Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 13 - 08.10 pm


__ADS_3

08.10 pm


Malam yang menenangkan. Di atas sebuah gedung apartemen. Sunyi. Dan sayup-sayup terdengar pula keriuhan suara kota yang masih hidup. Angin dingin berhembus. Duduk menikmati semuanya sembari menatap cahaya lampu kota dan langit yang menghampar luas. Dengan sebuah kain hangat, secangkir kopi, dan seseorang yang masih bersenandung merdu teriring petikan gitar.


Selma membayangkan jika malam ini ia ada di rumah. Berapa mili air mata yang terkuras dari matanya. Seberapa sesak dadanya. Membayangkan seberapa pusing saat bangun sehabis menangis semalaman. Tiba-tiba sebuah pesan masuk membuyarkan lamunannya.


Danny: Maafkan aku, Selma.


Selma tak mengerti. Kenapa setelah semua, dia masih menghubungiku!


Kalau dia menyesal, seharusnya itu dilakukannya sudah bulan-bulan lalu! teriaknya dari dalam.

__ADS_1


Tak mengerti. Sungguh ia tak paham kenapa Danny masih menghubunginya dan bersikeras berkata maaf. Bukankah seharusnya dia senang karena aku sudah tidak mencari dan mengusiknya lagi?!


Wajahnya mengeras lagi. Sekuat tenaga tidak lagi menangis. Bila ia menangis seberapa besar gemuruh itu akan datang, ia tidak ingin itu terjadi. Cukup hanya panas di dada yang menyayat-nyayatnya. Ia menggenggam dan menekan ponselnya kuat-kuat. Tentu tak akan remuk. Tapi, paling tidak emosinya kali ini yang tertahan berbulan-bulan mendapatkan jawaban dan terlampiaskan.


Angin menghembuskan dinginnya ke wajah Selma lagi, seakan menambahkan dukungan untuk amarahnya. Bila setelah ini ia kembali. Pulang ke Norfolk. Kembali menjalani hari sendiri. Dan juga jauh dari Ian yang baru ditemuinya. Ia berpikir apa ia akan baik-baik saja. Apa ia tak akan merasakan kemuraman itu tiap malam. Sama seperti bulan-bulan lalu. Bedanya dulu tanpa kepastian, sekarang dengan jawaban yang menghujam hati terdalam.


Maafkan aku, Selma. Maafkan aku, Selma. Maafkan aku, Selma. Pesan itu terus terulang-ulang di kepalanya. Menggaung dengan suara berat Danny yang masih diingatnya.


Lama-lama ia bergetar. Refleks ingin sekali membanting ponselnya. Sebelum ia mengayunkan lebih jauh tangannya. Ian menangkap pergelangan tangannya tak kalah kuat dari cengkraman tangannya pada ponsel. Menelusuri hingga telapaknya. Menggenggam erat. Hangat. Dan seketika itu cengkraman, getaran, dan kekakuan tangan Selma melemah. Lalu terkulai lemas di samping begitu saja.


Ian menggengam tangannya. Erat. Seakan menguatkannya. Menjaganya dari amukan badai. Lalu merangkulnya. Ian mendekapnya. Tak ada kata terucap dari mulut. Tak ada. Hanya itu. Bersama tanpa harus berkata. Ketegangan di dalam diri Selma pun perlahan melemah. Hanya duduk bersama seperti ini. Membuatnya sangat nyaman. Tak sendiri. Rasanya seakan menjadi pusat dunia. Hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan dengan Danny. Bersama. Kenyamanan yang hadir tanpa basa-basi. Hadir begitu saja bahkan saat baru bertatap. Membuatnya seakan es krim yang melumer di mulut. Membuatnya ingin terus meringkuk di dalamnya tanpa merasa seperti terpenjara. Bahkan tanpa harus ia banyak mengungkap, Ian dengan mudah memahami. Tanpa ia meminta, tanpa sosok itu bertanya.

__ADS_1


Selma serasa melembek. Ia tak menangis. Hanya menyandarkan kepalanya di dada Ian. Dan menatap ke kejauhan. Mendengarkan irama detak jantung Ian yang menenangkan. Lalu mengatur nafasnya sesuai dengan irama itu. Setelah itu nafasnya yang memburu kembali tenang.


Ia bangkit dari sana. Masih dalam dudukannya membuat diri sejajar dengan Ian. Matanya bertemu dengan mata Ian. Meski langit menggelap, ia tatap mata itu baik-baik. Mencoba menghafalnya. Menerobos dan meresapinya. Mata cokelat indah itu begitu teduh, meski seakan menembaknya.


Senyuman indah Ian muncul. Menarik setiap sudut rupanya menjadi lebih hangat dan menyenangkan. Senyuman hangat yang sekarang menjadi favoritnya. Senyuman yang selalu bisa membuatnya ikut tersenyum. Seperti sekarang.


Mata Ian tak lepas darinya. Menangkap setiap inci dari wajahnya. Mata yang mulai tertawan dengan kemuraman di wajah itu. Paras muram yang juga indah. Membuat perhatiannya tersedot ke sana. Membuatnya ingin menjaga rupa itu agar baik-baik saja. Menumbuhkan binar-binar di sana yang juga dapat menghangatkan hatinya yang telah lama dingin.


Ia mengangkat telapaknya ke pucuk kepala perempuan di hadapannya itu. Mengelus lembut rambutnya yang halus. Lalu perlahan jemarinya turun ke pipi. Ibu jarinya bergerak lembut di sana. Di atas kulit halus yang kini meski tak terlihat telah menghasilkan rona merah muda. Ia merasakannya. Entah apa yang membuatnya berdesir sejak mereka berjalan bersama. Kini ia merasa rasa kasih merambatinya.


Dan keduanya hanya saling menatap. Bahkan saat Ian berkata dengan tegas dan lembut, "Aku bersamamu. Tenanglah."

__ADS_1


Selma mengangkat telapaknya. Menggenggam telapak yang ada di samping wajahnya itu. Ia mengangguk. "Terima kasih."


__ADS_2