
^^^It's a wide ocean and a tight emotion, and our homes are chosen, yet still we're all broken.^^^
^^^It's been a while now, since that old town down by the water, picking stones from the ground.^^^
^^^Take me home, to the friends I've always known. Take me home, back to the place where I belong.^^^
^^^Hollow Coves - Home^^^
Lelaki itu dengan sigap sudah membuka pintu depan gedung apartemen itu. Tepat ketika Selma menuju ke sana. Rasa syukur dalam hati Ian membuncah, begitu lega, menggantikan rasa cemas yang sedari tadi mengukungnya.
"Jadi?" tanya Ian yang menyambutnya sangat antusias. Ia sudah tak sabar mendengarkan penjelasan Selma.
Selma berjalan mendekat. Menggelengkan kepala sebagai isyarat akhir cerita dengan Danny yang baru saja ia alami. "Tamat."
Ian merentangkan tangannya lebar-lebar. Selma pun jatuh di sana dengan senang hati. Begitu nyaman. Aroma maskulin itu menusuk inderanya, membuatnya merasa betah jika berlama-lama di sana.
"Kau sedih?"
Selma memincingkan mata, mendongak pada lelaki yang seharian ini sudah menjaganya. "Agak sedikit sedih untuk Danny. Aku sudah paham situasi sebenarnya bagaimana. Dan sebetulnya aku malah merasa sangat lega dengan ending ini. Sebetulnya dia tidak sebrengsek itu," Selma menghela nafas, "Bagaimana pun ia pernah menjadi bagian dari hidupku selama ini, bagian dari hidup orang-orang di sekitarku juga. Tidak hanya aku, beberapa orang juga punya hubungan baik dan peduli padanya. Jadi... yeah... Meskipun hubungan romansa ini tidak berjalan mulus, setidaknya kami tidak bermusuhan."
"Tidak mau membahas detailnya kepadaku?"
Selma menggeleng.
"Tidak?"
"Tidak."
"Kau yakin?"
"Yakin."
Ian tersenyum. "Sayang sekali... Padahal aku sangat ingin tahu detailnya."
Selma tertawa. "Mungkin... Lain kali. Kalau kau ke Norfolk?" godanya.
"Memangnya ada lain kali?"
__ADS_1
"Memangnya Blackbox tidak punya fanbase di Norfolk sampai-sampai kau bertanya-tanya bakal ke sana lagi atau tidak?"
Ian terkekeh.
"Serius... Masa kau tidak akan ada jadwal tour yang akan mencantumkan Norfolk lagi sih?!"
"Kau mau aku bilang ke manajer untuk mencantumkan Norfolk lagi seperti tahun lalu?"
Selma mengangguk.
"Dengan satu syarat."
Selma mendelik. "Apa syaratnya?"
"Selama di Norfolk aku tinggal dan istirahat di tempatmu. Aku tidak mau hotel. Aku ingin menu makanan kau yang siapkan, begitu pun kopi dan cemilan. Hanya untukku."
Selma terbahak. "Syarat macam apa itu?!"
"Terima atau tidak?"
Perempuan itu terkekeh. "Baiklah... Syarat diterima."
"Antusias sekali sih?!"
"Seorang Ian akan antusias jika itu mengenai Selma Wood "
Jantung Selma pun berdebar seketika.
"Tidak usah gugup begitu."
"Siapa yang gugup hah?!"
Ian tertawa. Mengacak gemas kepala perempuan yang berjalan di sisinya itu. Sekali lagi, dada Selma bertalu-talu. Tak seirama langkah kaki mereka yang perlahan menapaki lorong lantai bawah.
Mereka pun melalui satu per satu anak tangga dengan langkah ringan. Seakan Selma sudah menganggap tempat itu adalah sebuah basecamp lain. Serasa memasuki rumah ketiga, setelah kediaman sederhananya dan rumah orang tuanya. Sampai di lantai yang dituju, di depan sebuah pintu coklat kayu yang nampak elegan, Ian menyodorkan kunci padanya.
Dahi Selma mengernyit. "Kau menyuruhku membuka kunci pintunya?"
__ADS_1
"Barangkali kau mau, supaya terbiasa, kalau-kalau aku memberimu kunci cadangan seperti aku memberikannya pada Luke."
Sontak perempuan itu terbelalak. "Kau serius? Kau sedang ngelantur atau apa? Sepertinya kita berdua memang benar-benar kurang tidur."
Ian ngakak.
"Benar kan... Kau bercanda. Konyol!"
