
10.00 pm
Taksi kuning ada di mana-mana. Mengantar dan mencari penumpang di segala sudut NYC yang masih benderang oleh lampu-lampu gedung dan papan reklame di mana-mana. Salah satunya juga sedang mengantar seorang perempuan yang sedang kacau hatinya. Terbawa emosi yang kembali melambung.
"Nona.. kau mau di antar ke mana?" tanya pengemudi taksi yang berwajah India itu.
Selma tersadar dari lamunannya. Ia mengalihkan pandangannya yang sedari tadi terpaku ke luar jendela. Ia menatap ke arah sang pengemudi itu. "Bisa kau membawaku keliling satu blok lagi? Lalu antar aku ke.. mmm... eh, apa kau tahu tempat untuk menenangkan diri? Aku butuh udara segar," katanya minta saran.
"Sedang mengalami hari buruk, nona? Bukan mau ikut campur sih.. tapi, kenapa kau tidak ke pub saja?"
Selma tersenyum, "Aku tidak nyaman di tempat yang bising."
"Aaah... kau tadi bilang menenangkan diri ya.. jalan-jalan ke Brooklyn Bridge mungkin? Siapa tahu jalan dan duduk di sana bisa membuatmu tenang?"
"Boleh juga. Baiklah setelah ini antar aku ke sana."
__ADS_1
Tak terasa ia sudah sampai di depan City Hall Park. Supir taksi itu menawarinya turun di sana. Selma pun mengangguk. Ia mulai melangkahkan kaki di jalur pejalan kaki Brooklyn Bridge yang ada di bagian tengah atas.
Selma berjalan sendirian. Menyelami laci-laci yang sekarang kuncinya mendadak rusak semua. Semua tentang Danny yang tak lagi berkesan indah. Semua tinggal kenangan. Terlalu indah untuk dilupakan. Terlalu pahit untuk diingat. Keluar dan mengalir begitu saja seiring langkahnya yang semakin cepat. Angin dingin berhembus menghantam wajahnya. Isakan menyedihkan yang tak kuasa ia bendung ditambah angin yang bertiup ke arahnya, sukses membuat hidungnya tersumbat. Dengan sedikit bantuan mulut ia bernafas dengan berat. Nafas yang kini mulai memburu dan berat. Semakin berat seiring langkah kakinya yang kini berlari cepat menyentuh titik tengah jembatan. Lari semakin cepat, sejalan dengan kelebatan-kelebatan memori tentangnya dan Danny yang dulu terasa seperti tempat terindah sejagat raya. Dan berbanding terbalik dengan hasil jerih payahnya menangkap oksigen.
Selma berlari. Berlari. Hingga tumitnya terasa sakit. Sampai betisnya serasa dijepit. Ia terengah-engah seperti habis dicekik. Ia pun mulai berhenti melangkah cepat. Mengendurkan kecepatannya. Meraup oksigen cepat-cepat. Membuang nafas selega-leganya. Dan ia pun sudah berada di tengah-tengah titik antara kedua borough yang terpisahkan oleh Sungai East, Manhattan dan Brooklyn.
Selma berhenti. Ia bersandar ke pagar pembatas dan melihat ke horison yang pekat. Memandang sungai tenang yang memantulkan bayangan gedung-gedung pencakar langit yang bercahaya. Sekali lagi, ia mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya dengan tenang. Kedua kali ia lakukan hal itu dengan mata terpejam sembari merasakan angin menerpa wajahnya, mengibas-ngibaskan anak rambutnya. Perasaan lega ia peroleh seiring hembusan nafasnya yang terbawa angin berputar-putar di atmosfer kota ini. Ia membuka mata. Lagi dan lagi, hanya terdiam memandangi pemandangan lampu-lampu kota dari kejauhan. Bersatu dengan kesunyian di atas jembatan itu. Menjauhi hiruk-pikuk kota plus Danny di sana yang membuatnya terhimpit. Terbersit keinginan untuk pergi dan tak kembali. Ia benci keramaian yang menyesakkan. Dan bertambah benci jika sesak itu melambung bila berada di tempat seseorang yang pernah menyakitinya. Ia tak tahu sampai kapan bisa melupakan Danny. Ia tak tahu sampai kapan bisa melupakan rasa sakit hatinya. Bahkan jika pulang pun, pasti semua ruang yang pernah ia dan laki-laki itu singgahi, bisa membuatnya terkenang dan lagi-llagi menangis.
Lamunannya buyar ketika ponselnya bergetar dan berbunyi di dalam tasnya. Ia mendapati sebuah pesan suara masuk dari orang-orang di Norfolk.
