
06.38 pm
Ia membuka pintu kamar dan keluar. Sepi. Apartemen itu sunyi. Ruangannya tertata lumayan rapi dan nyaman. Perabotannya tidak banyak, namun terlihat berkelas. Selma masuk ke sebuah ruangan di dekat dapur. Ia menginjakkan kaki di karpet yang super hangat dan empuk. Sebuah studio rupanya. Dengan beberapa alat instrumen, sound equipment, dan sebuah laptop di atas meja. Di dinding dekat meja banyak sekali pajangan, kliping dari media tentang Black Box yang berpigura, dan juga kertas-kertas yang tertempel rapi. Berisi berbagai memo atau catatan. Nomer telepon, alamat, jadwal pertunjukan, beberapa gambar, tanggal penting. Mata Selma berhenti di tanggal penting.
2 Januari Ultah Dad
3 Maret Kakek meninggal
19 April Ultah Abby
7 Mei Ultah Luke
24 Juni Ultah Shania
3 Agustus Silent Day
Kening Selma berkerut. Tak mengerti dan penasaran. Ia bertanya-tanya dalam hati, Silent day? Maksudnya apa? Berdiam diri? Mencari ketenangan? Atau jangan-jangan mengheningkan cipta? Dan untuk dugaannya yang terakhir itu rasanya ia sedikit bergidik membayangkan kematian. Yah, meskipun ia tahu semua pasti akan mati. Ia jadi teringat lagi kata-kata Ian yang diungkapkan padanya saat masih hanya berkirim pesan dan saat mereka bertemu tadi.
Untuk orang yang setia, pada akhirnya hanya kematian yang membuat mereka pergi meninggalkan kita.
Kemudian perempuan itu kembali membaca list.
16 Agustus Ultah Mom
29 Agustus Ultah Jenny
10 September hari jadi BLACK BOX
"Hmmm... memangnya sudah berapa lama project musik Ian ini terbentuk?" tanyanya sendiri.
4 Oktober pindah apartemen
28 Oktober Ultahku
Lalu mata Selma terbelalak ketika mendapati satu tulisan lain di bawahnya. Daftar tanggal penting yang ditulis dengan bulpoin warna biru. Yang sepertinya menandakan kalau yang satu itu baru ditulis dibandingkan yang lain dengan warna hitam tebal. Ia masih tak percaya dengan tanggal yang sekarang ditatapnya berulang kali itu.
__ADS_1
29 Oktober Ultah Ms. Stranger.
***
06.58 pm
"Selma? Kau masih di sini?" kata Ian setengah teriak saat mendapati kamar tamu setengah terbuka dan kosong.
"Selma?" katanya lagi mencari-cari.
Tak ada sahutan. Dahi Ian berkerut. Ia jadi berpikir Selma sudah pergi. Lalu ia menggelengkan kepala, ingat bahwa tadi ia melirik tas Selma yang masih tergeletak di bufet kamar. Laki-laki yang mengenakan celana training dan kaus putih polos itu menguap sambil melangkah ke dapur. Tak ada siapa-siapa di sana. Begitupun saat ia memasuki ruang depan. Ian pun membuka pintu studio sederhananya. Lampunya menyala. Ia rasa Selma di dalam sana. Tapi, ia tak melihat sosok itu. Ian menghela nafas dan mengingat-ngingat apa tadi dirinya atau mungkin Luke yang lupa mematikan lampu. Luke memang pengacau. Ia jadi berpikir ulang apakah tepat saling memiliki kunci apartemen masing-masing di antara mereka. Meskipun Luke selalu berantakan, tak rapi, tapi ia orang yang dapat dipercaya. Salah satu sosok paling setia dalam hidupnya hingga dua belas tahun ini. Ia jadi teringat satu sosok setia lain yang sudah tidak ada. Hah! Betapa hidup bisa tak terduga! Ia menghela nafas. Menarik rambut kuat-kuat ke belakang dengan jemarinya. Berusaha menjauhkan pikiran menyedihkan itu dari kepalanya.
