
02.05 pm
"Apa dia lupa?" Kata Selma mulai tak sabaran.
Ia mengetikkan pesan.
Selma: Aku sudah ada di Bow Bridge. Aku memakai jaket hitam dan scraf hijau tua di leher. Kau jadi datang kemari atau tidak?
Namun, Ian hanya membaca pesan itu tanpa membalas. Selma berdecak kesal. Ia merutuki diri. Merencanakan bertemu Ian sepertinya sama saja menambah daftar deretan kekecewaannya hari ini. Ia berharap Ian jadi menemuinya dan tidak memperburuk suasana hatinya lebih dalam.
Baru saja Selma berniat pergi dari sana, ketika sebuah pesan muncul.
Ian: Jangan pergi dulu! Aku janji tak sampai sepuluh menit aku sudah ada di sana.
Bagaimana bisa ia tahu aku akan pergi?! benaknya terkejut. Selma melotot pada layar ponsel. Meyakinkan diri Ian benar-benar jadi menemuinya.
"Ya ampun! Dia serius datang betulan!"
Sisa sembab di mata Selma belum sepenuhnya menghilang, dan Ian akan ada di hadapannya tidak sampai sepuluh menit. Sepuluh menit! Selma panik. Sangat gugup. Ia mengambil tisu basah dan mengelap mukanya. Lalu sedikit merapikan penampilannya. Ia tak mau terlihat kacau di hadapan Mr. Stranger. Ini pertama kali mereka bertemu. Ia tak ingin meninggalkan kesan jelek. Selma menghirup nafas panjang dan bersandar pada pagar dinding jembatan sembari menatap ke depan. Menenangkan diri. Gugup tak akan hilang. Ia tahu. Setidaknya ia terlihat lebih tenang. Ia memandang langit. Ia berdoa semoga pertemuan ini menyenangkan dan bisa mengusir suasana hatinya yang buruk.
02.12 pm
"Lihat! Sampai menjelang sore begini cuaca masih mendung." Satu suara datang dari sebelah kanan Selma tanpa ia sadari.
Selma menoleh terkejut.
Laki-laki berambut pendek dan ikal itu tersenyum padanya. Parasnya yang menarik itu tak jauh beda dari foto profil yang biasa Selma lihat. Selma terkesima menatap sosok itu secara langsung. Uniqe, Rebel, Charismatic. Ian Walsh. Senyumnya menular.
Laki-laki di samping Selma itu menjulurkan tangannya. "Halo! Ian Walsh di sini."
Selma mengerjap. Ia tersenyum dan segera membalas jabat tangan itu. "Hai! Selma Wood di sini."
Mereka tertawa bersamaan.
"Sudah lama sekali... Aah... aku rindu kopi dan donat di kedaimu."
Selma terperangah. "Baru sekali berkunjung sudah rindu?"
__ADS_1
Ian tertawa. "Bahkan aku rindu orangnya..."
"Kita kan belum benar-benar berkenalan, ya ampun!"
Mereka tertawa lagi.
Selma dan Ian saling memandang. Menelisik raut masing-masing selama beberapa detik.
Selma mengingatnya. Ian belum banyak berubah. Pertama kali lelaki itu datang ke kedainya, selepas sebuah tour musik. Saat itu harinya buruk. Hujan badai, kedai sepi, sedang ia sehabis bertengkar hebat dengan kekasihnya, tepat saat hari ulang tahunnya. Ian datang begitu saja masih menenteng tas berisi gitar akustik kesayangannya. Memilih meja depan bar. Mereka mulai bercakap-cakap, dari basa-basi sampai mengenal satu sama lain. Lalu Ian memberinya sedikit hiburan dengan mengarang satu bait lagu singkat sebagai hadiah ulang tahunnya.
"Aku tidak mengira akhirnya kita bisa bertemu lagi di sini, " kata Ian.
Selma mengangguk, "Aku juga tidak mengira. Sama sekali."
"Jadi, kau sudah pergi kemana saja?"
