
Ian kira saat ini ia akan melepas kepergian Selma di stasiun. Kenyataannya, Selma pergi mengikuti langkah Daniel Roger. Ia tak rela melepas Selma pergi dengan cara seperti itu. Sudah dipastikan Selma lagi-lagi tak mengikuti jadwal keberangkatan kereta untuk kedua kali. Ian tak tahu lagi, perempuan itu akan kembali ke Norfolk, Virginia dengan apa dan kapan, sendiri atau kembali bersama lelaki yang sudah mengecewakannya itu.
Ian tersiksa diombang-ambing prasangka, tanpa kepastian didapat. Sedari tadi ia malah dipeluk dingin di atap gedung.
Ia tak percaya, beberapa jam lalu ia menikmati waktu bersama Selma di atas sini, berbagi cerita hidup, saling menghangatkan, lalu sekarang ia termenung sendiri di tempat yang sama. Betapa waktu yang dinikmati itu cepat sekali berlalu.
Beberapa rencana ia rangkai di kepala. Mungkin saja ia bertekad menemui Anthony Roger, dan membangun alibi agar bisa bertemu keponakannya, meminta alamat tempat tinggal lelaki itu, lalu menemuinya sekaligus mencari Selma. Mungkin setelah ini dalam rangkaian tour, ketika sampai di Norfolk, ia akan sekonyong-konyong singgah di kedai kopi Selma, mengejutkan perempuan itu. Atau mungkin, ia akan melupakan sama sekali, dan siapa yang tahu ia akan bertemu dengan Selma-Selma yang lain.
"Ian..." Luke memanggilnya dari balik pintu atap gedung. Melongok, memastikan karibnya itu baik-baik saja.
Ian hanya menoleh, mengedikkan dagu, lalu kembali menatap ke kejauhan.
Luke berjalan mendekat. Ia duduk bersila di samping Ian. "Kukira kau sudah berniat melompat dari atas gedung ini."
Mereka tertawa. "Kau kira aku sudah gila?!"
Luke mengedikkan bahu, "Soal asmara kan bisa saja buat semua orang jadi buta dan gila."
"Aku tidak tahu... Apa ini soal asmara, atau aku hanya bersimpati dan peduli padanya."
Luke tersenyum. "Kau peduli kan padanya?"
"Begitulah..."
"Kau memikirkan dia setiap saat?"
"Sejak beberapa kali saling berkirim pesan padanya aku selalu tidak sabar menunggu pesan baru darinya, aku bisa seharian di depan ponsel dan bercakap-cakap dengannya lewat pesan itu. Dan kurasa memang sejak itu aku terus memikirkannya. Bahkan malam ini, aku dibuat jungkir-balik mencemaskannya, mencarinya kesana-kemari."
Luke menepuk bahu Ian. "Sudah dipastikan, ini soal asmara. Kau belum pernah segila ini sebelumnya, semenjak Sheila pergi."
"Aku tidak tahu harus apa..."
"Ya ampun! Tidak tahu?!"
__ADS_1
Ian menatap Luke sarkastik. "Lalu aku harus apa?!"
"Memangnya kau tidak mau memperjuangkan soal asmaramu kali ini? Kejar sana!"
"Aku tidak tahu dia dimana."
"Bukankah Selma tadi pergi tidak membawa apa-apa?"
Ian tersadar akan sesuatu. "Kau benar!"
Lelaki itu bangkit dan kembali ke kediamannya. Ia memeriksa kamar tamu. Ia menemukan semua barang Selma masih tergeletak di atas nakas kamar itu, tidak terkecuali ponselnya yang masih terisi daya. Ia raih benda itu, menggeser layarnya hingga menyala. Ia meminta ampun pada Tuhan kali ini mencuri lihat sesuatu yang bukan haknya. Ian mencari-cari nomor Danny. Tanpa pikir panjang, ia menelepon nomor itu.
