
Dia mengehempaskan tubuh lelah nya di sofa. Matanya terpejam merasakan nyaman setelah seharian beraktivitas. Namun, kembali matanya tebuka kala mengingat seseorang. Dia meraih ponsel dari saku tas punggung nya.
Sebuah notifikasi dari 2 jam yang lalu. Dia tersenyum saat melihat isi pesan dari Anita.
"Kalian sudah sangat dekat ya?" Ibu datang mengaketkan Andrew.
"Ibu? sejak kapan ada di sini?"
Ibu hanya tersenyum "Apa kau sudah makan?"
Andrew menggeleng "Belum, bu".
"Ayo, ibu sudah menyiapkan makanan kesukaan mu"'
Mereka menuju meja makan dan benar saja disana sudah tersaji berbagai hidangan.
Andrew mulai melahap semua makanan itu karena, memang perutnya sangat lapar.
"ehm,,,, Ibu lihat kau sangat bahagia akhir-akhir ini" Ibu melihat Andrew yang mengangguk "Apa karena gadis yang kemarin?".
Andrew menghentikan kunyahan nya "Hmmm, ya mungkin bisa dibilang begitu" ujarnya.
Ibu tersenyum simpul "Apa kau tidak ingin mengenalkan dia secara resmi kepada ibu?".
Andrew nampak berpikir sejenak "Ya, mungkin lain kali".
Ibu tersenyum penuh makna.
Matanya terfokus pada layar monitor laptop di depan nya itu. Dia bahkan tak menyadari kehadiran seseorang ada di di dekatnya.
Hingga layar itu tertutup dengan cepat.
__ADS_1
Anita menengadah melihat pelaku yang sudah menganggu kesibukan nya "Ken!".
Kenan tersenyum "Jangan, menonton terlalu dekat" Ken duduk di samping Anita.
Anita tak menghiraukannya "Kenapa kau datang malam-malam begini?".
"Aku hanya mengunjungi bibi sebentar, dan juga aku sedikit merindukan mu"
Anita memutar bola matanya malas "Sudahlah, jangan menganggu ku" Usirnya ketus.
Kenan hanya tersenyum "Aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu, ini tentang Andrew"
Baru saja Anita ingin menyanggah namun, mendengar nama pria pujaannya ia langsung terdiam.
Kenan kembali melanjutkan ucapannya "Kau harus menjaga diri mu baik-baik"
Pikiran Anita melayang jauh memikirkan hal aneh "Apa maksud mu?".
Kenan tergelak melihat ekspresi Anita "Ya, maksud ku kau harus pandai dengan keluarga nya".
"Kau memata-matai hubungan ku?" Tanya nya intens.
"Tidak, aku hanya tau sedikit skandal tentang keluarga nya, jadi aku hanya memperingatkannya pada mu. Karena kau saudara ku, bukan?".
"Ini, membingungkan apa yangkau ucapkan? Jangan bertele-tele".
"Mau kemana kau? Hei, kau harus menjelaskan nya pada ku!" Teriak Anita.
Kenan berbalik "Aku ingin ke bar, apa kau mau ikut dengan ku?" Ujarnya sembari enaik turunkan alisnya.
"CIH"
*
Dia menguk minuman beralkohol itu dengan cepat. Rasa panas yang membakar tenggorokan nya membuatnya semakin ingin meminumnya.
"Jangan, berlebihan. Aku tidak ingin membawa tubuh bert mu itu".
Ken tersenyum "Khai kau menolak tubuh ku?" tanya nya dengan genit.
Wanita itu hanya geleng-geleng melihat Kenan yang kembali mabuk "Kau kumat lagi, pria besar".
Kenan meletakkan gelasnya dia memegangi kepalanya yang berat.
__ADS_1
Khai menepuk pelan bahu berotot pria itu "Apa kau ingin muntah?" tanya nya.
Kenan menggeleng "Khai apa kau mau menemani ku malam ini?"
Khai agak kaget mendengarnya namun, dia masih berpikir jika pria itu sedang dalam keadaan mabuk "Jangan mengatakan hal lain, aku akan mengantar mu ke kamar mu".
Khai langsung merangkul pria yang sempoyongan itu menuju sebuah kamar yang sudah di pesan oleh asisten Ken.
Khai langsung menghempaskan tubuh berat pria itu. Setelah itu dia hendak keluar namun, ditahan oleh pria itu.
"Khai bantu aku membuka jas sempit ini" Keluhnya pada pakaian nya sendiri.
"Aku akan menelpon asisten mu, dia akan membantu mu"
Ken menarik tangan Khai hingga terduduk di pinggir ranjang "Jangan".
"Kenapa?" Tanya Khai bingung.
Khai mengernyitkan dahinya melihat ekspresi Kenan yang sangat aneh malam itu, tak biasanya pria itu bersikap seperti itu. Khai menjulurkan tangannya menyentuh kulit leher pria itu yang sangat tegang dan berkeringat.
"Ken, kau...?"
Khai langsung bangkit dari duduk nya "Aku akan memanggil asisten mu".
Namun, kembali ditahan oleh pria itu.
"Khai...." Nafas Ken sudah terengah-engah wajah nya yang sayu.
Dia langsung menerkam sahabatnya itu dengan ganas.
"Ken... tidak...."
"Maaf kan aku, Khai aku sangat kasar, aku tidak bisa mengendalikannya"
"Kau nikmat sekali ahh".
"Sakit.."
"Buka kaki mu sayang"
"Shitt sempit sekali"
Krakkk
Racauan itu menggema diruangan hotel itu.
Hingga Ken puas dengan nafsunya sedangkan Khai yang lelah dengan permainan kasar pria itu.
__ADS_1