"Soho, dan ke tempat di foto-foto yang sudah ku upload."
"Mainstream!" Ejeknya.
Selma meninju lengan Ian pelan. "Lalu aku harus kemana? Kau lupa ya aku di sini sendirian? Aku tak tahu harus kemana lagi. Tujuan utamaku kan bukan untuk jalan-jalan."
Selma tertawa kecil, "Kau benar. Ngomong-ngomomg kenapa kau lama sekali?"
Ian terkesiap. Ingat kesalahannya. "Ooh... maafkan aku. Seharusnya aku memberitahumu. Saat kita berkirim pesan, tadi aku ada di sela pekerjaan. Aku harus tampil di sebuah acara pernikahan. Dan setelah selesai, aku langsung kemari. Aku sampai harus menolak hadir di perayaan hari jadi pernikahan orang tuaku untuk datang kemari."
Selma terkejut dan tidak enak mendengar hal itu. "Ya ampun pantas saja, kau terlihat agak formal. Kenapa kau tidak bilang padaku. Kita tidak perlu bertemu kalau begini... aku minta maaf..."
Ian memotong pembicaraannya, "Kau tidak perlu minta maaf. Aku senang kok kita punya kesempatan bertemu. Lagi pula hanya sampai tadi siang aku ada pekerjaan, nanti malam juga. Sekarang kosong. Dan.. mana mungkin aku berkata tidak padamu. Ini kesempatan langka tahu! Aku sangat bersemangat begitu mengetahui kau di sini. Sepertinya aku punya firasat aku tidak akan menyesal lebih memilih bertemu denganmu." Ian mengerlingkan mata. "Jadi, kalau tidak salah ingat kau bilang aku tuan rumahnya, ya..."
Selma tersenyum antusias. Ia mengangguk.
"Jadi aku yang harus punya ide kita akan kemana..." Ian tersenyum dan Selma merasa ekspresi itu cukup menggodanya.
"Kau akan mengajakku kemana?" katanya tak sabar.
"Sayang sekali ini bukan musim panas. Kalau iya, aku pasti sudah menyeretmu ke konser musik gratis."
__ADS_1
"Tapi sayangnya, langit sedang mendung. Aku berharap tidak hujan."
Ian mengangguk, "Kalau begitu ayo ikut aku ke tempat bagus."
Selma pun berjalan kembali. Kali ini tidak sendiri. Ia berjalan bersama Ian.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Ian tak sabar sedari tadi.
"Apa saja."
"Sepertinya matamu terlihat sedikit sembab. Apa kau tadi habis menangis? Apa kau baik-baik saja?"
Selma malu. Ia jadi teringat sesuatu yang berusaha tidak ia ingat lagi. Baru beberapa menit Ian bertemu dengannya, tapi Ian selalu tepat mengenai dirinya.
Selma menghela nafas. "Tidak apa-apa kok."
"Bohong."
"Ya ampun... Apa sejelas itu mukaku terlihat berantakan?"
"Tidak juga. Hanya saja saat melihatmu dari awal, seperti ada bekas habis menangis di kelopak matamu. Sedikit sih..."
"Terima kasih sudah perhatian. Hariku lumayan buruk."
"Ada apa?"
"Itu terkait dengan alasanku datang kemari," kata Selma dengan raut muka mengeras dan tertunduk.
Mereka terdiam beberapa saat.
Lalu saat berjalan bersisian itulah Ian menyenggol bahu Selma. Sengaja. Saat Selma menoleh padanya. Ian menghibur dengan tulus. "Kalau begitu setelah ini aku akan membuatmu banyak tersenyum."
Selma terpana dengan kelakuan laki-laki di sampingnya itu.
"Lagi-lagi, Ian... Kita baru saja kita bertemu, dan kau sudah sudi menghiburku?"
"Menghibur orang sudah jadi pekerjaanku tahu! Tidak usah skeptis begitu."
__ADS_1
Mereka pun tertawa.