
03.00 am
Waktu, terasa cepat ataupun lambat, membawa manusia pada perubahan-perubahan. Perubahan yang tidak diinginkan maupun dingiinkan, yang mengajarkan banyak nilai-nilai kehidupan. Seperti yang dikatakan seorang legendaris, William Shakespeare, bahwa waktu terasa lambat bagi yang sedang menunggu, terasa cepat bagi yang merasa takut, terasa sangat lama bagi yang sedang sedih, terasa sangat pendek bagi yang sedang senang, tapi waktu menjadi abadi bagi mereka yang mencintai. Semua itu sudah Selma rasakan, demikian dengan Ian. Waktu mengahajar mereka, dan mengajarkan banyak hal pada keduanya.
Ian tak tahu apakah ia akan menghadapi taraf itu. Ketika simpati yang terbangun begitu cepat, bertransformasi jadi benih-benih cinta yang bertunas, menjadi abadi sampai akhir waktu. Ketertarikan yang kuat dan kasih yang meletup tak terbendung, mengaduk-aduknya dalam waktu seharian. Ia tak memiliki kuasa atas waktu dan bagaimana hati berkata.
Di dini hari yang semakin gigil, tubuh mereka kian merapat. Ian hanya berhenti di sepasang mata safir itu, mata yang ia rela terpenjara di sana barang sejenak. Ian tak mampu melaju hingga hidung dan bibir merah jambu itu. Takut, jika setelah ini tak lagi ia temui, pikirannya tak bisa melepaskan. Takut terjerat sangat lama sampai rindu yang sakit menghujamnya.
Sekali, dua kali ia kecup kening itu. Turun ke kedua kelopak yang terpejam meresapi hening syahdu. Ia tergoda lebih jauh, sampai terhenyak oleh suara ketuk pintu yang tak sabaran.
Selma menjauhkan diri. Ian bangkit. Sama-sama terperanjat dan terheran dengan siapa yang datang sedini ini.
Lelaki itu berjalan ke arah pintu, mengintip di celah kecil siapa yang datang. Luke datang dengan seseorang. Ia pun membuka pintu.
"Ada apa Luke?"
Tiba-tiba bahunya terdorong. Seorang lelaki bertopi menerobos begitu saja, tak sabaran. "Dimana dia?!"
"Apa-apaan ini?!" pekik Ian tak terima kediamannya dimasuki paksa orang asing.
"Dia mencari Selma. Dia membuat pamannya memohon padaku untuk mengantarkannya padamu. Dia tahu, Selma pasti sedang bersamamu," jelas Luke setengah panik ketika tahu ini menjadi sesuatu yang tidak diinginkan sekarang.
"Sialan!" umpat Ian.
Mereka pun bergegas ke ruang tengah. Dan melihat Daniel Roger tengah beradu mulut dan memohon-mohon pada Selma.
"Sudah terlalu lama, Danny! Kenapa kau baru muncul dan berniat memperbaiki semuanya..." wajah Selma terlihat murka.
__ADS_1
"Aku bingung, aku bimbang... Kau tahu kan, aku dari awal membangun karier dan impianku dari nol, berusaha sendiri di tepi menuju tengah, dan ketika sampai di sini, tentu saja ayah, ibu, paman, bibiku mengatur segalanya tanpa kuminta."
"Sudah kukatakan, kau terlalu pengecut untuk hubungan ini!"
"Tapi, aku terus memikirkanmu, Selma... Aku ingin kembali ke Genth... menjelaskan situasinya padamu, tapi jadwalku padat, dan ketika ada kesempatan, perempuan itu membuatku tak bisa mengelak menghabiskan waktu bersamanya, keluargaku senang bukan kepalang dengan hubungan yang terancang ini, publik bersorak-sorai, media melambungkan namaku. Sebelum aku bisa kembali ke Genth, kau sudah muncul mendahului rencanaku..."
"Rencana kau bilang?! Apa lagi rencanamu kali ini?!"
