
Pagi minggu yang cerah, Anita tengah berlari kecil di perkarangan rumah nya guna menyehatkan tubuhnya. Anita melakukan beberapa peregangan. hampir 30 menit ia disana Anita kembali ke rumahnya dia meraih gelas lalu mengambil air putih di dalam dispenser. Anita meneguk habis minumnya.
"Anita" Suara ibu mengalihkan perhatian Anita.
"Iya bu?".
"Bersiaplah! Kita ada tamu sebentar lagi"
Anita mengerutkan dahinya "Tamu? Siapa bu?"
"Kau akan tahu nanti, yang jelas sekarang kau harus bersiap dulu"
Anita menaiki tangga menuju kamarnya dia masih bingung siapa yang bertamu ke rumah mereka hari minggu begini. Tak banyak pikir dia langsung bersiap-siap dengan tampilan sederhananya.
Hampir 30 menit Anita kembali turun pandangannya menangkap 2 wanita paruh baya di sana.
Anita duduk di samping ibunya.
"Bibi?" Anita langsung menyambut wanita paruh baya itu ramah.
"Apa kabar mu sayang?" Tanya nya ramah.
"Aku baik, bagaimana dengan bibi?" Percakapan basa-basi Anita.
Tidak ada yang penting dari percakapan mereka hanya sekedar basa-basi saja. Anita hanya tersenyum menanggapi beberapa pertanyaan yang mungkin dibahas oleh ibu-ibu. Dalam pikirannya Anita hanya khawatir jika sekiranya ibu dari Kenan itu akan meminta nya menjadi istri dari putra nya. Namun, pembahasan mereka tak sedikitpun menyangkut hal pernikahan. Tak beberapa lama tamu mereka pun pulang.
__ADS_1
*
"Ibu, kenapa Bibi Kamila datang kesini? Aku bahkan tak mengerti dia datang kesini hanya basa-basi saja".
"Ya, Bibi mu datang karena ada hal penting yang tadi ingin dibicarakan dengan ibu"
Anita tersenyum "Apa itu bu?" Dia nampak antusias dan penasaran.
"Keluarga mereka sedikit dilanda kecelakaan. Jadi bibi mu kemari meminta solusi pada ibu" Jawab ibu singkat.
"Kecelakaan? Siapa?"
"Sudahlah jangan dipikirkan, sekarang kau temani ibu belanja"
Anak dan ibu itu berangkat menuju mall langganan mereka. Untuk belanja bulanan, karena sudah di penghujung bulan jadi mereka belanja bersama. Hal ini adalah rutinitas yang selalu dilakukan dua wanita itu sebagai bentuk keakraban anak dan ibu.
Anita mendorong keranjang belanja itu sembari mengikuti langkah ibunya. Walau sangat lama Anita tak bosan karena memang dia juga sama seperti ibunya sangat teliti dalam memilih.
"Awww" pekiknya memegangi kakinya yang terkena besi dkeranjang tersebut. Dan semua ada di dalam keranjang yang ada di tanganya berserakan.
Anita yang melihat itu langsung membantu wanita tersebut "Kau baik-baik saja?"
Sedangkan barang belanjaanya sudah di kumpulkan kembali oleh ibu Anita.
Wanita itu hanya menunduk walau demikian, Anita bisa melihat wajah pucat di wajah wanita tersebut.Anita pikir jika wanita tersebut tinggal di sekitar sini. Dapat dilihat, dari tampilan yang hanya memakai dress rumahan selutut.
"Maaf, kami tidak sengaja...."
"Ya, aku tidak apa-apa. Aku harus pergi" Dia langsung bergegas pergi dari dua orang itu.
__ADS_1
Anita tak ambil pusing, dia kembali mendorong keranjang nya. Tapi, tidak dengan ibunya.
"Bayar belanjaan kita, ibu mau menyusul wanita tadi" Ujarnya pada putrinya seraya meninggalkan kartu kredit.
"Tappi........ bu" Anita merasa bingung dengan tingkah ibunya. Tak biasanya dia diberikan kartu kredit berharga ibunya. Tapi Anita malah tersenyum dengan demikian dia bisa membeli kebutuhan nya dengan uang ibunya.
*
"Nona!"
Dia menghentikan langkahnya lalu menoleh namun, sedetik kemudian dia berjalan cepat dari pintu masuk tersebut. Karena memang dia hanya berjalan kaki ke mall tersebut.
Ibu tak menyerah dia langsung mengejar dan mencekal tangan wanita itu.
"Bisa bicara sebentar".
Dia terus menarik tangannya dari cekalan itu "Aku harus pergi"
"Ya, aku tau kau terburu-buru tapi bisa kita bicara sebentar? Anggap saja ini bentuk permintaan maaf ku karena kesalahaan putri ku tadi"
"Aku sudah memaafkan putri mu jadi biarkan aku pergi" Ujarnya masih dengan wajah yang tertunduk.
Ibu tak hilang akal dia langsung menyodorkan sebuah kartu "Kau meninggalkan kartu kredit mu di meja kasir, aku hanya ingin mengembalikan nya"
Dengan cepat dia mengambil kartu itu "Terima kasih".
__ADS_1
"Maaf nona, aku tidak bermaksud mengusik mu. Tapi ada hal yang ingin ku bicarakan dengan mu"
"Tapi, aku tidak mengenal mu. Aku tidak ingin terlibat dengan urusan orang lain" Dia langsung menarik dirinya dan langsung menaiki bus yang bertepatan berhenti di halte depan mall tersebut.