Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 7 - 03.18 pm


__ADS_3

03.18 pm


Sudah sekitar lima belas menit Selma menangis. Menumpahkan semua padanya. Dan laki-laki bernama Ian Walsh itu begitu sabar. Selama itu Ian menatapnya penuh pengertian, dalam, dan prihatin. Sesekali ia menyodorkan tisu yang diambilkan oleh David. Sampai-sampai Selma lupa kalau ia juga punya tisu sendiri. Ia menerimanya dengan senang hati dan rasa terima kasih.


Beratus kilo meter ia jauh dari rumahnya, dan kini ia malah mencurahkan kisah itu pada Ian di sini. Di sebuah cafe tenang yang tersembunyi di dalam sebuah pub. Tempat bak harta karun yang tidak semua orang tahu.


Di tempat itu emosi yang ia tahan sebagian pecah. Ia teringat masa lalu sebelum enam bulan ini. Semua tentang Danny dan dengannya dulu sangat menarik. Mereka beriringan ada pada sebuah proses pencarian dan pencapaian. Mereka berbagi bersama dan membangun mimpi indah. Dan kini setelah penantian panjang dan pencarian melelahkan, yang ia dapat adalah mimpi buruk yang kacau. Terasa sendiri. Ditinggalkan. Semakin sepi. Tertusuk perih. Gemerlap, ketenaran, dan kecemerlangan karier di kota besar, membuat Danny melupakannya. Dan ia merasa sangat tolol menanti kedatangan dan janji yang hanya menguap lalu terlupakan.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Ian setelah menyesap kopi di cangkirnya.


Tetes air mata jatuh lagi ke pipi Selma setelah ia tadi mulai tenang. Ia diam sejenak. Mengontrol diri. Memikirkan sesuatu. Danny adalah urusan utama. Dan Selma teringat sesuatu yang hampir terlupakan. Sejilid kertas tebal di sebuah map di dalam tasnya adalah urusan kedua. Lihatlah! Bagaimana patah hati bisa membuatmu lupa hal penting lainnya. Sialan kau, Dan! Rutuknya dalam hati. Lalu ia hanya menghela nafas.


Ian mengambil satu tisu. Ia sapu bersih air mata yang jatuh di pipi Selma. "Kuharap itu yang terakhir."


Selma tersentuh dengan sikap itu. Perempuan itu tersanjung dengan perlakuan Ian. Lelaki itu tersenyum, mencoba membangun atmosfer hangat. Ikut lega melihat perempuan itu terlihat lebih baik.


"Jangan terlalu banyak menangis! Untuk apa kau menangisi si brengsek itu?! Kau harus banyak tersenyum Selma." Ian menepuk bahu perempuan itu. Meremasnya lembut sebentar sembari berkata, "Orang-orang di hidup kita. Tak ada yang akan benar-benar tinggal. Mereka datang dan pergi silih berganti. Dan bagi orang yang setia, hanya kematian yang membuat mereka pergi meninggalkan kita." Ia mengeluarkan uang dari dompet dan meletakkannya di meja. Lalu Ia bangkit dari duduknya. Ia menelengkan kepala. "Ayo kita pergi dari sini! Kau masih mau jalan bersamaku?" katanya berkedip penuh arti.


Selma terperangah dengan cara dan gerak-gerik Ian yang membiusnya itu. Ia mengangguk dan tersenyum. Lalu beranjak dari bangku dan mengejar langkah Ian.


"Kenapa kau selalu berkata seperti itu?"


"Tentang apa?"


"Orang-orang.. kau tahu.."

__ADS_1


"Karena selama 28 tahun aku hidup, dewasa ini, yang kurasakan seperti itu. Setelah kucermati, hidup memang berjalan seperti itu kan?"


Selma mengangguk paham. Ia merenungkan perkataan Ian.


Lalu ditengah jalan menuju pintu keluar ia tersadarkan akan suara Ian yang lantang karena berpamitan pada David. "Dave, aku pergi dulu!"


"Oke, man!" David muncul dari balik bar. Melihat Kedua orang itu akan pergi dari tempatnya. Ia pun berkata lantang, "Selma! Semoga harimu lebih baik dan menyenangkan!"


