Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 21 - 09.37 pm


__ADS_3

09.37 pm


"Apa kau bersama dia sekarang?" Suara berat itu mengagetkan Selma.


Si pemilik suara yang paling tidak ingin ditemuinya itu kini malah berada di sampingnya. Tentu saja dada Selma terasa tak enak. Berdegub lebih cepat, jengkel, dan masih ada nyeri di sana setiap melihat wajah Danny. Mau apa lagi dia?! kiranya dalam hati.


"Tentu. Aku bersamanya," Selma menjawab hal itu dengan susah payah mencoba terlihat meyakinkan.

__ADS_1


Alis Danny sedikit terangkat. Ada raut kecewa terlihat di sana, "Secepat itu ternyata kau bisa jalan dengan pria lain," entah apa maksud Danny, tapi bagi Selma itu seperti mengejek dan menyinggungnya.


"Kalau kau mau bilang aku perempuan murahan, tahan itu! Aku bukan mainan seperti pikiranmu!" katanya sinis.


Danny melotot mendengar nada super ketus dari Selma. Dia tak habis pikir bagaimana wanita lembut dan manis yang dikenalnya itu bisa bersikap sekasar itu. "Hei.. hei.. bukan begitu maksudku. Maaf. Kupikir kau masih memikirkanku. Tapi, aku... entahlah.. bagaimana bisa kau jalan dengan pria lain setelah kau baru saja pergi dariku?!"


Selma melotot, "Kau mabuk?! Apa maksudmu?! Kau mau aku terpuruk berbulan-bulan hanya untuk meratapi dirimu yang dengan brengseknya menusukku dari belakang, begitu?! Maaf saja! Tidak akan! Aku hanya menyesal sudah membuang waktu berhargaku hanya untuk menunggumu yang tengah bersenang-senang dengan perempuan lain. Selebihnya.. persetan dengan semuanya! Aku sudah muak! Dan ingat! Ingat baik-baik! Bukan aku yang pergi duluan dari kita! Tapi, kau yang pergi! Kau, Dan!"

__ADS_1


Tangan Danny mencekalnya. Menarik lengannya agar tak pergi. "Setiap kali aku memikirkanmu, kau tidak tahu betapa aku merutuki diriku sendiri! Aku menyesal, Selma. Aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Aku masih memikirkanmu, aku masih mencintaimu. Tapi, adanya perempuan itu menghalangiku kembali kepadamu. Aku tak bisa mengelak saat tiba-tiba orang tuaku menjodohkanku dengannya. Orang tua kami rekan bisnis yang sangat dekat, ditambah popularitas Poppy yang mereka pikir akan membantu karirku. Aku tak bisa mengelak itu semua. Tiap hari aku memikirkanmu, aku menyesal tak memberikan kabar padamu... aku tak tahu harus memulai dari mana... Aku..."


Sebuah petir menyambar dadanya. Betapa naifnya ia, betapa bodohnya, menggantungkan harap pada lelaki dari kalangan tidak biasa seperti Danny. Tanpa pernah memikirkan, kenapa Danny tak pernah membawanya dekat pada orang tuanya, kenapa Danny hidup sendiri dari nol di Norfolk, meninggalkan segala yang ia punya di New York. Daniel Roger, pada awalnya membuatnya terkesan dengan tidak mudah mengambil hak istimewa keluarganya, dan berjuang sendiri. Tapi di akhir, Daniel Roger tetaplah anggota keluarga Roger yang dunianya terlalu jauh berbeda dari ia yang hanya perempuan biasa.


Satu tangan Selma yang bebas menampik dengan keras genggaman tangan Danny di lengannya. Mata Selma kini mulai nanar, "Kau pengecut!" ditatapnya mata biru itu tajam. "Danny kau pengecut! Kalau kau memang masih mencintaiku, kau tak akan seperti ini dan memilih berjuang untuk kita berdua. Sekarang, tinggalkan aku sendiri!"


Selma pergi dari sana. Menerobos keramaian yang mengisi ruangan mewah itu. Ada di dalam sebuah pesta seperti itu tambah membuatnya pusing. Ia butuh udara segar dan tempat yang melegakan.

__ADS_1


Ia tak habis pikir betapa pengecutnya lelaki yang selama ini berjuang dengannya. Betapa polos dirinya membaca segala situasi yang ada, walaupun beberapa kali petunjuk mampir berusaha mengetuknya.


Selma mempercepat langkahnya. Tak menggubris panggilan Danny di belakangnya. Hingga ia juga tak sadar seseorang nampak sangat cemas dengan kepergiannya yang mendadak itu. Ian. Laki-laki itu masih melakukan pertunjukkannya dengan perasaan tak tenang. Sementara itu, Selma pergi dengan taksi. Bergumul dengan perasaannya yang kacau lagi di tengah-tengah kota New York yang tak pernah tertidur.


__ADS_2