
07.30 pm
"Pizzanya datang!" pekik Ian dari depan pada Selma yang berselonjor di sofa dan menonton tv.
"Asik! kita makan sekarang?" kata Selma berbinar-binar.
Alis Ian terangkat. "Tidak di sini."
"Aku sudah lapar tahu."
"Sabar sedikit. Kita makan tidak jauh kok! Apa kopinya sudah siap?"
Selma mengangguk. "Aku akan ambil sekarang," katanya sudah tidak sabar dan sangat lapar.
Selma mematikan tv dan berlari ke dapur. Sementara Ian mengambil selimut besar di kamarnya dan melingkarkannya ke leher. Sukses menjuntai panjang. Ia pun ķeluar. Selma datang dan melongo.
"Itu buat apa? Dan kenapa kau tidak pakai mantel?"
"Sudah kubilang. Ini tidak jauh. Ayo ikut aku!"
Mereka keluar dari pintu depan dan berjalan beriringan. Selma membawa dua cangkir kecil dan satu teko kopi panas. Sementara itu, Ian membawa sekotak pizza dan menenteng gitarnya. Mereka berjalan beriringan.
Saat mereka saling berpandangan menelusuri lorong menuju tangga, mata Selma menyipit. "Aku jadi curiga. Jangan-jangan kau mau mengajakku piknik di daat mendung dan hari mulai gelap seperti ini?"
Ian terkekeh. "Kenapa sih kau suka sekali mikir yang tidak-tidak?! Aku jadi pingin mencubitmu. Sayang sekali ya kedua tanganku penuh."
"Memangnya kita mau kemana sih?"
"Naik ke atas."
Mereka pun naik ke dua lantai teratas dari tempat Ian.
***
"Ta da...!" teriak Ian saat membuka pintu.
Angin langsung saja berhembus dingin. Membuat Selma bergidik.
"Ayo! Kemarilah!" kata Ian yang sudah mendahuluinya.
Selma pun naik ke anak tangga terakhir dan melewati pintu. Ia sudah ada di luar.
"Jadi, kau mau mengajakku piknik di atap gedung?!" tanyanya melongo tak percaya.
Lagi-lagi Ian hanya tertawa.
"Memangnya kenapa? Salah? Aku kan sudah bilang padamu, bakalan tidak mainstream!" Ian berjalan dan duduk di sebuah sudut dekat tepian.
Selma masih tak percaya dengan hal ini dan ia mulai kedinginan.
Laki-laki di depannya itu menoleh kepadanya. "Sini!" lambainya memberi isyarat agar perempuan itu duduk di sana. "Kau mau melongo terus di situ dan mati kena hipotermia?!"
Selma langsung berlari kecil ke sana. Lalu duduk di sebelah Ian. Ia pun menata dua cangkir dan teko kopi di hadapan mereka berdua.
"Dingin ya..." kata Selma mulai tak betah. Ia dengan cepat mengusap-usap lengannya yang mulai terasa seperti ditusuk-tusuk.
"Sssttt... tidak usah banyak mengeluh begitu... Nikmati saja!" Ian pun merapatkan diri di sebelah Selma. Ia membuka lebar kain hangat yang dibawanya. Lalu menyandarkannya ke pundak mereka berdua hingga mengitari dan menghangatkan.
Selma terkesima dengan sikap Ian. Sampai-sampai ia hanya bisa terpaku memandangi wajah orang yang sudah menuangkan kopi di cangkir itu.
Ian segera menyadari hal itu. Ia menatap Selma dengan penuh tanya. "Apa? Kau mau minuman hangat tidak?"
