
^^^Home now, end of the night. It's colder to turn on your side. And I know you're up in two hours. But we didn't get tonight, we don't have tomorrow. So don't ruin now.^^^
^^^And we'll argue the tiniest thing. But we didn't get tonight, we don't have tomorrow. How we gonna breathe? How we gonna be together? Just keeping the peace between the sheets.^^^
^^^Move Together - James Bay^^^
01.25 am
Ian bangkit. Membuka pintu studionya. Lalu kembali pada Selma sembari menenteng gitar Martin coklat bermotif kayu kesayangannya.
Gitar itu mendapat perhatian lebih dari mata Selma. Pandangan Selma terhipnotis. Gitar itu biasa Selma lihat hanya di kanal video media sosial selama ini. Si klasik elegan itu kerap bercengkrama mesra dengn Ian Walsh. Tak pernah ia lihat secara langsung pertunjukan Ian dan Black Box, apalagi menatap Ian dengan gitar menawan itu di hadapannya seperti sekarang.
Ian mulai mengambil sikap siap memetik dawai. Gitar akustik mentereng itu seperti pedang gagah seorang panglima tempur. Mata Selma dibuat tak berkedip. Tidak pernah ia pungkiri, Ian dan gitar itu adalah hal yang selalu ia nantikan. Sebuah kelarasan yang mencuri perhatian kaum hawa. Selma masih tak percaya bisa menyaksikan hal itu langsung di hadapannya.
Hanya dia dan Ian di sini. Gelenyar di perut merambatinya. Detakan di dadanya semakin cepat. Selma dari awal selalu suka karya Ian Walsh, bahkan sebelum Ian punya nama seperti sekarang. Selma selalu mengikuti unggahan video maupun rekaman audio dari Ian. Tak pernah ia sangka, ia akan menghabiskan waktu seperti ini dengan seorang Ian Walsh.
__ADS_1
Ian menatapnya. Mencari-cari sesuatu di dalam retinanya. Mungkin berusaha masuk mengikuti jaringan syaraf rumit yang berujung di pikiran perempuan di hadapannya itu. Begitu ingin tahu segala hal yang sedang Selma simpan di laci terdalam. Ian ingin menyibak pikiran Selma. Meski begitu sukar dan rumit.
Satu senar terpetik. Dua senar. Tiga senar. Kembali lagi ke senar awal. Kini semakin cepat saling bersahutan. Seiring cepatnya detak jantung Selma. Chord A terlewati menuju Chord E minor. Terdengar terputus-putus pada awal lagu. Beralih terangkai cepat bersama-sama. Saling berganti, tetap bergandengan. Kesederhanaan ikatan beberapa nada yang menyajikan keindahan untuk telinga. Menyadarkan Selma bahwa Indah itu sederhana. Tak perlu rumit. Hanya perlu daya untuk mampu menyentuh. Suatu kelebihan yang dimiliki si tukang tampil di dekatnya itu. Ian selalu bisa menyentuh hati. Caranya memainkan gitar. Caranya membawakan lagu.
"Time go forward. Midnight realise me one thing. I flight so high, with you... Stranger in the night. Could you keep this... Could you still live, with me? Could we be ocean and shore?"
Ian menatap Selma dalam. "Aku baru saja mengarangnya."
"Apa?" Selma tak percaya.
Tak khayal Selma mengangkat tangan untuk menutup mulutnya. Terlalu mendadak menerima kejutan.
Ian tersenyum puas. Lalu berpaling ke depan. Laki-laki itu menutup matanya. Mulai menempatkan jemarinya di beberapa fret lagi. Kini ia mengawali dengan C. Lalu merayap ke A minor hingga F. "Home now, end of the night..."
Selma tersenyum, tahu lagu itu. Lagu yang mungkin bisa menggambarkan situasi di antara mereka. Beberapa kali Selma ikut bersenandung. Dengan nada lebih tinggi dan lembut. Ian menoleh padanya. Terkejut dan terkesan. Ia tersenyum. Dua suara itu berpadu mengalunkan lagu James Bay. Mereka saling memandang hingga verse pertama usai.
__ADS_1
Ian pun beralih menatap ke langit-langit. Selma terdiam. Memperhatikan rupa maskulin di hadapannya itu. Sorot pasrah yang menggantung, sukses mencubit hatinya.
"But we didn't get tonight, we don't have tomorrow..."
Kini Ian bersenandung sendiri. Memendam rindu yang datang terlalu cepat. Ia tahu ia akan rindu. Namun, membayangkan perempuan itu pergi, rindu sudah memukulnya terlebih dahulu. Lalu dengan cepat menaikkan tempo, menumpahkan emosinya di sana.
"Before you go, turn around, let me hold you. And let me say in the dark of the morning. Just one more thing. How we gonna move together? Just come closer. If we don't move together, just come closer..."
Tak ada hal lain yang Selma lakukan selain dengan cepat bersandar di bahu laki-laki itu. Tanpa Ian berkata langsung ia tahu. Ia tahu itu tentang mereka. Ia tahu kata 'tunggu sebentar' dari Ian tadi untuk ini. Ini cara laki-laki itu menjawab pertanyaannya tadi.
Sudut-sudut matanya mulai basah. Meski tak setitik dua titik. Ia simpan rasa itu di dalam dirinya sembari meluncur jauh ke dalam dendangan dan suara gitar Ian. Meresapi semua.
Selma tak tertidur. Ia hanya menutup mata dan menghayati semua. Merasakan kedekatan itu. Terus masuk ke dalam ketika Ian juga menyandarkan kepalanya di kepalanya.
Berdua terpejam menikmati kebersamaan yang tinggal beberapa jam.
__ADS_1