Some Hours With Stranger

Some Hours With Stranger
Bab 10 - 04.52 pm


__ADS_3

04.52 pm


Setelah beberapa pertanyaan dan memberikan tas untuk difoto sebagai barang bukti, mereka dipersilahkan keluar. Selma membukakan pintu depan kantor polisi untuk Ian. Sedangkan Ian, laki-laki itu memegangi dadanya yang kini mulai terasa nyeri. Di depan kantor polisi mereka menghirup udara dalam-dalam kemudian membuangnya. Ian tertawa kecil sembari menahan nyerinya. Selma menatapnya dengan heran.


"Kenapa kau ketawa?"


"Tidak. Tidak ada apa-apa," katanya masih terkekeh.


"Ian, ayolah... Ada apa sih?"


"Hanya saja tadi sehabis kita keluar dari sana, kita menghirup udara bebas seperti penjahat-penjahat keluar dari tahanan. Persis seperti di film-film."


Selma ikut terkekeh, "Padahal kan kita korbannya. Tapi serius deh, di saat-saat buruk seperti ini kau masih bisa ya mikir yang konyol-konyol!"


"Hahahaha... Habisnya mau bagaimana lagi? Keadaan begini ditertawakan saja dari pada dibuat murung."


Tapi Selma memikirkan hal lain, "Bagaimana dengan lukamu? Apa kita perlu ke rumah sakit sekarang? Apa aku perlu mencarikan taksi untukmu?"


"Santai saja! Aku paling malas kalau ke rumah sakit, lagi pula tidak parah amat kok. Aku lebih memilih mengobatinya di rumah. Nomong-ngomong bagaimana rencanamu setelah ini? Kapan jadwal kereta selanjutnya?"


Selma pun teringat kembali dengan hal itu. "Oh iya.. aku hampir saja melupakannya. Pukul setengah tiga pagi besok ada jadwal kereta yang akan langsung menuju ke Norfolk."


Ian bergumam, "Well, kita masih punya cukup waktu buat jalan lagi. Tapi, aku tidak betah dengan kondisi seperti ini. Setidaknya aku ingin mandi dan mengobati lukaku. Kau mau ikut aku pulang dulu atau kau mau pergi ke suatu tempat?"


"Sebenarnya aku sudah check out dari penginapanku. Apa kau tidak keberatan aku ikut?"


Ian tersenyum lebar. "Tidak sama sekali Selma! Aku senang bisa memberitahumu di mana tempat tinggalku. Well, kau kan sudah resmi sebagai tamuku mulai kita bertemu tadi siang."


Selma tersenyum. "Sepertinya aku mulai bersemangat lagi sekarang karena punya tuan rumah yang sangat baik hati padaku. Tidak seperti sebelumnya."


Ian terkekeh. "Sama-sama, Miss Starnger! Ayo kita pulang!"


Mendengar ajakan pulang, entah mengapa perasaan Selma menghangat. Melambung. Dan berjalan bersama Ian kali ini membuatnya lebih nyaman lagi. Ian menoleh padanya dan tersenyum hangat padanya. Ia menatap laki-laki di sampingnya itu dan tersenyum bahagia. Oh Tuhan! Terima kasih banyak! Kau mengirimkan orang ini, yang seperti malaikat penyelamat buatku! benaknya dalam hati.


***


Ian membuka pintu apartemennya. Suara keyboard dan orang bersenandung langsung menyeruak. Selma mengikuti langkah Ian. Mereka sama-sama melepaskan mantel dan menggantungnya di dekat pintu.


Ian berjalan menuju ruang tengah. Menghampiri seseorang yang tengah berada di samping sofa depan tv. Ia masih duduk di hadapan keyboard. Laki-laki itu mengedikkan dagunya pada Ian. Ian membalas dengan lambaian tangan dan meletakkan tas ransel dan tas gitarnya di karpet.


Lelaki itu berdecak tak percaya. "Yo ada apa denganmu?! Habis menghajar maling?" kata laki-laki berambut gondrong sebahu itu padanya.


Ian terkekeh. "Coba tebak!"


Laki-laki itu mengangkat bahu, "Apa?"


"Kau benar seratus persen!"


"Hah?! Tidak mungkin!" katanya tak percaya.

__ADS_1


Ian hanya tertawa, "Aku tidak bohong."


Laki - laki itu membelalakkan mata lalu mulai terkekeh. "Serius?! Ya ampun!"