Selma mengerjap. "Rupanya kau bisa romantis juga," ia lalu mengambil minumannya. Ia tak habis pikir dengan semua sikap Ian. Begitu hangat dan menyenangkan. Meski kadang juga menyebalkan. Ia menyeruput kopinya dan menatap ke depan. Menikmati pemandangan yang membuatnya terkesima. Ia bisa lihat pemandangan kota di sini. Meski beberapa sudut tertutup gedung-gedung tinggi, tapi cukup membuat matanya tertawan. Langit mendung tak berbintang. Tapi, cahaya dari lampu-lampu kota dan gedung-gedung bertingkat juga indah. Di kejauhan ia bisa lihat jembatan megah dengan lampu indah bertengger kokoh. Dari jauh juga terdengar suara helikopter. Rupanya helikopter kantor berita terkenal. Sayup-sayup juga terdengar bunyi klakson dan mesin kendaraan lalu lintas. Selma terkesima dengan semua. Sampai-sampai ia tak sadar Ian menatapnya dengan senyum aneh. Saat Selma sadar kalau Ian diam saja, ia menoleh dan segera terheran-heran kenapa Ian menatapnya seperti itu.
"Kenapa?"
"Tadi kau benar-benar mengakui kalau aku romantis kan?!" katanya dengan senyuman penuh kepercayaan diri.
Selma memutar bola matanya. "Please Ian! Jangan mulai lagi!"
"Kau sendiri yang bilang tadi aku romantis! Bukan salahku kan aku bicara begitu?! Aku kan hanya minta konfirmasi."
"Oke oke.. terserah kau sajalah!"
__ADS_1
Ian tertawa senang penuh kemenangan.
Sementara itu, Selma mendengus sebal. "Memangnya kau seleb famous? sampai-sampai butuh konfirmasi!"
Ian terlekeh. "Bukannya aku memang terkenal?"
"Sebenarnya aku masih meragukan itu!"
"Sebenarnya reputasiku cukup bagus, kau belum tahu sih!"
"Aku memang belum tahu."
"Lihat saja nanti!" kata Ian sembari mengambil sepotong pizza.
Mereka pun makan dengan lahap.
***
"Di sini tenang dan menyenangkan," kata Selma saat setelah menyeruput kopi keduanya.
"Kau suka?"
"Sangat suka. Seharusnya sih aku kedinginan di sini. Tapi, tidak lagi. Terima kasih banyak ya sudah mengajakku kemari! Dari sini seakan-akan aku bisa melihat seluruh kota."
Tiba-tiba Ian mengelus kepala Selma. "Sama-sama. Aku senang kau senang di sini. Harimu sudah tidak buruk lagi kan?" ia tersenyum hangat. Pancaran matanya melembutkan hari yang kasar.
Selma menatap laki-laki di sampingnya itu begitu terkesima. Ia jadi bertanya-tanya, sampai berapa besar kebaikan hati dan keramahan orang ini. Andai satu saja ia memiliki seseorang seperti Ian di hari-harinya. Pasti rasanya tidak sesepi itu. Pasti sangat menyenangkan ada seseorang datang dan berbicara tulus untuknya. Ia pun menghela nafas berat.
Dahi Ian berkerut. "Ada apa, Sel?"
"Tidak apa-apa. Cuma memikirkan betapa menyenangkannya punya seseorang sepertimu. Beruntung sekali perempuan atau teman-teman dekat yang memilikimu. Kau orang yang menyenangkan sih!"
Ian terkekeh. "Trims sanjungannya. Tapi, lagi pula aku tidak punya cewek kok. Payah ya? Padahal penggemarku yang cewek juga banyak."
Selma tertawa mendengar kenarsisan Ian yang mulai muncul. "Ironis maksudmu?"
"Yeah, ironis," ia jadi mengejek dirinya sendiri dengan tawa sakartis.
"Sudah kubilang sejak pertama kali kau ke sini, aku ini orang yang jujur. Memangnya kenapa? Kau tidak percaya?" tanyanya penasaran.
Selma menggeleng. "Aku cuma penasaran. Tadi aku menemukan sebuah foto tergeletak begitu saja di kamar. Kau dan seorang perempuan cantik. Kelihatan sekali kalau kalian sangat dekat dan spesial."
Lalu wajah Ian mengeras. Ia pun mengalihkan pandangan ke depan. Mengingat sosok yang sudah pergi. Ia menghela nafas berat.