Mom: Bagaimana kabarmu, sweetheart? Apa kau sudah bertemu Danny? Bagaimana kabarnya di sana? Entah kenapa aku merasa tidak enak. Aku tahu kau bukan anak kecil lagi. Tapi, jangan telat makan dan.. please, telpon aku kalau kau sudah selesai. Oke? Aku sayang padamu.
Selma: Hai mom. Kabarku lumayan. Tampaknya beberapa hal berjalan tidak lancar. Aku sudah bertemu dengannya. Dia sangat oke, tapi.. ah sudahlah. Nanti saja kalau pulang, aku akan menceritakannya padamu. Semuanya. Aku janji. Tagih saja kalau takut aku lupa. Dan.. trims, mom. Besok pagi aku akan kembali. Mungkin aku akan ke tempatku dulu. Jangan tunggu aku, oke?! Aku sayang padamu juga.
Ia tersenyum setelah menekan tanda kirim. Selma membuka satu pesan lainnya. Ansel. Aah.. cowok ini! Kenapa aku jadi rindu?! Pekiknya dalam hati ketika tahu yang mengirim pesan adalah teman baik sekaligus asisten kesayangannya.
__ADS_1
Ansel: Hei bos cantik! Kapan kau pulang? Tahu tidak, kau baru saja melewatkan kejadian penting di cafe. Jangan khawatir! Semua barang aman! Tidak ada perkelahian kok. Hanya saja gadis kesayanganmu habis menerima acara kejutan spesial dari pelanggan setia kita. Iya.. benar! Cowok tampan dengan mobil mewah itu! Mereka sudah resmi jadian! Jadi, bagaimana? Apa kau sudah bertemu dengannya? Apa ia baik-baik saja? Kami semua menunggu tahu! Penasaran ia seperti apa di sana. Dan.. kau tahu, akhir pekan ini sangat-sangat ramai. Cepat pulanglah! Banyak struk menantimu! Dan jangan lupa besok Selasa waktunya gajian! Jangan telantarkan empat anak buahmu ini!
Selma tertawa bahagia mengetahui kalau tetangga sekaligus teman dekatnya akhirnya mendapati pangeran impiannya benar-benar jatuh ke pelukannya. Lalu ia tersenyum getir. Semuanya menyinggung soal Danny. Danny dulu memang bagian dari pada hidupnya dan lingkungan tempatnya berada. Danny sangat easy going sampai semua orang yang ada di sekitarnya bisa merasa nyaman dengan keberadaannya. Danny membuatnya lebih terbuka dan bergaul dengan ramah. Merubah sedikit citranya yang tertutup dan sedingin es. Ia jadi sadar, meskipun Danny sudah membuatnya muak, marah, dan sakit hati. Ada sisi positif yang ia dapat saat mengenalnya. Selama ini bukan hanya ia yang menanti kabar. Semuanya mengharapkannya mendapatkan kabar dari Danny. Semua orang yang ada di sekitarnya di sana juga memiliki Danny sebagai tokoh di hidup mereka. Hanya saja ceritanya berbeda. Lebih pahit di dirinya. Dan bukan berarti pahit juga untuk Ansel, Lily, Mom, dan yang lainnya.
Ia pun membalas pesan itu.
Selma: Tenang, guys! Besok aku pulang, jangan khawatir gaji kalian tertunda hanya karena aku ke New York. Kau mau potong gaji ya, An?! Jangan bicara macam-macam! Aku serius! Hahaha... Ngomong-ngomong.. Ya Tuhan! Selamat ya Lily sayang! Akhirnya.. kubilang juga apa! Dia pasti juga suka denganmu! Kau kan makhluk paling manis dan menyenangkan di kompleks kita! Dan.. satu lagi. Aku sudah bertemu dengan Danny. Dan ia baik-baik saja. Aku punya kejutan besar tentang kami. Dan yeaah.. hidupnya tambah keren dari kita. Jangan iri guys! Aku akan cerita besok. Jangan cemas! Beberapa jam lagi aku sudah akan naik kereta kok. Ada yang mau berbaik hati menjemputku?
Selma pun mengirim pesannya. Lalu satu pesan baru muncul lagi di pemberitahuannya.
Kau di mana sekarang? Kau kemana saja sih? Jangan buat aku frustasi mencarimu!
Mata selma membelalak menatap layar ponsel.
34 panggilan tak terjawab.
__ADS_1
Semua dari satu nama yang kini wajahnya terbanyang-banyang langsung memenuhi otaknya.
IAN WALSH.