Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Epilog


__ADS_3

^^^It takes a lot of time. There's so much you've got to leave behind. And hold it like a treasure if you can't find. Something good in this world.^^^


^^^Marc Scibilia - Something Good in This World^^^


Siang yang mendung itu seseorang tengah mempercepat langkahnya memasuki Norfolk Station. Laki-laki itu menoleh ke sana kemari untuk menemukan perempuan yang dijanjikannya untuk dijemput. Lalu matanya tertuju di kursi tunggu berwarna biru tak jauh dari layanan informasi. Perempuan itu duduk di sana sembari membenahi kuncir rambutnya yang kendur. Lalu pandangan mereka bertemu.


Selma bangkit. Keletihan di wajahnya tak tertutupi, namun ia tersenyum lebar. Ia berjalan tergesa-gesa ke arah lelaki itu. "ANSEEEEL!" pekiknya.


Ansel sumringah. Ia merentangkan tangannya lebar. Sementara itu, Selma datang dan menghempaskan tubuhnya di sana. Keduanya pun tertawa bersama.


"Kau kelihatan.. berantakan!"


Selma mengibaskan tangan. "Oh sudahlah!"


Ansel meraih tas Selma. Membawakannya hingga ke mobil.


"Bagaimana keadaan kedai kita?" tanya Selma setelah keduanya pergi dari stasiun.


"Semuanya terkendali. Aman. Seperti biasa, akhir pekan selalu penuh pelancong."


Selma bernafas lega.


"Bagaimana dengannya?" tanya Ansel tanpa mau lagi berbasa-basi dan menahan rasa penasarannya.


"It's over." Selma membuang muka ke jendela di sebelahnya.


"Jadi benar gosip itu?"


Perempuan itu mengangguk. "Yaaah... Sebenarnya, setengah benar, setengah lagi terlalu berlebihan."


"Sepertinya ada cerita lain nih?"


"Tidak sepenuhnya Danny salah. Keadaan saja yang tidak memihak."


Ansel melirik perempuan itu. Tahu kalau pertanyaannya menjengkelkan. Ia merentangkan tangan kirinya menuju bahu Selma. Meremasnya. "Kau akan baik-baik saja. Kau akan kembali seperti sedia kala dengan sendirinya. Hanya masalah waktu. Tenang saja." Ia tersenyum pada Selma ketika perempuan itu menoleh.


Selma tersenyum. "Aku tahu. Terima kasih, Ans. Terima kasih kau selalu mendukungku."

__ADS_1


"Bukan masalah. Nah, aku akan mengantarmu sekarang ke rumah. Lalu kita bisa ke kedai. Orang-orang menunggumu. Atau kau mau istirahat saja dulu? Semua terserah padamu."


Selma menggeleng. "Aku mau bertemu mereka dan makan siang bersama seperti biasa... Aku butuh banyak aliran energi positif dari kalian semua!"


Ansel tersenyum dan mengangguk. "Oke. Lagi pula kau harus bereskan pembukuan bulan ini kan?"


"Uuugh... Belum-belum kenapa aku sudah kayak ditinju?!"


Ansel tertawa lebar. Merasa lega mengetahui kondisi Selma tidak seburuk yang ia bayangkan. Ia sudah mengira, perempuan itu tumbuh semakin kuat.


***


Selma duduk di ruang kerjanya yang tak terlalu lebar. Di hadapannya terhampar layar laptop, buku catatan, dan tumpukan struk. Ia sudah menyelesaikan setengah pembukuan. Tiba-tiba suara ketukan pintu menginterupsi kerja jemarinya. "Masuk," katanya singkat.


Ansel muncul dari balik pintu. Tersenyum lebar membawakan nampan berisi sesuatu untuknya.


"Apa itu?" tanya Selma penasaran.


"Aku baru saja dari Greens on The Green. Dan membuatkan jus apel plus madu untukmu. Ada ikan panggang juga kalau kau mau."


"Hei! Tidak perlu repot-repot begitu," protesnya. Ia rasa Ansel jadi berlebihan memberikan perhatian-perhatian. Meskipun, ia sendiri merasa kehadiran dan perhatian Ansel sangat membantu ketika ia harus merapikan pekerjaan yang sedikit berantakan. "Tapi, trims."


Keduanya terkekeh. Lalu Ansel pergi. Sementara Selma meminum jusnya. Merasa segar.


Tak lama kemudian ia tutup file yang dikerjakannya. Ia hempaskan tubuh di senderan kursi empuk itu. Lalu menerawang ke langit-langit. Setelah gundah dan kepedihan merayapinya berbulan-bulan, semua seakan tertutupi dalam semalam dengan hadirnya Ian Walsh. Seharian ia dapati situasi yang naik turun. Menguras energi dan emosinya. Hal-hal yang tak pernah ia duga sebelumnya. Bahkan ketika kini ia pulang dan dapat duduk nyaman, ia baru menyadari sebuah perhatian lain yang selama ini tak terdeteksi oleh otaknya.