"Yeah. Aku orang paling jujur di antara kita semua. Well, dan ini dia korbannya," kata Ian sembari menarik Selma perlahan yang ada di belakangnya.


"Cewek? kau menolong seorang cewek?! Jadi kau mendadak mau jadi superhero karna cewek?!" godanya.


"Kau mau kuhajar?" alis Ian naik satu.


Mereka berdua sama-sama tertawa.


"So, siapa ini?" tanya laki-laki itu menatap Selma. "Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya."


Ian buru-buru menjawab untuk menjelaskan agar sahabat di depannya itu tidak bicara macam-macam. "Ini Selma Wood. Kawan dari Virginia. Dan Selma, ini Luke, sahabatku dan partnerku bermusik."


Selma maju dan menjulurkan tangan sambil memperkenalkan diri. Sementara Luke, ia mencondongkan tubuh ke depan dan menyambut perkenalan itu dengan ramah.


"Kalian tinggal bersama?" tanya Selma penasaran.


"Tidak. Kami tetanggaan. Tempatku persis di samping kiri punyanya," kata Luke pada Selma. "Kau boleh mampir kalau kau mau. Tapi, berantakan," ia meringis.


Selma hanya tersenyum sopan, "Trims, Luke."


Ian segera berjalan ke dapur. Ia membuka kulkas dan segera mengambil es batu. Selma menaruh tasnya di sofa dan mengikuti laki-laki itu.


"Hei bruh, kakak cewekmu yang cerewet itu tadi kemari. Ia ngomel-ngomel karna tau kau tidak datang di acara orang tuamu nanti malam. Kubilang padanya kalau kau masih ada urusan."


"Tentu." Selma menerima baskom berisi es batu itu. Ia berjalan keluar dan duduk di sofa.


Ian berjalan melewati Luke. Sebelum ia masuk ke kamar, ia memandang Luke. "Apa kalian masih main kencan-kencanan?"


Muka Luke memerah.


"Oh man!" Ia memutar bola matanya dan jengah. "Sudah kubilang berkali-kali.. kapan sih kau mau melamarnya? Seriuslah! Jangan main-main dengan kakakku!" katanya sebal.


"Sebenarnya aku sedang menyusun rencana. Tenang saja.. aku serius dengannya," Luke kemudian bangkit dari tempatnya, "Sepertinya si harimau sudah mulai panas. Kurasa aku akan kembali dulu," katanya jahil.


"Ya ya ya! cepat sana pulang. Aku bosan melihatmu di sini," katanya sembari tertawa.


"Bye, Selma."


"Bye, Luke."


Selma ikut terkekeh melihat tingkah Luke.


"Dia sangat menyebalkan, tapi aku membutuhkannya," Ian segera masuk ke dalam kamarnya dan mencari handuk kecil.


***

__ADS_1


"Ya Tuhan! Pasti besok pagi memarnya bakalan kelihatan banyak," pekik Selma saat Ian membuka kemejanya. Selma membantunya membungkus es ke dalam handuk kecil dan memberikannya pada Ian.


"Trims," kata Ian saat menerimanya. Ia segera mengompres dadanya yang nyeri. Lalu meringis kesakitan. "Yang penting mukaku tidak hancur."


Selma melotot, "Serius deh Ian! Masih bisa bercanda waktu kau meringis kesakitan seperti itu! Apa bedanya sih? Badanmu kan juga sakit semua."


"Aku serius tahu! Bisa ribut kalau orang-orang tahu wajahku kenapa-kenapa. Lagipula kalau hanya mata yang lebam sih masih bisa ditolerir. Aku masih bisa menutupnya dengan kaca mata hitam."


"Kau jualan musik atau tampang sih?"


Laki-laki itu sontak terkekeh mendengar protes dari Selma. "Well, yang utama musik. Tapi, tentu saja setelahnya tampang ikut-ikutan terseret. Jadi, aku bersyukur hanya hidungku yang berdarah."


Selma hanya geleng-geleng kepala."Apa kau pusing?"


Ian mengangguk. "Sedikit kok. Sebenarnya aku ingin mandi dan tidur sebentar saja. Tapi..." Ian meringis. "Aku tidak enak harus meninggalkanmu sendirian."


"Sungguh... Tidak apa-apa. Istirahatlah. Aku mungkin bisa keluar."


"Apa kau tidak lelah?" tanya Ian tak enak.


"Aku lelah. Aku bisa cari tempat istirahat di luar. Dan kau bisa pergi mandi dan istirahat sekarang. Aku akan keluar dulu," kata Selma sembari berdiri dari sofa.


