Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 22 - 11.00 pm


__ADS_3

10.45 pm


Maafkan aku. Aku di Brooklyn Bridge. Aku akan ke tempatmu sekarang.


11.00 pm


What the hell are you doing on there?!


Sudah lima belas menit Ian menunggu dengan mata masih bolak-balik membaca pesannya yang tak berbalas. Hanya tanda telah terbaca saja yang nampak. Ia tengah duduk penuh kekhawatiran. Ia tak habis mengerti, bisa-bisanya perempuan yang baru dekat dengannya itu dalam sekejap membuat pikirannya diombang-ambing. Membuat gejolaknya jadi berondong jagung yang meletup-letup di panci. Membuat telapak kakinya tak bisa berhenti mengetuk-ngetuk di tangga depan apartemennya, dan ia berharap tidak ada tetangga yang ikut gelisah dan terganggu dengan kelakuannya di depan saat ini. Tak lama kemudian ia hentakkan kepalan tangannya ke ubin di sebelahnya. Benar-benar sudah di ambang kesabaran. Ian pun bangkit.


Lelaki itu berjalan tergesa-gesa. Semakin lama langkahnya semakin cepat. Tepat di depan sebuah bar langkahnya berubah menjadi lari. Perasaan kalut dan debar aneh merasukinya. Malam ini ia sukses dibuat cemas pada perempuan. Seseorang yang menggetarkannya kembali setelah sekian lama ia terbiasa dengan kata sepi.

__ADS_1


Ian Walsh masih ingat malam ini. Pada satu momen yang hadir lagi untuk pertama kali, sejak Sheila tak berdaya dulu. De javu, atas ketidaktenangan saat sedang melakukan pertunjukkan. Ketika ia bermain, mempersembahkan suara dan musiknya untuk penonton, namun jiwanya tak ada di sana. Setiap detik ia memetik senar gitarnya, setiap itu pula ia ingin melompat pergi dari sana. Hanya karena seorang perempuan yang tengah menunggunya di hadapan sana, dihampiri lelaki lain selain dirinya. Bukan sembarang lelaki. Mantan kekasih enam tahun plus mantan tunangan yang notabene juga seorang entertainer dan tengah digandrungi tidak sedikit orang. Sangat.. sangat.. menyebalkan. Ia ingat bagaimana rasanya tak mampu berkutik di tengah lagu ketika melihat lelaki itu menyentuh dan menahan tangan si Stanger. Ia ingat betul rasanya begitu menjengkelkan ketika ia tak mampu berbuat apa-apa ketika Selma terpanggang di sana dan memilih pergi. Melupakan apa yang mereka bicarakan. Melupakannya.


Sialan! pekiknya dalam hati.


Kekhawatirannya semakin menggunung sebab malam semakin larut. Sementara Selma ada di luar sana sendirian dalam kondisi labil. Tak kunjung menampakkan diri di hadapannya. Perempuan asing patah hati di kota asing. Terdengar sangat buruk. Bahkan pikiran konyolnya mendarat ke sebuah imajinasi dimana Selma terjun dari atas jembatan ke sungai East dengan sengaja. Tidak! Pikiranmu benar-benar horror! pekiknya dalam hati.


Ia menggeleng-gelengkan kepala. Menjernihkan pikirannya. "Aku harus segera menemukannya! Selma... Selma... bisa-bisanya kau begini, membuat pikiranku jungkir-balik!" gumamnya sendiri. Ia pun berdoa pada Tuhan supaya menjaga Selma.


Ian menyusuri jalur ke arah Brooklyn Bridge. Matanya tajam mengawasi setiap sudut. Mencari-cari sosok Selma. Perasaannya tak tenang. Takut hal buruk bisa menimpa perempuan itu. Ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada perempuan itu.


Kecemasan semakin melandanya. Menyelubunginya tanpa ampun. Sekarang ia semakin takut. Dan berharap Selma baik-baik saja.

__ADS_1


Jalanan di sisinya kian lengang. Ia berbelok, melewati binatu yang sudah tutup. Bayangannya berkelebat di bawah lampu-lampu kuning temaram.


Ia menyipitkan mata. Menata fokus pada suatu sudut beberapa meter di depannya. Seorang perempuan tengah duduk di emperan toko kue yang mau tutup. Ian berlari cepat ke sana. Berharap itu seseorang yang ia cari.


Nafasnya terengah-engah. Raut tegangnya kini sirna. Rasa lega kini menyapu kekhawatirannya. Dilihatnya perempuan itu duduk di sana dengan raut kuyu dan memegang sebuah cupcake. Bersiap memakan kue mini ber-cream hijau itu.


Selma urung memakannya ketika melihat Ian datang berlari ke arahnya. Ia memandang sekilas makanan di tangannya itu lalu menyodorkannya pada Ian.


"Kau mau?" dengan raut polosnya.


Mata Ian membulat lebar. Ia menepuk dahinya. Menggeleng-geleng tak percaya. Bisa-bisanya perempuan ini! Ia pun tertawa konyol.

__ADS_1


Selma bingung. "Apa?"


Ian mendengus sebal dan memekik, "KAU MEMBUATKU GILA!"


__ADS_2