Ia tak pernah meninggalkan distrik Ghent lama-lama. Kini pulang menyadarkannya kalau semua orang senang ia datang. Bahkan Ansel begitu perhatian padanya, partner yang baru ia sadari, selalu mendukungnya. Hanya dalam hitungan jam hatinya dihempas jatuh dan melayang. Sekarang pikirannya jadi tersibak ketika ia renungi lagi hidupnya selama akhir pekan ini. Betapa berartinya ia baru saja diberi waktu singkat yang wah.


"Manusia tak pernah tahu apa yang akan menimpanya," ia bergumam sendiri.


Kenangan tentang Ian hadir kembali. Bahkan belum sampai sehari, ia sudah merindukan sosok itu. Ia raih ponselnya. Mengirim direct message pada lelaki itu.


Selma: Aku sudah kembali bekerja. Terima kasih banyak untuk semuanya. Aku tidak akan melupakannya.


***


Ian Walsh masih setia dengan gitarnya. Setelah mendapatkan lagu baru di atap gedung, kini ia tak berhenti. Masih saja lanjut bermain di kamarnya, setelah selesai mengemasi beberapa barang untuk jadwal nanti malam. Berkat Luke mengingatkan, ia kini sudah siap.

__ADS_1


Ian terus mendendangkan lagu. Lagu milik musisi lain yang ingin di-cover-nya, lagu baru istimewanya, maupun lagu-lagu milik Black Box sendiri. Lalu ia sampai pada lagu tentang move on. Ia tahu meski rindu, ia membiarkan Selma tetap pergi. Terlalu jauh untuk menahan perempuan itu. Lalu suaranya terhenti ketika ponselnya berbunyi. Sebuah notifikasi baru.


Selma mengiriminya pesan. Perasaan yang sedari tadi tertahan di dada, meletup-letup menguasai dirinya. Kelegaan membuatnya merosot di sofa kamar. Mengetahui perempuan itu baik-baik saja dan telah pulang dengan selamat. Tanpa pikir panjang ia pun mengetikkan balasan.


Ian pun kembali pada gitarnya. Memainkan kombinasi nada-nada yang lain. Menyanyi dengan sarat makna. Di benaknya hanya ada satu wajah, seorang perempuan dari Norfolk.


Sebuah ketukan pintu mengagetkannya.


"IAN! CEPAT KELUAR! BAWA BARANG-BARANGMU KE BAWAH! SEBENTAR LAGI KITA JEMPUT JENNY DAN BERANGKAT!"


"LIMA MENIT LAGI, LUKE!" teriak Ian menjawab.


Gedoran pintu itu semakin menjengahkan. "AKU TAHU KAU GALAU, MAN! TAPI, WAKTU TIDAK MAU MENUNGGU! KALAU KAU TIDAK SEGERA KELUAR, AKU SURUH MANAJER KITA TERCINTA UNTUK MENYERETMU KE BAWAH!"


Ian mengemasi gitarnya. Ia berdecak. "OKE! OKE!" Ia membuka pintu. "AKU KELUAR SEKARANG!" Ian pun menyeret kopernya keluar dari sana.


***


Black Box tampil di sebuah hall dengan konsep panggung minimalis dan dekat dengan penonton. Meski begitu, suasana penuh sesak. Beberapa orang memakai atribut bertuliskan nama grup musik itu. Antusiasme menyelubungi tempat itu.


Ian bersiap dengan senjata andalannya. Martin. Sementara Jenny dan Luke memberi kode mereka siap. Beberapa detik kemudian Ian menggebrak suasana dengan chords D.


"Ini untuk Selma. STRANGER!"


Semua penonton bersorak riuh.


"Time go forward. I flight so high... with you, stranger in the fall. Could you keep this night? Could you stay for a while? Could we be shore and ocean?"


Dan setelah satu pertunjukan berakhir. Ian bergerak ke kota lainnya. Masih ditemani kenangan tentang Selma menghiasi rasa di lagunya.


***


Notifikasi yang ia tunggu tak perlu menghabiskan waktu lama, akhirnya berbunyi. Selma menyambar ponselnya yang tergeletak di meja. Dengan kilat ia baca pesan baru yang kini menduduki jajaran tertatas kotak masuknya.


Ian: Sangat senang mendengar kabarmu. Sama-sama. Malam ini jadwal pertunjukkan kami dimulai. Sebentar lagi aku akan berangkat ke Oakland. Kuharap kau selalu baik-baik saja. Aku juga tidak akan melupakannya. Terpenting, jangan lupakan tentang kuncinya, Stranger!


Senyum Selma seketika terbit menyambut kalimat terakhir itu. Tiba-tiba secepat kilat inspirasi datang menghujamnya. Secepat Selma meraih mouse lalu membuka file baru di laptop itu. Dengan lincah jemarinya mengetikkan sesuatu di sana.

__ADS_1


...Some Hours with Stranger |...


__ADS_2