Ia pun berniat mematikan sakelar lampu. Namun, sebelum Ian akan melakulan itu, ia menangkap satu sosok bertengger di sudut balkon di luar studio. Pantas tidak menyahut!
Selma nampak santai di sana. Rambutnya terikat dan tergulung agak tinggi. Manis dan lucu. Ian tersenyum sendiri melihatnya. Ia melangkahkan kaki mendekat. Membuka pintu kaca itu. Selma spontan membalikkan badan mendengar kenop pintu dibuka
Ia tersenyum ramah pada Ian. Ian membalasnya.
"Di sini kau rupanya!" Ian menggosok-gosokkan bahunya segera setelah mulai tertiup hawa dingin musim gugur. Ia bersandar menghadap luar tepat di sebelah Selma. "Aku mencarimu. Kukira kau sudah pergi."
Ian mengikuti arah pandang Selma ke depan. Ke jalanan di bawah sana yang masih banyak orang lalu lalang. Dan ke gedung-gedung dengan lampu yang menyala di setiap jendelanya. "Apa kau mau semalaman bertengger di sini dan mati kedinginan?"
Selma terkekeh. Ia menoleh lagi dan menatap Ian hangat. "Tentu saja tidak!"
"Pukul sembilan nanti aku ada jadwal tampil. Hanya untuk empat lagu. Teman Luke yang wartawan merayakan hari jadi pernikahannya. Ada timbal balik keuntungannya. Dia suka musik kami. Dan berjanji akan mengulas kami lebih menonjol. Itu bonus yang sangat menguntungkan," katanya antusias.
Selma senang mendengarnya. "Itu bagus kan?! Kalian bisa tambah dikenal."
Alisnya terangkat dan merasa percaya diri. "Kau tahu, kami sebenarnya sudah cukup dikenal. Ada beberapa penggemar yang setia datang saat kami main dan bahkan memberikan kami hadiah. Itu pengalaman yang luar biasa. Aku tak mengira. Dulu kami hanya senang bermain musik. Membuat musik yang bagus untuk kami sendiri dan teman dekat. Lama-lama semua menyebar. Kesempatan sedikit demi sedikit datang. Dan kuputuskan keluar dari kantor dua tahun ini. Membuat musik sepenuhnya sekaligus menghibur banyak orang di banyak acara dan tempat. Bersama Luke dan Jenny. Luke sahabatku sejak SMP. Jenny adalah teman dekatnya saat kuliah. Kami memutuskan bergabung saat tahu punya pemikiran yang sama dalam bermusik. Yah... meskipun kadang ada juga perbedaan pendapat."
"Sudah berapa lama kalian bersama. Maksudku Black Box.. sudah berapa lama dibentuk?" tanya Selma penasaran saat mengingat deretan tanggal penting di dinding.
"Sebenarnya kami sudah bermain bersama saat kuliah.. cuma untuk memenuhi hasrat dan mengisi waktu luang. Dan saat tahun ketiga kami di kampus.. saat ada sebuah festival musim panas, beberapa teman menyarankan kami untuk ikut. Kami pun memantapkan diri mendaftar. Saat itulah kami bingung mencantumkan nama. Dan tepat di hadapan kami ada beberapa kotak hitam tertumpuk. Saat kami tanya ke petugas kotak apa itu. Ia bilang itu harta karun para pemusik. Dan kau tahu, isinya adalah perangkat elektronik di panggung. Jenny bilang, 'kenapa tidak?!' akhirnya Luke menulis Black Box untuk nama kami."
Selma tertawa kecil. "Aku kira maksudnya semacam bom atau seperti kotak hitam dalam pesawat begitu! Kau tahu... hal penting yang perlu dicari kalau pesawat kenapa-kenapa."