Saat Selma mengambil tasnya. Ian buru-buru bangkit dan mencegahnya pergi. Ian menahan tangan perempuan itu. "Please, jangan pergi. Kau bisa istirahat di sini. Kau bisa pakai kamar tamu. Hanya saja jangan pergi dulu."


Selma terhenyak. Ia terpaku pada mata tajam itu. Kombinasi yang indah dengan alis tebal itu. Mereka saling bertatapan.


Selma mengerjap. "Sungguh.. aku tidak ingin membuatmu repot."


"Kau tidak membuatku repot sama sekali," tatap Ian meyakinkan.


Selma tersenyum senang, "Baiklah. Aku akan tinggal." Ia memikirkan paling tidak ia tak akan sendiri saat ini.


"Terima kasih, Miss Stranger." Ian tersenyum hangat.


"Seharusnya aku yang berterima kasih, Mr. Stranger. Terima kasih."


Ian tertawa kecil. "Baiklah. Aku akan pergi mandi sekarang. Kau bisa istirahat dan mandi di kamar tamu di samping kamarku. Kalau mau nonton tv, minun, membuat makan silahkan... kau bisa pakai dapurnya. Anggap saja rumah sendiri. Oke?"


"Oke. Trims."


Setelah terdengar suara air dari pancuran dari dalam kamar Ian, Selma memasuki kamar sebelahnya. Ia menaruh tasnya dan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


06.03 pm


Beberapa saat kemudian Selma sudah keluar dari kamar mandi. Setelah mengenakan kaos lengan panjang dan celana jeans hitamnya yang baru. Ia mulai merebahkan diri ke kasur. Ia menghela nafas lega. "Nyamannya...!" katanya sembari merasakan nikmatnya berbaring di sana.


Selma menatap langit-langit lama. Memikirkan perjalanannya kemari penuh dengan kejadian berwarna. Berdegub kencang tak sabar. Kegugupan. Keterkejutan. Kekecewaan. Amarah. Kebimbangan. Kekonyolan. Keceriaan. Dirampok. Mengejar maling. Kelelahan. Masuk kantor polisi, meski hanya dimintai keterangan. Dan terakhir hingga detik ini, Mr. Stranger.

__ADS_1


Tak disangka ia jadi tidak begitu menghiraukan suasana murungnya karena sosok Ian Walsh. Sakit hati dan terkenang masa lalu pasti ada. Pasti masih terasa. Tapi, Ian Walsh bagaikan penawar obat nyeri. Doping yang kuat. Tak disangka pula julukan Mr. and Miss Stranger itu muncul dan terucap begitu saja masing-masing dari mulut mereka. Ia senang dengan panggilan di antara mereka itu. Selma tersenyum-senyum sendiri. Lalu tersadar kalau bukankah seharusnya ia sekarang meringkuk di atas kasur dan menangis sejadi-jadinya karena patah hati. Tapi, tidak. Emosinya sudah lebih tenang. Itu semua karena ada Ian. Ya. Ian Walsh memang obat penawar luka. Ngomong-ngomong tentang Ian.. sedang apa ia sekarang? Apa ia sedang tidur? benak Selma dalam hati.


Perempuan itu bangkit dari tidurnya. Sebelum berdiri dari sana, pandangannya menangkap sesuatu di meja kecil di dekat kasur. Pigura cokelat itu tergeletak begitu saja di pojokan dalam posisi ditengkurapkan. Selma penasaran dengan benda itu. Tangannya meraih pigura itu dan mengangkatnya. Sebuah potret hangat dan bahagia tergambar dari sana. Ian Walsh sedang merangkulkan dan melingkarkan kedua tangannya pada seorang perempuan cantik berambut sebahu dari samping. Telapak tangan kirinya terpaut pada telapak tangan perempuan itu. Pada foto itu rambut Ian lebih panjang dan bergelombang. Ia menempelkan wajahnya pada pipi perempuan itu. Perempuan itu entah mengapa membuat Selma terkagum dan segan. Sosok itu terlihat cantik, dewasa, dan lembut. Raut mereka nampak bahagia. Mereka tersenyum bersama. Ian terlihat memuja perempuan itu. Dan melihat itu, entah mengapa Selma merasa tidak nyaman. Ia mengembalikan pigura foto itu ke tempat semula. Ia memutuskan keluar dari sana sembari bertanya-tanya dalam hati, Siapa perempuan itu?


__ADS_2