Melihat Selma menengok ke arahnya, David mengerlingkan matanya penuh arti. Selma hanya tersenyum. "Trims, Dave!"


Mereka berdua pun saling melambaikan tangan.


***


Lagi. Ian dan Selma berjalan menelusuri pinggiran jalan yang tak pernah benar-benar sepi. Ian berbicara banyak hal tentang kotanya, bak pemandu wisata hingga menerangkan gedung-gedung penting yang mereka lewati. Sesekali mereka bercakap serius. Sesekali pula bersenda gurau.


"Sepertinya sih pernah. Kau?"


"Pernah. Memang kau ingin jadi apa?"


Selma berpikir sejenak. "Mmmm... mungkin... orang hutan."


Ian tertawa terbahak. "Apa? Maksudmu orang hutan bagaimana? Kau mau mengurusi bayi kera begitu?"


Selma terkekeh. "Bukan begitu maksudku! Kau tau, benar-benar hidup kembali ke alam. Bisa lebih mengenal alam. Menguasai bagaimana cara hidup di alam liar. Terkadang sangat menenangkan tidak memikirkan gilanya dunia ini, tapi juga menegangkan dan mengasah inderamu lebih tajam. Survival. Coba saja aku ilmuwan jenius! Akan kubuat pasukan kera yang hanya patuh padaku dan kusuruh mereka memberi pelajaran pada orang-orang brengsek!" katanya sinis.

__ADS_1


Ian terbahak lagi. Membayangkan dunia yang Selma khayalkan. "Apa? Kau mau buat dunia jadi seperti Dawn of The Planet of The Apes begitu?! Sepertinya kau lagi sensitif dengan orang-orang brengsek. Hahahaha...."


"Tidak lucu tahu! Kalau begitu kuperingatkan kau supaya tidak jadi orang brengsek mulai sekarang, terlebih di dekatku."


Ian terkekeh, tapi angkat tangan. "Oke aku bakalan takut. Kalau begitu mulai sekarang aku akan berlari darimu."


Selma menyikut laki-laki di sampingnya itu. "Jangan jadi cowok brengsek deh! Kau termasuk brengsek kalau kau lari dariku."


Ian tertawa lagi. Ia mengangkat satu alisnya dan mulai menggoda lagi. "Jadi aku harus bersamamu terus? Memangnya kau ini siapa?"


"Sapa suruh kau menawarkan diri mau bertemu denganku! Tanggung jawab! Selama aku di sini, kau harus menemaniku!" katanya menyebik. Tak lama, terkekeh setengah bercanda dengan perkataannya tadi.


"Sepertinya aku sudah terlanjur terperangkap." Laki-laki itu mengambil nafas panjang dan menghembuskannya. Lalu menatap Selma dengan senyuman penuh arti.


Selma menatapnya horror. "Apa?! Kau mau mengajakku berlari lagi?"


Ian tertawa lagi. "Tidak, Miss Stanger!" Ian merasa senang dengan percakapan tadi. Ia punya firasat menyenangkan jika harus terperangkap dengan orang asing seperti Selma. Di kepalanya, Ian menyusun rencana akan ia ajak kemana saja Selma pada sisa hari ini. Namun, sebelum itu ia bertanya, "Apa kau yakin urusanmu kemari hanya untuk mantan tunanganmu itu?"


Selma menghela nafas. "Sebenarnya ada urusan kedua."


"Apa?"


Tanpa berbicara banyak perempuan itu membuka tasnya yang terlihat agak berat. Lalu ia keluarkan tumpukan kertas tebal berjilid itu pada Ian.


Ian mengangkat alis. Masih setengah bingung. Ia membuka halaman pertama. Lalu menatap Selma penuh tanya. "Novel?"

__ADS_1


"Ada satu hal lagi tentang aku mau jadi apa kalau waktu bisa diputar." Ia menatap Ian penuh kesungguhan, "Aku ingin membuat buku sendiri. Yeah.. aku berencana ingin menerbitkannya."


Kali ini Ian tersenyum meyakinkan lawan bicaranya itu. Alisnya terangkat, "Kalau untuk yang satu ini.. waktu tidak perlu diputar kan?"


__ADS_2