
Di sebuah rumah di tepi danau seorang anak laki-laki duduk dengan setumpuk buku dan kalkulator di tangan nya. Dia dengan giat belajar seperti yang sering dinasehati ayah dan ibu nya.
'Ken kau harus menjadi pria hebat yang bisa membuat kami bangga' Itulah motivasi nya selama ini. Dia bahkan belum cukup umur untuk menjejakkan kakinya di universitas ternama negeri ini.
"Ken mari sayang makan dulu" Ibunya membawakan makan siang untuknya.
"Ya bu, sebentar lagi aku selesai kan 1 soal ini dulu" Dia masih asyik dengan kalkulator dan pena nya.
Melihat itu ibu berinisiatif menyuapi putra nya namun, Ken masih menolak dengan halus.
Ken meletakkan pena dan kalkulator nya "Bu, aku bisa makan sendiri" Dia merebut sendok dan piring makan itu dari tangan ibu nya.
Kemudian melahap makanan itu tanpa mengucapkan apapun selesai makan pun Ken tak mengacuhkan ibu nya seolah tak terjadi apa-apa antara mereka.
Ibu yang sudah terbiasa dengan sikap putra nya itu hanya bisa menarik nafas dalam lalu menghembuskan perlahan. Ini bukan pertama kalinya dia melihat sifat lain dari putra nya itu. Ibu mengemasi piring makan dan gelas minum Ken lalu beranjak dan meninggalkan Ken yang sibuk dengan tugas-tugas nya.
Tak berapa lama setelah itu, seorang gadis kecil datang dengan rambut nya yang masih di kepang. Dia datang dengan keranjang buah di tangan nya.
"Hei! Kau bisa gila dengan tugas mu itu" Dia berdiri berkaca pinggang "Ayo! temani aku ke kebun mengambil buah" Dia mengulurkan keranjang itu di depan wajah Ken.
__ADS_1
Ken mendongak dia menatap jengah keranjang itu "Anit jangan mengganggu ku lagi" Dia berbicara pelan lau kembali fokus dengan kalkulator nya.
Anita tidak tinggal diam dia duduk di samping pria itu memperhatikan dengan seksama aktivitas sibuk pria itu.
Ken yang merasa terganggu dengan itu "Jangan melihat ku seperti itu, sana pergi aku sedang sibuk sekarang" Usirnya masih menunduk menlis hasil jawaban yang baru saja di dapatnya.
Anita manggut-manggut dia tertawa "Oh ya, lihatlah wajah kaku mu itu" Dia mencuil hidung pria itu "Oh kau pemalu juga ya" Dia terus membuat pria itu merasa terusik dengan kejahhilan nya.
Ken yang benar-benar frustasi pun mengalah dia ikut dengan Anita memetik buah di kebun. Tanpa mereka sadari ibu mengintip mereka dari dapur. Ibu merasa senang dengan kehadiran Anita yang bisa mengalihkan kegiatan putra nya dari kesibukkan tugas-tugas kuliah. Bukan dengan maksud lain, ibu hanya khawatir Kenan akan menjadi orang yang berbeda setelah ini.
Hari demi hari Kenan selalu di hantui dengan kedatangan gadis itu walaupun demikian, dia tidak bisa menolak semua yang gadis itu lakukan. Mereka sudah lebih dekat sekarang Kenan pun tak merasa canggung dengan kehadiran gadis itu.
Ibu nya yang melihat ekspresi Kenan menghampiri nya "Ken, apa yang kau pikirkan?" Ibu ikut tersenyum dengan tingkah lucu putranya yang slah tingkah ketika dipergoki tengah mengkhayal.
Ibu langsung menarik putra nya itu bergabung dengan anggota keluarga yang lain di meja makan yang luas itu. Semua orang sudah siap dengan tempat duduk masing-masing. Namun, masih tersisa satu bangku yang kosong.
Kenan memperhatikan Anita yang nampak bersedih dengan wajah tertunduk.
"Kenapa dengan wajah sedih mu itu?" Dia menghampiri gadis itu.
__ADS_1
Anita mendongak "Ayah belum juga datang, padahal semua orang sudah menanti nya. Ayah sudah berjanji pada ku untuk pulang cepat" Ujarnya kembali tertunduk.
Kenan memnepuk lembut bahu gadis itu "Jangan bersedih, sebentar lagi paman akan datang mungkin ada kendala di jalan...." Belum sampai dia berucap. Ibu Anita datang mengahampiri mereka dengan tangis yang sudah berurai.
"Sayang kita harus bergegas menyusul ayah mu di rumah sakit, ayah mu kecelakaan" Dia menarik putrinya dari sna dan langsung berkendara menuju rumah sakit.
Mendengar kabar duka itu, semua orang juga bergegas menyusul ke ruamh skait.
Di rumah sakit itu semua orang nampak tegang menunggu ruang IGD itu terbuka.Hampir 1 jam akhirnya pintu itu terbuka sontak semua orang berdiri sedangkan ibu Anita langsung menggampiri dokter.
"Bagaimana suami saya?" Tanya masih diiringi dengan tangisan.
Dokter itu menghembuskan nafas pelan "Ibu, maaf suami ibu tidak bisa kami selamatkan karena pendarahan di otaknya sangat parah".
Mendengar itu tangis ibu pecah. Semua orang turut berduka cita dengan kemalangan yang dihadapi keluarga kecil mereka.
Semenjak kejadian itu pula Kenan tak merasakan lagi moment mereka yang dulu sangat menyenangkan. Canda tawa yang sangat dirindukan dari gadis yang sekarang hanya bersedih itu membuat nya tertantang mengembalikan gadis itu seperti dulu ceria dan sangat bahagia.
Dan dia berhasil dengan itu dia berhasil mengembalikan senyuman manis gadis itu. Seiring berjalan nya waktu semua yang di laluinya bersama Anita terasa sangat indah. Kenan begitu menyayangi Anita layaknya seperti saudara kandung nya. Mungkin itu yang orang lain pikirkan tapi dalam hati kecil Kenan. Semua yang diberikan nya pada Anita adalah hal yang sangat special hal yang tak mungkin diberikannya pada wanita mana pun bahkan ibunya sendiri. Hingga dia sendiri yang mengaku dengan perasaan cinta dan suka nya pada gadis itu.
__ADS_1