Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 8 - 03.32 pm


__ADS_3

03.32 pm


Saat ia mengutarakan tentang urusan kedua itu pada Ian, ia lagi-lagi teringat Danny. Urusan pertama itu sebenarnya juga ada sedikit sangkut pautnya dengan urusan kedua. Danny adalah *performer po*ems profesional yang sudah punya beberapa buku. Ia punya penggemarnya sendiri. Cukup sukses dan banyak.


"Dulu.. saat mengenalnya dan dia bersamaku.. aku merasa seperti menemukan orang yang tepat. Kita berbagi dunia yang sama. Aku dan dia membahas tulisan dari beberapa karya orang lain. Saat aku menulis, ia dengan usil merebutnya dan membacanya keras-keras. Tidak hanya sajak-sajakku, kadang juga naskah novel yang kubuat. Ia total memasukkan ekspresi dan mendalami emosi yang ada di sana. Tidak jarang, ia juga membantuku mengoreksi, mencoba memberi masukan. Dalam berbagai even, sering kali aku menuliskan puisi dan ia yang mengisi acara dan menampilkannya. Ia juga aktif bermain teater," Selma menatap langit, mengenang hal yang sudah berlalu.


Ian sesekali mencuri pandang. Ia menyimak dengan baik.

__ADS_1


"Danny orang yang ambisius. Aku optimis, tapi juga sering pesimis. Danny selalu mendorongku. Suatu ketika ia membaca naskah yang sedang kurevisi. Ia bertanya padaku saat aku sedang membereskan ruang tengah, 'Kau benar-benar berniat menerbitkannya?' Aku menjawab kalau aku sangat ingin menjadi novelis. Ia mendatangiku dan menepuk-nepuk kepalaku, 'Kembangkan lagi imajinasimu! Berusahalah! Kalau saatnya tiba dan kau siap, datanglah padaku. Aku ingin sekali membacanya. Aku punya beberapa kenalan yang terkoneksi dengan beberapa agen.' Sebulan kemudian, seseorang menghubunginya. Memberinya penawaran untuk mengisi beberapa acara di sini. Aku melepasnya pergi hingga stasiun. Kuberi ia sebuah buku kumpulan puisi Rumi. Lalu ia teringat sesuatu bahwa ia juga sedang proses menerbitkan kumpulan puisi lainnya. Ia teringat dengan apa yang kukerjakan. Ia berkata hal yang hampir sama dengan sebulan sebelumnya. Ia berangkat dengan penuh harap dan wajah berbinar. Sebulan berikutnya komunikasi kami menjadi jarang. Lalu menjadi hilang." Selma menghela nafas panjang.


Perempuan itu berkata lagi, "Jadi, aku datang ke sini karena aku benar-benar mencarinya. Karena selama beberapa bulan aku hidup dalam bayang-bayang tidak jelas karena dia menghilang dariku. Mungkin seharusnya ia sudah menikah denganku."


Ian tertawa sinis. "Tapi, kenyataannya tidak."


"Tidak sama sekali!" Jelas Selma. "Dan aku kemari ingin bertemu dengannya karena ia membuatku terus bertahan mewujudkan mimpiku. Naskah ini.. aku merasa siap ingin menerbitkannya. Aku ingin sekali memberitahunya, memberikan padanya agar ia bisa membacanya. Yeah.. seperti katanya dulu. Janji kecil yang ia buat untukku, kalau ia akan mendukung dan membantuku. Kau tahu, setiap bab yang kubuat itu, sebagian besar ia selalu hadir di sana. Di sampingku. Tapi, sekarang ada orang lain di sisinya. Aku tidak tahu harus bagaimana dengan naskah ini sekarang."

__ADS_1


Tiba - tiba Ian menyodorkan naskah itu ke depan wajahnya. "Kau bisa menerbitkannya, menyimpannya di gudang, memberikannya pada mantanmu itu, atau MEMBUANGNYA!" tekanan pada kata terakhir itu begitu terasa. "Kalau kau benar-benar penulis, kau tidak akan kapok membuat yang baru!" katanya sembari menatap Selma berapi-api.


Selma hanya tertegun. Terkejut dengan penuturan itu. Mereka berdua berhenti. Selma mengambil naskah itu, memasukkan kembali ke dalam tas, sembari juga menatap Ian. Entah apa yang mereka maksudkan, seperti saling mencari hingga sampai ke dasar pemikiran masing-masing melalui retina masing-masing.


Dan saat itu terjadi, perempuan itu merasakan gerakan cepat. Gerakan yang menerjangnya dari samping. Tangannya seakan tertarik sebentar lalu terlepas. Ia menoleh. Tasnya sudah tak ada di tangannya.


Selma menatap ke depan. Seseorang bertudung dan berjaket hitam berlari cepat. Selma memekik, "PENCURI! Tasku dicuri!"

__ADS_1


Ian dengan gerakan cepat membanting tas gitarnya ke trotoar dan mengejar orang itu dengan gesit. Sedangkan Selma syok. Ia segera tersadar dan memungut tas gitar milik Ian. Ia mendekapnya di dada dan segera berlari menyusul. Selma sangat khawatir. Jantungnya berdetak cepat.


"Iaaaaaaan!" pekiknya sambil berlari.


__ADS_2