"Tidak, Selma... Aku serius kok."
"Aku kan akan pergi. Kenapa kau mau memberinya padaku?"
Ian menelan ludah. Ia berdeham. Menatap lekat-lekat kedua retina perempuan di hadapannya itu. "Begini..."Ia menghela nafas. Berharap tak salah bicara. Berharap kata-kata runtut yang ia seleksi tepat sasaran, dan tidak membuat suasana di antara ia dan Selma menjadi ganjil dan tak nyaman. Ia pun lanjut berkata, "Sepanjang beberapa jam dalam seharian ini, rupa-rupanya aku merasa kita begitu terkoneksi dan... Sejujurnya aku merasa nyaman dekat denganmu. Rasa-rasanya... Aku ingin menghabiskan banyak waktu denganmu. Jadi, mengingat jalur dan rutinitas kita berbeda... Aku tidak berkeberatan kalau tahu-tahu kau bosan dan ingin menghabiskan waktu kemari. Aku akan selalu menunggumu."
Ian menghela nafas sejenak. Begitu lega mengeluarkan gumpalan yang sudah sedari tadi menyekat tenggorokannya.
Selma ikut menghela nafas. Ia tersenyum dan tersanjung mendengar pengakuan tulus itu dari Ian. Betapa dadanya terasa hangat di pagi hampir beku yang mulai menggeliat ini.
Beberapa kali Selma menunduk dan menatap mata Ian bergantian, lamat-lamat, sembari berkata, "Aku tahu, aku juga merasakan hal yang sama denganmu... Tapi... aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak... Ian..."
Ian hanya beberapa inci darinya. Tak sedetik pun meluputkan pandang darinya. Ia semakin memangkas jarak yang ada di antara keduanya. "Aku tahu itu, Selma... Aku tahu... Aku tidak akan memaksakannya. Aku ingin ini berjalan apa adanya..."
"Aku punya tempat, pekerjaan yang kunikmati, rekan dan kawan-kawan di Norfolk... Keluarga dan lingkunganku. Rumahku."
"Sungguh, aku mengerti, Selma. Tidak apa-apa. Hanya saja terima kunci ini. Anggap juga tempat ini, aku... Juga rumahmu yang lain."
"Kita butuh waktu, Ian..."
"Aku tahu... Kita butuh waktu. Aku tidak menuntut apapun darimu. Aku hanya ingin kau tahu, aku ingin kau juga menganggapku sesuatu seperti tempat kau PULANG jika kau lelah."
Kata pulang yang begitu Ian tekankan, sanggup menggetarkan hatinya. PULANG. Kata yang selalu dinanti, setiap kali lelah menjalani realita dan aktivitas yang memabukkan. Pulang adalah jawaban ketika butuh sandaran untuk sejenak menjernihkan diri. Merebahkan diri ketika hampir tumbang, untuk menyerap energi, sebelum kembali berjuang menjalani hari-hari. Dan Ian ingin ia menjadikan lelaki itu tempatnya pulang, meski tahu ia sudah punya tempat-tempat lain yang nyaman, rumahnya sendiri dan rumah ibunya. Ia tidak keberatan. Ia paham mereka butuh ruang dan waktu lebih untuk merenung dan sendiri.
Selma menghela nafas. Ia menyandarkan dahinya di bahu lelaki itu. Memikirkan tentang ketulusan dan kepedulian lelaki itu padanya.
Ian mendekatkan bibirnya di telinga perempuan itu. Membisikkan sesuatu. "Aku, entahlah... Begitu peduli padamu dan ingin menghabiskan banyak waktu hidupku denganmu. Simpan kunci ini, Selma. Kembalilah kapanpun jika kau mau.. kapanpun jika kau mau pulang kemari."
Sontak Selma mencari-cari mata lelaki itu. Menatapnya, mencari kesungguhan di sana. Dan binaran di sorot Ian menguncinya.
__ADS_1
"Aku masih sepenuhnya belum tahu, Ian... Tapi, terima kasih untuk ini semua," Selma mengambil kunci di genggaman Ian. Ia mengecup lembut dan singkat pipi lelaki itu. "Aku akan mencoba menyimpannya."
Seketika Selma berbalik dan membuka pintu itu. Mereka berjalan masuk, dengan jemari tangan yang saling tertaut. Menuju studio. Menghanyutkan kebersamaan yang tinggal beberapa saat lagi di dalam alunan dawai dan melodi-melodi yang sesekali bersanding mesra dengan kata-kata puitis liris.