"Ian? Kau baik-baik saja?" tanyanya cemas. Selma jadi bingung ada apakah gerangan dengan perubahan sikap Ian itu.
"Kau mau tahu kenapa aku sering bilang tentang kepergian orang-orang padamu berulang kali?"
"Apa maksudmu?" kata Selma tak mengerti. Ia jadi khawatit melihat perubahan Ian. Dalam sehari ini Ian selalu ceria dan membuatnya tertawa hingga sebal. Itu semua serasa menyenangkan. Tapi sekarang, melihat Ian yang seperti ini rasanya sungguh berbeda. Seperti melihat sisi kelamnya. Wajahnya mendadak lebih muram. Selma menjadi tak enak dan cemas. Ia memegang pundak Ian. Meremasnya lembut. "Maafkan aku."
Ian menatapnya lagi. Ia menyentuh dan mengusap lembut lagi kepala Selma. "Hei! Kenapa minta maaf? Bukan salahmu. Aku yang terbawa pembicaraan dan mengenang hal yang menyedihkan. Itu bagian dari aku, bukan salahmu Selma. Kau benar-benar mau tahu siapa dia?"
Selma mengangguk. "Tentu. Dia cantik dan terlihat lembut."
Ian tersenyum. "Dia memang seperti itu." Lalu ia kembali menatap ke depan. Mengenang semua lagi. "Dia kekasihku. Dulu. Dua tahun yang lalu dia meninggal. Namanya Sheila. Dia punya penyakit. Anemia aplastik. Berat tentu saja. Tapi, ia banyak melakukan hal yang baik. Dia suka menolong orang. Dia punya hati yang lembut dan penyayang. Siapa saja yang dekat dengannya, saat punya masalah, Sheila seakan menjadi rumah. Akan selalu merasa nyaman. Bukan aku saja. Luke juga. Bahkan orang lain yang tak kukenal. Ia tak banyak cerita jika sedang mengalami banyak hal berat, sebisa mungkin tersenyum dengan orang lain. Tapi, kami yang banyak mengeluh ini selalu mencurahkan padanya. Sheila seorang guru sekolah dasar. Ia juga aktif mengurus rumah yatim piatu. Ia suka anak-anak. Suatu saat ia ingin kami menikah dan punya beberapa anak. Tapi, penyakit itu muncul. Mengacaukan segalanya. Awalnya ia shock saat ia dalam kondisi sangat buruk. Aku juga sangat kalut. Tapi, tak lama setelah membaik ia mulai belajar menerima hal itu. Sheila begitu tabah dan kuat. Aku yang malah sering menangisinya. Sampai sekarang aku masih tak percaya... Bagaimana bisa ia yang menderita malah menenangkan aku. Dan suatu ketika, saat kondisinya sangat menurun. Ia memintaku jangan terpuruk jika ia tidak lagi di sampingku. Ia bilang ia bahagia jika melihatku bahagia. Kau tahu, Sheila selalu seperti itu. Ia sangat senang melihat orang lain yang disayanginya senang. Ia bahagia jika bisa membantu orang lain dan orang itu tersenyum karenanya. Ia setia menemaniku. Saat kondisiku kurang menentu dan tidak baik, ia selalu ada untukku. Aku banyak belajar darinya. Kau tahu, memang puas dan menyenangkan rasanya saat tahu orang lain tersenyum karenamu."
Selma takjub dengan kisah Ian. Ia mendapati raut Ian yang begitu mengagumi Sheila. Perempuan itu sanggup membuat sorot mata Ian mengenangnya dengan indah meskipun sosoknya sudah tak ada.
Ian pun kembali menoleh pada Selma. "Well, aku tahu aku akan selalu merindukannya. Tapi, aku tahu aku juga harus bahagia dan membuat orang lain bahagia. Seperti katanya dulu. Dan itu memang hal benar yang harus kulakukan." Ian tersenyum pada Selma. "Sekarang kau tahu kan kenapa aku sering bilang... untuk orang yang setia, hanya kematian yang membuat mereka pergi meninggalkan kita."