"Membawamu ke depan keluargaku, supaya aku punya kesempatan menolak perjodohan itu," Danny menarik tangan selma, menggenggamnya kuat, "Aku bisa membawamu ke sana sekarang, supaya kau tak lagi berkata aku pengecut."
Selma terkejut. Tak mampu berkata dan berlaku apa. Ia mengikuti tangan yang membawanya itu. Tak tahu apakah ini benar atau salah, tak tahu apakah ini tepat atau tidak, tak tahu apakah kali ini Danny serius atau tidak. Sampai hampir di depan pintu ia tersadar dari lamunan dan rasa syoknya tadi, saat suara Ian berseru padanya.
"SELMA!"
Lelaki itu menggeleng padanya. Tidak suka, tidak menyetujui langkahnya mengikuti Danny.
Selma diam di tempat.
Lagi-lagi Ian menggeleng. "Please..." pintanya.
Dada Selma berdegub cepat.
"Selma! Please, kali ini saja... Ikutlah denganku... Agar aku ada kekuatan dan cela untuk mematahkan semua ini," suara di belakang Selma menggema membuatnya dilema.
"Kenapa kau tidak melepaskan saja tangannya dan enyah dari sini?!" teriak Ian.
"Jangan ikut campur! Ini urusan kami, kau bukan siapa-siapa!"
__ADS_1
"Tahu tidak kau bisa dituntut karna sudah membuat kegaduhan di tempat ini!"
Danny tertawa sarkastis. "Kau kira itu mempan?! Gertakanmu itu seperti kucing mengeong!"
"Jaga ucapanmu!" bentak Ian lagi. Ia sudah tidak tahan dengan kekacauan yang tiba-tiba Danny ciptakan di tempatnya yang selalu tenang ini.
Luke menahan Ian. Meremas bahu karibnya itu agar tak bertindak gegabah. Ia mencegah kalau-kalau Ian melangkah maju dan membuat Daniel Roger babak belur. "Tahan, Ian. Kalau kau bertindak kasar... kita berhadapan dengan media besar. Bisa kacau semuanya!"
Ian menghela nafas. Berusaha tidak muntab.
"Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya dulu..."
"Tidak, Luke."
Danny kembali meraih tangan Selma. Menggandengnya keluar dari pintu. "Ayolah Sel, kita keluar dari tempat sialan ini!"
"SELMA!" pekik Ian tak tahan. Ia cepat-cepat mengejar mereka.
Ian tak tahan lagi. Ditariknya tangan Selma dari Danny hingga perempuan itu tersentak ke arahnya. Diraihnya tengkuk perempuan itu. Lalu menciumnya dalam-dalam. Ian menangkup pipi perempuan itu, dan menatap kedua mata almondnya.
Danny menoleh. Terkejut, "Hentikan itu brengsek!"
Selma menatapnya syok. "Ian!" pekiknya, sembari menahan Danny agar tak maju menghajar Ian.
"Kumohon, jangan pergi... Jangan pergi dengannya. Kau berhak lebih bahagia dari sebelum ini. Jangan kecewa lagi lebih dari itu, berbahagialah!"
Selma tak mengerti kenapa Ian begitu peduli. Apakah yang Ian berikan lebih dari sekedar rasa simpatinya. Tapi, mendapati kegigihan Danny kali ini yang terus memohon dan mencarinya, Selma tak kuasa membendung pertahanannya dari secuil harap yang berusaha ia kikis sampai tuntas.
__ADS_1
Selma menangkup telapak tangan Ian yang menghangatkan kedua pipinya itu. Dengan intens ia pandang lamat-lamat kedua bola mata kelabu di hadapannya. "Aku berjanji, aku akan lebih berbahagia lagi. Biarkan aku pergi dulu, aku ingin memastikan semuanya dengan tepat sesuai dengan yang kuinginkan."
Ia lepaskan genggaman tangan Ian. Meskipun ia tahu Ian berusaha menggenggamnya lebih erat. Lalu ia berbalik dan berjalan pergi mengikuti Danny.