisi yang hitam padam, sesekali bersenandung lirih sesuka hati. Lalu mengecek ponselnya. Tiga pesan menunggunya untuk dibaca.


Pesan pertama adalah balasan dari Ansel.


Ansel: Uh oh.. perasaanku kenapa tidak enak? Aku berharap kau baik-baik saja. Aku berharap Danny juga baik-baik saja. Sekarang ini dia sering muncul di televisi dan media sosial. Uugh.. seandainya aku bisa setenar dia! Jangan khawatir, aku siap menjemputmu di stasiun. Kabari saja jika mau sampai, oke? Miss you!


Selma tersenyum kecut. Ia membalas pesan Ansel.


Selma: Aku sudah merasa lebih baik, Ansel. I'll be better soon. Ok. Aku akan meneleponmu nanti. Miss you too boy!


Tak sampai lima detik setelah menekan tanda kirim, Selma membuka pesan kedua.


Lily: Selmaaaa! Kau kapan pulang? Aku sudah tak sabar bercerita padamu tahu! Kau pasti tak percaya, dia benar-benar melamarku! Pulanglah cepat!

__ADS_1


Selma tersenyum bahagia kali ini. Ah.. gadis itu. Betapa beruntung dan bahagianya dia sekarang! katanya dalam hati.


Selma: Aaaw.. dia romantis sekali! Selamat! Kau harus katakan apa saja yang terjadi padaku besok kalau aku sudah pulang. Harus!


Tak lama kemudian membuka pesan ke tiga. Ia membeliak tak percaya. Seorang bocah cowok tumben sekali mengiriminya pesan. Anak tetangga dekat yang sangat bandel ketika dulu ia masih tinggal di rumah orang tuanya. Allen Branch. Mantan bocah yang sering diasuhnya dulu ketika ia mencari kerja paruh waktu. Hingga kini hubungan mereka selayaknya kakak dan adik setelah abangnya menikah dengan kakak perempuan Allen. Hubungan mereka naik level. Dari mantan pengasuh dan anak yang diasuh menjadi sama-sama saudara ipar. Bocah SMA itu membuatnya penasaran. Ia segera membaca pesan itu.


Allen: Hai nenek tua! Apa kabar? Kapan aku boleh main ke tempatmu? Kau bilang kalau aku sudah punya temen cewek yang istimewa, aku harus mengenalkannya padamu? Boleh aku ajak dia ke sana? Kurasa aku butuh bantuanmu. Dia seperti dinding berjalan kayak dirimu.


Selma berdecak. Ia tersenyum. Gemas. Ia jadi teringat kembali punya saudara remaja yang seakan tahu segalanya, tapi di satu sisi begitu bandel. Bandel yang tak pernah ia perkirakan.


Selma: Sejak kapan kau tertarik dengan cewek hah?! Kukira jangan-jangan kau gay... Atau mungkin remaja cowok sepertimu cuma sibuk dengan dunia yang entahlah... tidak bakalan dipahami seorang cewek. Bawa dia ke kedai. Harus! Tapi, tidak sekarang pokoknya, aku masih ada urusan. Sebentar lagi kan liburan semester. Kau bisa kemari. Sekalian bantu aku mengurus kedaiku. Jangan khawatir. Kuberi uang jajan kok. :D


Tak lama kemudian Allen membalas.


Allen: Sejak kapan kau pikir aku gay?! Sorry, aku masih normal! Pokoknya bakal kujelaskan padamu kalau aku ke sana.


Selma: Kau belum tidur?! Bukannya besok kau masuk sekolah? Sudah tidur sana!


Selma membelalak membaca pesan itu. Bocah ini sinting atau apa? Jangan-jangan ia terlibat hal-hal aneh lagi.


Selma: Aku di New York. Ada urusan. Kau pikir kau umur berapa? Kau masih SMA, jangan melakukan hal-hal aneh lagi. Kalau sampai ibumu tahu, kau mau di kirim ke penjara anak kali ini?! Jangan pilih pekerjaan yang aneh-aneh, Ally. Jangan!


Allen: Sumpah ini menyangkut keselamatan hidup orang lain. Kalau dia tidak istimewa, bakalan tidak kulakukan deh. Sumpah! Untuk kali ini saja. Setelah itu aku tobat. Dan bakalan jadi remaja normal.


Selma berdecak.


Selma: Memangnya sejak kapan kau normal? Waktu balita saja kau hampir makan tanah. Kau kira itu coklat?! Pokoknya aku mau kau baik-baik saja. Jaga dirimu baik-baik, Ally. Kalau terjadi apa-apa kau harus hubungi aku.

__ADS_1


Allen: Sudah jangan bahas hal itu kenapa sih?! Memalukan tahu! Aku pasti menghubungimu. Aku jalan dulu.


Selma hanya geleng-geleng kepala. Bocah berandal itu! serunya pelan.


Pesan-pesan itu menghangatkan hatinya. Ia tersadar patah hati membuat lupa, kalau masih ada perhatian dan kehangatan dari teman dan keluarga. Dunia belum berakhir, masih banyak bertebaran cinta kasih di sekelilingnya. Di tengah keasyikannya berkirim pesan ria dan melupakan keganjilan dalam hatinya, Selma mendadak dikagetkan oleh sesuatu.


"Ya ampun! Kukira hantu!" pekik Ian dari balik sofa. Ian pun berjalan mendekat. "Kau tidak tidur? Kau ngapain?" Laki-laki itu duduk di samping Selma.


Dada Selma bergemuruh. Degupnya mendadak berpacu lebih cepat. Ia kira Ian sudah tidur pulas. Ternyata tidak, tahu-tahu sudah menghampirinya lagi. Ia tak siap, tapi juga senang. Selma mencoba tersenyum manis. Meski terasa gugup setengah mati. Mengira-ngira bagaimana Ian memandangnya. "Aku tidak bisa tidur. Jadi, sekalian saja minum kopi dan berkirim pesan dengan orang-orang di rumah."


"Kopi lagi?!"


Selma meringis. Ia mengangguk.


Tanpa aba-aba Ian merebut cangkir di tangan Selma.


Selma memekik. "Hei! Itu kan punyaku!


"Ini cangkirku." Ian meminum isinya.


Selma hanya membeliak. Bagaimana bisa Ian meminum bekas mulutnya. Dadanya kembali bergetar. "Kau tidak tidur?" tanyanya menutupi gejolak dalam dirinya.


Ian menggeleng. "Tidak bisa tidur juga." Ian menatapnya agak lama, membuatnya berdebar dan hamoir salah tingkah.


Selma pun pura-pura menyamankan posisi duduk. Lalu bertanya, "Kenapa?"


Ian diam sejenak.

__ADS_1


Selma menunggu.


"Tunggu sebentar."


__ADS_2