Selma membalas senyuman itu. Penuh dengan ketulusan. "Aku sudah mengerti sekarang. Terima kasih sudah membaginya denganku. Itu indah, Ian."
Lagi-lagi Ian menepuk dan mengelus lembut kepalanya. Ia tersenyum. "Terima kasih kembali sudah mendengarkan aku."
"Well, aku selalu suka mendengarkanmu." Selma terkekeh. Ia selalu senang mendengarkan Ian bernyanyi. Suaranya menenangkannya. Ia keren saat bermain gitar.
"Oke. Jadi, mau tidak mendengarkan aku bermain?"
Mulut Selma mengembang dan merekah. Wajahnya berbinar-binar. "Pasti mau!"
Ian mengambil gitar yang tergeletak di sampingnya sembari terkekeh. "Kalau kau suka dengan satu hal kau terlihat seperti anak kecil melihat banyak jajan dan mainan."
Selma pun tersipu malu. "Oh sudahlah! Jangan goda aku lagi! Kau mau mainkan apa?"
__ADS_1
"Kau mau dengar lagu apa?"
Ian mulai memetik senar asal-asalan. Sesekali ia menatap perempuan di sampingnya yang terlihat sedang berpikir. "Jangan lama-lama memikirkan lagunya!"
Mereka tertawa.
Selma pun menepuk kedua lututnya yang sedang duduk bersila. "Oke. Suasana seperti ini aku ingin mendengarkan... Foreign Fields!" pekiknya.
Alis Ian terangkat satu. Selalu ingat kalau ia dan Selma menyukai lagu-lagu Foreign Fields. "Fake Arms, Miss Stranger?" tanyanya meminta persetujuan.
"Tentu saja!" kata Selma dengan semangat dan bibir merekah.
"Kalau begitu kau boleh bernyanyi bersamaku."
"Tidak! Aku tidak akan mau mengacaukan suaramu."
Ian terbahak. "Kalau begitu nanti setelah acara kau harus bernyanyi dengan Black Box! Oke? Itu perintah sebagai bayaran kau menginap di sini."
Selma melotot. "Kau sudah gila ya?! Kau mau aku menghancurkan reputasimu? Demi apa aku harus tampil di depan banyak orang?!"
Ian tertawa lagi. "Demi aku! Nah kau sudah sadar aku punya kegilaan heh? Sapa suruh kau mau tinggal di sini."
"Iaaan! Dasar sinting! Kau sekarang menjebakku ya?"
Ian menahan tawanya. Berusaha meredakan hasratnya untuk terus menggoda Selma.
"Oke. Kalau itu maumu. Toh setelah ini aku akan pergi dari sini. Jadi, kalau aku malu aku tidak masalah karena aku tidak kenal mereka dan akan pergi dari sini."
Ian menghela nafasnya. "Jadi kau benar-benar akan pergi ya.. coba saja agak lama. Aku masih ingin bersamamu."
Mendengar perkataan Ian dengan ekspresi melembut itu, entah mengapa juga membuat Selma terdiam. Hatinya tersentil. Seperti panas yang diberi es batu.
"So spesial untuk Miss Stranger," katanya kembali memetik senar.
"Fake Arms," Ia bergantian memandang Selma, gitar, dan langit serta pemandangan di depannya yang menghampar luas. Memainkan lagu dan hanyut masuk ke dalamnya.
Selma menatap terus laki-laki di sampingnya yang mulai memainkan lagu itu. Ia pun terhanyut juga.
Candles aren't lit yet
We just became friends
Friends again
I drove off my dreams
To make you real again
I hung my flag high
I won't ever forget
Eating my pride
I taste gold on my tongue
See white from my eyes
And when I'm asking for your hand
But you're coming home instead
I'll ask for so much more
Never to leave me again
If I leave this town for Tenn
I'll see mountains again
But if I can't see you
I've lost it all my friend
__ADS_1