Hanya nada sambung terdengar. Tak sampai hitungan menit panggilan ditolak. Ian frustasi. Pagi butanya hari ini jadi sirine meraung-raung.
***
03.45 am
Selma memegang erat sabuk pengaman kursi penumpang depan di SUV hitam itu. Ia menampik halus telapak tangan Danny yang bebas dari kemudi, yang berusaha menggenggam tangannya. Dalam diam ia berusaha menjernihkan diri, mencerna semuanya.
SUV hitam itu berhenti di seberang sebuah townhouse putih lantai lima. Bangunan megah itu bergaya abad 19, dan dari luar nampak anggun dan tenang, layaknya nyonya bangsawan mengawasi sekitar. Selma ciut, membayangkan seperti apa ibu dan ayah Danny, dan jika ini berlanjut ia tidak yakin akan mau sering-sering terkoneksi dengan tempat itu.
"Kita sampai... mungkin ibuku belum di rumah. Kita bisa menunggu sebentar."
"Boleh kutanya sesuatu?"
"Apa saja, Selma."
Mereka masih duduk di jok mobil. Meredam gejolak dan kegugupan satu sama lain, sebelum melangkah lebih lanjut.
"Kau yakin mencoba hal ini, Dan?"
Lelaki itu mengangguk mantap. Menatapnya intens.
__ADS_1
"Jika itu berjalan lancar, kemana kau akan membawaku? Apakah kau memikirkan tempatku di Genth?"
"Aku akan membawamu kemari, Sel. Di kota ini, kita akan menjadi besar bersama. Kedaimu bisa ditinggalkan kan?" tatapnya sendu, "Kau tahu, sekarang ini kita bisa mengontrol bisnis dari jarak jauh."
Dahi Selma mengerut. Jawaban Danny mencubitnya. "Apa kau memahami, ini bukan hanya tentang bisnis kecilku, tapi hidupku ke depan, tempat nyaman dimana aku pulang setelah mengerjakan banyak hal..."
"Kita bisa membahas hal itu nanti... Kita harus bertemu ibu ayahku dulu."
"Boleh ku bertanya tentangnya?"
"Dia ambisius, sistematis, cerdik, dan dia sibuk mengelola beberapa butiknya."
"Bagaimana dengan dia... Perempuan itu?"
Tak dinyana, sebuah porsche merah berhenti di depan pintu masuk kediaman itu. Seorang perempuan dari balik kemudi turun, masih anggun mengenakan gaun hitam suteranya lalu membukakan pintu penumpang. Wanita paruh baya dengan busana senada juga turun dari mobil itu. Mereka bagai ibu-anak sosialita yang serasi.
"Poppy..." Danny sedikit terkejut.
"Aku tak perlu bertanya lagi. Dia ada di sini. Dengan... Ibumu?"
Danny terdiam, yang artinya bagi Selma itu benar.
"Mereka pulang sepagi ini berdua... Sungguh sangat akur," kata Selma dingin. Menyadari jelas-jelas ia tak punya tempat di sini.
Dada Selma berdebar ketika kedua perempuan itu memperhatikan ke arah mereka. Rupanya menyadari kedatangan Danny dan nampak curiga. Langsung saja mereka melangkahkan kaki ke arah mobil Danny.
"Ada sebuah acara gala besar... mereka ada di dunia fashion, tentu saja mereka kompak datang."
Tapi, Selma tak menggubris penjelasan itu. Saat tiba-tiba ponsel Danny berdering dan memecah fokus mereka. Danny terheran dengan telepon masuk itu. Ia menunjukkan layar ke hadapan Selma.
"Kau meneleponku?"
Selma menyadari sesuatu. Ia meninggalkan ponselnya. Itu pasti Ian. Lelaki itu masih mencarinya.
__ADS_1
"Biar aku jawab telepon itu..."
"Kita keluar sekarang, itu lebih penting," sahut Danny sembari mematikan telepon masuk itu sebelum bisa Selma raih ponselnya.