Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 31 - Roger is too complicated


__ADS_3

"Aku baik-baik saja. Aku akan segera kembali. Tidak perlu cemas." Singkat, padat, jelas. Begitulah jawaban Selma setelah menerima serbuan kata-kata tanya dan cemas dari telepon Ian yang pada akhirnya Danny berikan. Lalu segera mematikannya.


Danny memperhatikan perempuan di dekatnya itu. Tercengang dan tersadar. Selma yang dulu sudah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang lebih kuat. Kepakan sayapnya menggetarkan fajar, sampai-sampai ibunya yang keras itu sejenak melupakan betapa kukuhnya ia menjaga pendirian.


Nyonya Roger itu masih menatapnya dengan keterpukauan yang jelas-jelas terlihat. Sementara Selma masih sibuk memberikan ponsel Danny kembali.


"Aku akan pergi sekarang," katanya pada mereka semua. "Aku tidak mau menjadi bagian dari keributan dan situasi yang bikin repot," Lalu ia menatap Danny, "Terutama, aku tidak ingin memberatkanmu. Teruslah melaju, Danny."


Lamat-lamat wanita yang melahirkan Danny itu mengangguk pada Selma.


"Terima kasih untuk itu semua."


Muda-mudi di sekeliling wanita itu menatap tak percaya. Apakah itu sebuah gencatan senjata atau hal lain. Tapi, bagi Nyonya Roger, ia benar-benar berterima kasih atas sikap maklum dan bijak yang dengan rela Selma berikan padanya. Sebetulnya tak semudah itu mengekang pilihan puteranya. Tapi, ada hal lain yang baginya harus ditepati.


Sedari kecil Poppy sudah menjadi bagian dari keluarganya, tumbuh bersama Danny. Dahlia Roger telah mengikat janji, akan menjaga puteri kecil itu dan membuatnya menjadi bagian dari keluarga Roger ketika dewasa kelak. Perjodohan itu sudah lama terancang semenjak ibu Poppy meninggalkan dunia ini. Puteri semata wayang sahabatnya yang sudah banyak membantu karirnya melejit, selalu bersikap manis dan memiliki sisi manja yang sukar untuk dielak siapapun. Ia sudah jatuh hati pada gadis itu, semenjak Poppy yang kala berusia tiga tahun, berlarian lincah dengan gaun cantiknya, dan cekikikan bermain bersama Danny kecil. Sampai akhirnya puteranya itu mengetahui perjodohan itu, hal yang membuat Danny pergi meninggalkan rumah, mematahkan hati para perempuan di rumahnya itu.


Tak pernah Dahlia pikirkan bahwa rencana itu membuat Danny kecewa. Ia pikir puteranya akan bahagia, tapi ternyata ia dianggap telah mencampuri kebebasan yang seharusnya Danny bisa pilih sendiri. Berbagai cara dari yang halus membujuk hingga keras mengultimatum, tak dapat membuat Danny kembali. Danny memilih menyingkir ke apartemen pribadinya di Norfolk, tidak begitu mewah, tapi cukup membuatnya menenangkan diri dan berjuang membangun karir dari nol, tanpa embel-embel nama mentereng keluarga dan segala fasilitas yang keluarganya berikan. Alih-alih menerima jalur mudah dan hal mewah dengan syarat harus segera bertunangan dengan Poppy dan mendapat publisitas, Danny bekerja paruh waktu sembari menyelesaikan studinya untuk mendapat gelar BA Drama dan Teater di Norfolk State University.


Dalam perjalanan itulah, ia bertemu Selma. Sebuah coffee shop sederhana nan nyaman di wilayah Genth, selalu menjadi pilihan Danny untuk menghabiskan waktu menyelesaikan berbagai tugas dan merancang proyek menulisnya. Bisnis kecil Selma itu, menjadi pilihan utama Danny ketika ada pertemuan komunitas atau membahas proyek dengan para aktor teater lainnya. Pelanggan tetap itu lambat laun menjadi dekat dengan sang pemilik coffee shop itu, membagi dunia yang sefrekuensi, saling mendukung satu sama lain, lalu menjadi sepasang kekasih. Tak disangka semua menjadi sulit bagi Danny, ketika tawaran besar ia peroleh di New York, membawanya kembali ke lingkaran lama, dan peran media tak bisa membuatnya mengelak ketika di sebuah pemotretan ia terlihat dekat dengan Poppy. Spekulasi merebak, ikut melambungkan namanya, dan segera saja Dahlia Roger mengambil sikap mendukung atas situasi tersebut. Sekarang, cerita antara ia dan Selma harus berakhir begitu saja. Tapi ia tak tahu bagaimana mungkin ia bisa melupakan Selma secepat itu.


