
09.00 pm
Awalnya, yang hanya ingin Selma temui adalah Daniel Roger. Yang memenuhi pikirannya hanya lelaki itu seorang. Setelah sekian lamanya ia bagai berumah di tepi jurang, kecemasan itu berujung tertikam belati.
Bertemu muka dengan Danny, masih mencabik-cabiknya. Lukanya masih basah. Menatapnya membangkitkan kilasan-kilasan kenangan indah seperti polaroid, yang makin lama makin membuatnya mual. Danny serasa mencekiknya, tapi lelaki di sampingnya itu menawarkan tabung oksigen. Yang cepat atau lambat, mungkin segera habis. Ia belum siap. Belum mau berjauhan dari Ian, meski ia sadar ia juga harus segera kembali ke Norfolk yang penuh sesak dengan kenangan. Entah bagaimana caranya ia nanti akan menghapus kenangan-kenangan itu di setiap sudut.
"Oke. Sekarang bagaimana? Kau mau masuk.. menikmati pertunjukannya dan pestanya.. atau kau mau di sini saja sampai kedinginan dan membeku?" kata Ian yang kini bangkit dan menatap Selma yang masih berbaring di rumput halaman.
Selma berdecak. Ia menghela nafas. "Baiklah.. aku ikut masuk," dengan berat hati ia putuskan harus menatap kenyataan.
"C'mon!" kata Ian memberi isyarat agar perempuan itu menggapai tangannya.
__ADS_1
Selma menjulurkan tangannya. Ian menggapai telapaknya dan membantunya bangkit.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" katanya lirih.
Ian menepuk punggungnya. "Sudah kubilang.. aku bersamamu! Tenang. Ayo masuk! Hadapi saja kenyataannya! Mataku ini akan selalu siap mengawasimu dan dia, jika itu bisa membuatmu lebih nyaman. Lagipula... otot-ototku ini masih perlu banyak latihan supaya kuat!" Ian mengerlingkan matanya.
Selma tertawa. "Pokoknya jangan rusak pesta Anthony.. pokoknya jangan ribut dengan mantanku itu karena aku. Aku tidak mau kau terluka lagi. Tidak. Aku tidak mau. Aku juga tidak mau kita memalukan diri kita sendiri. Paling tidak di sini kan ada wartawan, meskipun bukan jam kerja mereka. Memangnya kau siap masuk berita dengan kejadian konyol dan memalukan?!"
Selma tertawa lagi. "Konyol deh! Ayo kita masuk."
Ian terkekeh. Dan tiba-tiba ia merangkul Selma lagi. Kali ini tangannya melingkar di pinggang perempuan itu. "Apa kita perlu melakukan ini lagi?"
__ADS_1
Sontak hal itu membuat Selma terkejut dan berdesir. Perutnya serasa tergelitik. Ia menghembuskan nafas pelan. Ia menatap wajah yang sangat dekat dengannya itu. Ian juga menatapnya. Intens. Dan hampir saja hidung mereka bersentuhan. Beberapa detik mereka saling menelusuri setiap sudut wajah dengan tatapan masing-masing. Tubuh Selma menegang. Jantungnya berdetak cepat. Ia bisa merasakan hembusan nafas Ian yang hangat di wajahnya. Yang semakin lama semakin cepat, sama sepertinya. Sama-sama terbius dan semakin mendekat. Namun, Selma mengerjapkan mata cepat-cepat. Ian pun menunduk sebentar membuang muka. Lalu mata mereka bertemu lagi.
"Sudah lama... baru kali ini aku sedekat ini dengan seseorang lagi... Walaupun hanya sandiwara," tatapan Ian menghujamnya.
Selma tak tahan. Khawatir pertahannya runtuh. Ia tak yakin dengan ketertarikan sesaat ini.
"Kurasa..." kata Selma terbata-bata, "Kurasa... seperti ini saja." Ia merenggangkan diri dari Ian. Ia takut. Takut sandaran sementara itu melenakannya, dan malah membuatnya semakin terjebak di hubungan yang rumit.
Ian mengangguk. Ia menurunkan telapak tangannya, menggapai jemari Selma, mengaitkan miliknya di sana.
Tubuh pria itu serasa lebih panas. Padahal cuaca di luar semakin dingin. Damn! Kenapa dia bisa menggetarkanku seperti ini?!
__ADS_1
Mereka pun masuk ke dalam, dengan pikiran masing-masing.