Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 19 - 09.15 pm


__ADS_3

Mata Selma menelusuri segala arah. Anthony Rogers sedang di anak tangga dan menggenggam tangan istrinya. Ia memberikan beberapa patah kata sebagai ungkapan terima kasih kepada undangan yang sudah datang. Dengan sikap dan kalimat santai ia lontarkan beberapa lelucon dan juga kisah lucunya yang manis ketika bersama istrinya dulu. Beberapa hal yang membuatnya hingga sekarang masih mencintai wanita di sebelahnya itu. Wanita berambut sebahu itu tersipu. Ia tersenyum sangat tersanjung dan bahagia. Dress simpel selutut berwarna kuning itu menambah aura kecantikan dan keceriaannya. Lalu Anthony mengecupnya dengan lembut diiringi siulan dan tepuk tangan meriah semua orang. Tak terkecuali keponakan laki-lakinya yang persis berada di bawah anak tangga.


Selma memperhatikan laki-laki itu dari deretan belakang. Meski beberapa bulan membuat penampilan Danny berbeda, ia masih saja bisa mengenali sosok itu. Tubuhnya yang tegap, wajah menawannya, dan terpancar rasa percaya diri yang lebih tinggi. Penampilannya lebih seperti pria-pria metropolis dari pada Danny yang dulu. Ia tak lagi berpotongan rambut sebahu, bersih dari jambang tipisnya, dan jauh dari ke-rebel-annya. Sekarang rambut pirang kecokelatan bergelombangnya lebih tertata rapi, pendek, dan berkilau. Penampilan yang sangat terawat dan nampak mahal.


Danny sesekali menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Mencari-cari seseorang. Apa dia mencariku? alis selma terangkat. Untuk apa lagi ia mencariku? Danny bodoh! katanya sendiri dalam hati. 


Namun, Selma tertipu oleh pikirannya sendiri. Saat ia melihat seorang perempuan yang pernah dilihatnya di depan apartemen Danny kemarin. Perempuan sama yang kini datang entah dari mana berjalan santai menuju Danny lalu merangkul laki-laki itu dengan mesra. Tepat ketika Danny menengok ke belakang, melihatnya, tersenyum padanya, dan akan berjalan ke arahnya. Ekspresi Danny menegang seketika.


Langkah Danny jadi tertahan seketika saat perempuan yang sering Selma lihat di majalah itu bergelayut manja di lengan Danny. Danny menoleh ke perempuan itu saat berbicara. Perempuan itu mengecup pipi Danny lalu kembali menatap ke depan, ke arah Anthony dan istrinya. Danny hanya menunjukkan senyum tipis lalu kembali bertepuk tangan ketika pamannya selesai berbicara.


Selma diguncang sekali lagi. Tatapannya membeku di pasangan itu. Andai ada pintu kemana saja seperti milik Doraemon, ia memilih masuk ke pintu itu dan langsung pulang dari pada harus melihat hal memuakkan di depannya. Ia lelah kenapa rasa sesak dan panas masih saja merayapi dirinya. Ia tak mengerti mengapa ia masih tak rela. Sakit. Sangat sakit, jika harus melihat adegan ketika mantan tunangannya sendiri sedang mesra bersama dengan perempuan lain tak lama setelah mereka berpisah. Jika ada petasan di sakunya, ia ingin sekali melemparnya ke dua orang itu.


Matanya mulai meradang. Rahangnya kembali mengeras. Terlalu sesak ada di sini. Ia tak sekuat itu. Ia ingin pergi. Matanya mencari-cari pintu keluar. 


Dua langkah ia berjalan ke arah pintu secara diam-diam. Namun, secara tiba-tiba satu tangan menarik pinggangnya ke pelukan seseorang. Ian. Lagi-lagi Ian. Sontak ia terkejut. Ian menatapnya dan menggeleng. Seakan memberikan isyarat bahwa keluar dan pergi dari sana adalah ide yang tidak bagus.


Selma ingin protes. Ia menggeleng. Berusaha melepaskan diri. Tapi, semakin keras ia mencoba berontak, semakin erat pula tangan Ian menahannya.


"Ian.. lepaskan aku!" bisiknya.


Ian menatapnya tajam, "Tidak Selma!"


"Please.. kubilang lepas!"


Ian tetap tak bergeming sedikitpun, "Bertahanlah sebentar lagi!"


Sudut-sudut kelopak Selma mulai tergenang. Ia menggeleng pelan, "Aku tidak bisa.. aku.. please, Ian..." Setetes air mata sukses meluncur di pipinya.