"Kau sudah membuat ini semua jungkir balik, mom! Apakah kau juga tidak akan mengijinkanku mengantarnya untuk terakhir kali?" tuntut Danny tajam.

__ADS_1


"Untuk terakhir kali, Danny... Kau boleh pergi," perempuan berpendirian keras itu berlalu sambil terus mengawal Poppy masuk ke dalam.


***


Tak pernah Selma bayangkan hubungannya dengan Danny akan berakhir sedramatis ini. Mungkin ketika ia pikirkan lagi masak-masak di rumah, ia tak akan menyesali potongan hidup yang sudah ia jalani dengan Danny, mungkin ada sesuatu berarti di sana yang bisa ia pelajari untuk melangkah ke depan. Lelaki yang kini kembali mengantarnya ke kediaman Ian, nampak masih berusaha keras menguasai diri. Gejolak emosi masih berusaha menenggelamkannya. Selma menyentuh pundak Danny, mengusapnya perlahan, menguatkan.


"Ini... Bukan akhir segalanya kan?"


Danny tak menjawab. Selma terenyuh.


Ia menunduk, lalu menatap ke luar, ke kejauhan. "Kadang kita berekspektasi sesuatu, tapi realitanya tidak bisa sejalan, Danny. Aku yakin Tuhan menyiapkan sesuatu yang lebih besar bagi kita semua setelah ini."


"Aku tahu. Tapi, aku tidak tahu harus bagaimana melewati prosesnya setelah ini. Ada kontrak yang menuntutku harus profesional, sementara aku sendiri... Tanpa kalian semua di Genth. Kau... Kawan-kawan baikku."


"Kau tidak tahu betapa tersiksanya aku harus melakukan itu dengan terpaksa."


"Danny... Pasti ada alasan khusus kenapa ibumu memilihnya, melakukan itu... Semua ibu ingin yang terbaik untuk anaknya."


"Itu kan baginya..."


Selma menghela nafas. "Cobalah membuka diri dengannya..." mengatakan itu membuat Selma sedikit tersengat.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana denganmu?!"


"Aku tidak apa-apa," susah payah Selma mengatakannya. Seperti ada duri mengganjal di kerongkongannya.


"Sel..."


"Dengar. Membuka hati untuk orang lain, pada awalnya memang sulit. Tapi, itu sudah pilihanmu untuk kembali kemari dan menjalani semuanya, ada mimpi yang harus kau kejar bukan?! Aku juga begitu. Di tengah hatiku yang teriris-iris entah bagaimana Tuhan mempertemukanku dengan Ian. Aku tidak tahu apakah ia jawaban atas hal ini. Aku memang pernah bertemu dengannya lama, tapi aku baru saja mengenalnya. Aku juga tak mau gegabah. Aku butuh waktu. Aku juga tidak mau mengecewakannnya. Dan selagi itu berjalan... Aku harus kembali ke Norfolk, melewati hari-hariku di Genth, melanjutkan melakukan beberapa hal penting."


Hening. Tau-tau mobil sudah berhenti di depan apartemen Ian.


"Maafkan aku, Selma."


Selma memeluknya. Erat. Lalu melepasnya. "Kita akan sukses, Dan... Kita bisa! Terima kasih untuk semuanya... Semua waktu yang sudah kita lalui bersama."


Danny hanya mengangguk pasrah. "Terima kasih, Sel."


Selma turun dari mobil itu.


Danny mengambil ponsel dari saku dan menghubungi satu nomor, mungkin untuk yang terakhir kalinya.


"Dia sudah tiba. Tolong, jaga dia baik-baik." Singkat, padat, lalu Danny menutup telepon itu.

__ADS_1


Ia memilih segera pergi dari sana. Tak mau melihat Selma dengan lelaki lain jalan bersama.


__ADS_2