Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 23 - 12.00 pm


__ADS_3

12.00 pm


"Ada apa denganmu?!" Selma tak habis pikir kenapa Ian senewen.


Ian menarik rambutnya ke belakang.


Ia masih belum percaya dengan apa yang menimpanya. Bermenit-menit ia cemas tak karuan. Namun, yang ia cemaskan malah sedang duduk khidmat menikmati sebuah cupcake di depan emperan toko kue tanpa rasa bersalah. Seperti seorang gadis di dalam dunia kecilnya, yang antusias pada aneka jajan tanpa peduli peliknya dunia orang dewasa.


"Ada apa?! Masih tanya ada apa?! Aku setengah mati mencemaskanmu. Bahkan aku tak tenang di atas panggung. Kau pergi begitu saja dalam kondisi emosional di hampir tengah malam seperti ini. Sendirian! Aku bingung mencarimu. Tak satupun telponku yang kau angkat! Tak satu pun! Dan pada akhirnya setelah kau membalas pesanku dan bilang akan kembali, nyatanya kau tak kunjung kembali! Sekarang apa? Dengan tampang polos itu kau enak-enakan makan cupcake di sini. Tak peduli sama sekali aku bingung mencarimu! Kenapa mengabaikanku? Ada apa denganmu?!" pekik Ian penuh kekesalan.


Selma urung menghabiskan kue itu. Kue yang ikut-ikutan jadi sumber keributan. Sungguh ia hanya ingin menenangkan diri. Setelah badai emosi bak roller coaster yang menyerangnya hari ini membuat dirinya sangat lelah, ia hanya ingin menetralisir. Ia hanya ingin sejenak memulihkan diri dari tragedi yang menguras energinya.


Setelah dari Brooklyn Bridge, ia hanya ingin rehat sejenak dari lelah dan lapar. Melihat toko kue di tengah jalan yang masih menyala, sekuat tenaga ia bergegas masuk dan membeli sebuah untuk mengganjal perut. Untuk mengisi kembali tenaganya. Ia tak peduli toko mau tutup. Ia tak peduli meskipun terduduk loyo di depan jendela toko itu. Ia ingin istirahat sejenak. Menetralisir pahit harinya dengan manis buttercream di lapisan atas cupcake itu. Berharap kudapan tersebut cukup membuatnya bertahan malam ini.

__ADS_1


Melihat Ian yang tengah kesal padanya, seperti tak ada seorang pun yang mengerti lelah hati dan tubuhnya.


"Siapa yang menyuruhmu mencariku?!" Selma bangkit. Menatap tajam Ian. Kini ikutan kesal. "Aku sama sekali tidak menyuruhmu mencemaskanku berlebihan seperti itu! Aku tidak menyuruhmu menungguku!"


Ian naik pitam. "Sialan! Kau..." Ia meninju udara. Menjambaki rambutnya sendiri. Frustasi. Kalau saja Selma lelaki ia pasti sudah menghantamkan tinju. Tapi, mengingat itu Selma. Satu-satunya perempuan yang baru kali ini bisa menggetarkannya lagi, ia tak mampu berkutik. Seluruh ototnya terasa terkunci. Meski ia sangat kesal.


"Setidaknya kau mengatakan terima kasih karna sudah ada yang peduli dan mencemaskanmu!" serunya lagi.


"Well, trims. Tapi, ingat Ian! AKU TAK BUTUH RASA KASIAN SEDIKIT PUN DARIMU!" penekanan itu begitu terasa dari mulut Selma ke ulu hati Ian. Bagai godam yang menghentaknya, Ian terhenyak dan tersulut.


"APA KALAU BUKAN KASIHAN?! KAU TAK PERLU REPOT-REPOT MENCARIKU! KAU PASTI KASIHAN PADAKU!"


"KAU... ! Kau membuatku gila! Kau pikir itu baik buatmu... berjalan di kota besar seperti ini sendirian tengah malam?! Kau pikir hanya dirimu yang butuh ketenangan?! Kau pikir hanya dirimu yang punya masalah?!"

__ADS_1


Selma menatap tajam pada Ian. Kepalanya terasa panas. "Lihat kan! Kau sendiri yang menyiratkan kau mengasihaniku! Sudah kubilang aku tak butuh itu! Jangan kau berpura-pura baik di hadapanku! Kau melakukan ini semua hanya karena untuknya kan?!"


"Apa maksudmu karena dia?! Kau ini bicara apa?!"


Kelopak Selma mulai menggenang. Rasanya kacau. "Kau berbuat baik pada orang lain karena Sheila kan.. Kau mau peduli padaku karena itu adalah hal yang pasti akan dilakukannya kan?! Seperti sebuah penebusan, rasa bersalah, atau apapun itu namanya bagimu. Kau mau baik dan peduli padaku bukan karna itu yang muncul dari dirimu sendiri. Tapi, karna kau masih dalam bayang-bayangnya!"


Mata Ian nanar. "Hentikan! Sudah cukup kau berkata tentangnya! Kau tidak tahu apa-apa, Selma! Kau tak tahu..."


"Aku memang akan berhenti. Aku tidak akan menyusahkanmu lagi! Aku tidak mau berhutang budi lebih dari ini. Tidak! Kau tak perlu repot-repot bersamaku lagi! Kau bisa hidup tenang. Dan aku pergi sekarang!" mata Selma nanar. Wajahnya memerah. Emosinya memuncak. Dan langkah kakinya menjauh begitu saja dari sana. Meninggalkan lelaki yang masih terperangah dengan akhir yang ia kira akan berjalan dengan baik, namun nyatanya berantakan.


Ian sngguh kesal dan tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Semudah itu Selma mengambil keputusan. Semudah itu Selma menyimpulkan betapa rendah dirinya. Perempuan itu tak pernah menganggapnya tulus. Perempuan itu tak mengerti mengapa ia begitu peduli. Selma tak mau tahu kalau Ian memang ingin bersama denganya. Selma tak mengerti. Sekarang semua sudah selesai begitu saja. Dengan mudah. Dengan sangat buruk.


"Kau mau pergi?! OKE, PERGILAH! LAKUKAN APAPUN YANG KAU MAU!" pekik Ian pada Selma yang sekarang hanya terlihat punggungnya dan menjauh.

__ADS_1


Kini keduanya sama-sama melangkah menjauh. Tak lagi searah.


__ADS_2