Raut wajah Ian melembut. Ia menggeleng, "Jangan! Jangan di sini! Jangan lemah di hadapannya!" dengan ujung jemari dihapusnya air mata perempuan itu.

__ADS_1


"Aku tak sekuat itu."


"Kau harus."


Selma menggeleng. Ia menghapus sisa air matanya yang meleleh di antara kelirihan pembicaraan mereka berdua, "Aku tidak sekuat itu Ian!"


"Kau bisa."


"Tidak!" Selma menggeleng.


Ian menangkup kedua pipi Selma. Ia mendekatkan wajah itu. Lalu menatapnya dalam-dalam. "Setidaknya demi aku.. bukan untuk dia. Please, Selma? Jangan pergi. Aku tidak mau kau pergi dariku begitu saja hanya karena ini. Percayalah padaku, keluar sendiri sekarang adalah ide buruk. Please.. Demi aku, maukah kau ada di sini bersamaku hingga aku selesai melakukan pekerjaanku? Setelah itu kita akan keluar."


Selma menatap kedua mata itu. Mata lebar yang indah dan selalu mencairkan ketegangan dalam dirinya. Entah apa yang dicari-carinya di sana. Beberapa detik kemudian Selma memutuskan untuk menunggu. Ia mengangguk pelan. Ian lega. Sementara itu, Selma takut tak siap jika berhadapan dengan Danny lagi.


"Aku akan di sini saja. Melihat dan menunggumu dari sini," katanya pada Ian.


"Baiklah. Kalau mau ke tempat lain.. jangan jauh-jauh. Oke?!" desaknya pada Selma. Ia belum rela jika tiba-tiba Selma pergi dan mereka tak bisa bertemu lagi.


Tiba-tiba satu suara menyerobot percakapan mereka.


"Aaaaaah... di sini rupanya!" seru Luke dari samping.


Jenny terkekeh, "Aku kira kau lupa ada tugas di sini yang harus diselesaikan," Ia menatap Selma dan Ian bergantian. "Aku bisa maklum kalau pasangan kekasih baru selalu menggebu-gebu. Jadi, bisa dilanjutkan saja nanti?"


Luke dan Jenny tertawa bersama.


Ian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu. Mendadak jadi salah tingkah.


Wajah Selma merona,"Sudah sana kalian bertiga pergi bertugas!"

__ADS_1


"Siap, mam! Aku dan Jenny ke sana dulu."


Ian mengangguk.


Luke dan Jenny mendahului Ian menyiapkan alat mereka.


Ian menatap Selma lagi. "Jangan kemana-mana! Tetap tenang seperti ini, oke?!"


"Baiklah."


Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Ada kilatan tak enak di mata Selma yang berhasil di tangkap oleh Ian. Lirikan mata Ian mengikuti arah mata Selma yang sekilas tertuju pada sosok Danny di depan meja berisi minuman. Laki-laki itu memegang dua gelas minuman. Berdiri di sana sembari menatap Selma. Seperti ingin melangkah ke hadapan Selma. Sekarang Selma bak rusa yang siap ditangkap oleh si cetah. Sebelum ia mendengking ketakutan. Ian menangkup kedua wajah itu.


"Malam ini.. di sini.. apapun yang terjadi, aku masih bersamamu. Oke? Bukan dia. Lihat aku!" Ian menegaskannya lagi, menatap dalam pada kedua matanya.


Selma menggangguk.


Ian mengecup dahi perempuan di hadapannya itu lima detik. Bila dikatakan pura-pura memang iya, untuk menegaskan pada Danny secara tidak langsung. Bila dikatakan tidak bohongan juga memang iya, karena itu yang ingin ia lakukan. Agar Selma tetap menatapnya. Tapi, mereka tidak tahu si cetah tetap menatap tajam pada mereka. Apalagi melihat apa yang baru saja Ian lakukan pada Selma. Tubuh laki-laki itu menegang. Tangannya menggenggam leher gelas begitu kuat.


"Apa ini bagian dari akting kekasih palsu?" tanya Selma.


Ian mengerlingkan mata. "Mungkin..."


"Kau ambigu sekali!"


Ian tertawa kecil. "Tergantung bagaimana kau merasakannya. Nah, sekarang aku ingin kau tersenyum saat kutinggal. Oke?"


"Baiklah, tukang ngatur!"


Mereka tertawa.

__ADS_1


"See you soon, Stranger!" Ian pergi ke panggung meninggalkan Selma.


Selma tersenyum mendengar kalimat itu. Ia tak lepas menatap Ian yang tengah bersiap-siap bersama Luke dan Jenny. Sampai ia tak memperhatikan lagi ke arah Danny yang tengah berjalan ke arahnya.


__ADS_2