__ADS_1
Ian terkekeh. "Kotak hitam di bidang ini juga penting tahu! Kalau tidak ada wadah itu peralatan-peralatan inti bakalan tak tersimpan dengan baik. Pertunjukkan bakalan tidak berjalan mulus. Benar juga petugas itu bilang harta karun. Lagipula kotak hitam kan kesannya misterius dan membuat penasaran. Kami ingin Black Box seperti itu."
"Oke. Lumayan keren," Selma tersenyum.
"Ngomong-ngomong kau mau ikut tidak ke acara setelah ini? Tidak akan lama. Lagi pula kau bilang kau suka dengan musik kami. Bukannya hal itu yang membuat kita pertama kali berhubungan di sosmed?" Ian pun terkekeh mengingat kejadian setahun lalu.
Namun, Selma mulai ragu. "Oh! Kau masih ingat ya rupanya?! Tapi, kalaupun aku mau, masalahnya aku tidak bawa gaun!"
"Kau tidak perlu dress. Acaranya santai kok. Kau hanya perlu pakai make up yang cantik! Tapi, kalau natural begini.. "Ian mengamati wajah itu. "Kau juga sudah terlihat oke sih."
Wajah Selma segera memerah. Ia membuang muka. "Trims." Ia segera memikirkan alasan untuk menghindari muka Ian. "Eh, aku ingin sekali minum kopi panas. Apa kau mau?" Ia segera berbalik dan melangkahkan kaki ke dalam.
"Tentu! Udaranya semakin dingin," Ian pun mengikuti Selma masuk ke dalam. "Kau mau kopi panas apa karena perkataanku membuat mukamu panas?!" godanya dari belakang.
Selma mengibaskan tangannya ke Ian. "Oh sudahlah Ian! Diamlah! Jangan suka menggodaku!" dan ia lagi-lagi bergumam sendiri, kenapa ia selalu tahu apa yang kupikirkan sih?!
"Biasanya kalau fans digoda idolanya pasti bakalan senang kan?!" Ian pun tersenyum jahil menatap punggung Selma yang diekorinya.
Selma berbalik badan mendadak. Melotot dan berkacak pinggang. Membuat Ian kaget setengah mati. "Kau narsis ya ternyata! Siapa bilang aku fansmu hah?! Aku tidak mengikrarkan diri sebagai fansmu tahu! Aku cuma menikmati musikmu!"
Ian terbahak-bahak melihat mulut Selma yang sudah cemberut. "Terserah kau sajalah!" Ia pun memegang kedua bahu perempuan itu dan membalikkannya. "Sudah, ayo jalan dan bikin kopinya!" Dan mereka kini jalan beriringan seperti kereta.
Tanpa Ian tahu, rasanya leher Selma menegang. Jantungnya serasa bertalu-talu dan gugup.
Mereka melangkah ke dapur. Selma cepat-cepat melepaskan diri dari Ian dan hal itu malah membuat Ian mendadak menjadi kikuk. Selma menutupi kegugupannya dengan segera membuatkan kopi di dua cangkir lumayan besar. Sementara Ian menelepon. Ia memesan pizza.
"Setelah pizzanya datang. Aku ingin kau ikut aku. Aku mau menunjukkan tempat asik," katanya dengan riang untuk mencairkan suasana.
Selma mengaduk sambil terkekeh. "Terus pizzanya bagaimana? Tidak jadi dimakan?"
"Kita makan dan minum kopi di sana. Isi penuh lagi saja tekonya!" katanya sembari menerima cangkir dari Selma.
"Kau mau kita terjaga semalaman?!" perempuan itu melotot.
Ian terkekeh. "Sepertinya aku senang kalau terjaganya berdua bersamamu!" katanya lalu berlalu menuju studio lagi. Meninggalkan Selma yang masih membentuk huruf O di mulutnya dengan wajah mulai memerah.
__ADS_1
"Cowok ini!" pekiknya di dalam dapur sendiri.