Sorry If I Love You

Sorry If I Love You
'Kecelakaan'


__ADS_3

drettttttt.....


Dering telepon menyadarkan ibu dari lamunan nya. Dia segera menekan tombol hijau di layar ponsel nya.


"Aku bertemu wanita itu kemarin"


'Benarkah?'


"Ya, dia seperti melarikan diri. Aku yakin dia bermukim di sekitar mall, kau bisa mencarinya di sana"


'Baiklah, terima kasih'


Sambungan telepon terputus.


*


*


*


Di kampus....


Anita tengah duduk di kantin seperti biasa dia ditemani Anne sahabatnya.


"Jadi, maksud mu nyonya Kamila tak membahas hubungan kalian sebelumnya?".


Anita mengangguk "Ya, tapi ada satu hal yang mengganjal".


"Mengganjal?" Anne mengulang ucapan Anita karena merasa bingung.


"Ya, ibu ku bahkan tak membagi informasi pada ku" Anita menatap jauh kedepan "Aku yakin ada yang disembunyikan, dan ya aku juga yakin itu penyebab Bibi ku tak membahas pertunangan kami sebelumnya"


"Ya mungkin begitu. tapi, kenapa kau dilarang mengetahuinya ya?"


Anita manggut-manggut "Kau benar aku tak menyadari itu"


"Bagaimana kalau menyelidiki melalui Kenan siapa tau pria itu juga berkaitan"

__ADS_1


Anita menggeleng "Tidak aku sudah berjanji pada diri ku sendiri untuk menjaga jarak dengan nya, dan juga aku tak ingin menyakiti perasaan Andrew"


Anne menghembuskan nafas pelan "Ya, aku sampai melupakan hubungan mu dengan Andrew"


"Ngomong-ngomong mengenai hubungan, aku menyarankan mu bersama Kenan dia juga pasti kesepian sekarang" Anita tersenyum singkat.


Anita tersenyum simpul "Ya aku memiliki kesempatan tapi, aku tak akan menggunakannya. Aku tak ingin menjadi pelampiasan dari kandas nya hubungan kalian"


*


*


*


Sedangkan yang dibicarakan tengah di sidang di ruang keluarga.


"Ibu, tidak setuju jika kau memiliki hubungan dengan wanita seperti itu"


Kenan menghembuskan nafas gusar "Ya aku tahu itu. Aku tahu standar calon menantu ibu. Tapi aku ingin bertanggung jawab bu. Apa ibu tak melihat matanya saat kalian berbicara? Dia wanita baik-baik tapi, putra ibu inilah yang merusak nya"


"Jangan asal bicara. Kau sudah dijebak" Seseorang menyela ucapan Kenan.


"Kenan, aku ini Kakak mu tak mungkin aku yang menyebabkan adik ku terperangkap dalam jaring maut. Tak mungkin ku biarkan". Dia menghmpiri Kenan yang duduk di sofa tunggal itu "Aku tak akan membuat mu keliru adik ku".


Melihat dua orang itu berselisih paham membuat ibu semakin gelisah.


"Sudah cukup, ibu sudah berbicara dengan ayah kalian. Ayah kalian sudah membuat keputusan untuk menutupi skandal ini. Jadi, berhenti bertengkar" Kamila memijit pelipis nya.


"Apa keputusan ayah, bu?"


*


*


*


FLASHBACK ON

__ADS_1


Di sebuah apartemen kecil cukup untuk dua orang saja. Rupanya seorang wanita tengah merenungi nasib nya.


"Menjadi ibu tunggal tak mudah di usia ku yang sekarang. Apa yang harus ku lakukan pada janin ini?" Ujarnya bermonolog.


Dia menghembuskan nafas lelah. Ternyata kejadian malam itu meninggalkan jejak yang besar pada kehidupan wanita itu.


"Apa aku gugurkan saja? Mengingat aku sendiri masih belum mapan menjadi seorang ibu. Dan lihatlah sekarang aku sudah menjadi pengangguran"


Dia mengusap pelan perut nya yang madih rata.


Ketukan pintu menyadarkan lamunan nya. Dia beranjak lalu membukakan pintu.


Raut wajah kaget terlihat jelas di wajah wanita itu.


"Kau mencari ku?".


Rupanya dia sudah membayangkan akan bertemu dengan tamu nya itu. Tapi, bagaimana bisa?


"Apa kau terkejut?"


"Ya, aku terkejut aku tak menyangka jika kau bisa menemukan ku di sini"


"Ya, kita bicara di luar"


Wanita itu mengikut dan sampai pada sebuah restoran dekat gedung apartemen tersebut.


"Silahkan, pesan sesuka mu. Aku yakin kau pasti makan menu seperti ini jika bersama putra ku saja"


Dia tersenyum getir "Walaupun seperti ini, aku tak pernah menjadi beban untuk orang lain".


Dia terkekeh "Sekarang kau sudah menjadi beban. Kau merayu dan menjebak putra ku agar bisa memasuki keluarga kami, kan?"


"Nyonya, aku sudah pernah mengatakan bahwa aku tak merayu ataupun menjebak putra mu" Ujarnya tegas.


"Oh.... kau dibayar rupanya. Berapa bayaran yang kau dapatkan?"


Wajahnya mengeras dan tangan nya terkepal kuat menahan emosi. Perkataan Wanita di depan nya ini memang menyayat hatinya ditambah lagi bawaan janin nya yang masih muda menjadikannya sensitif walau hanya berbicara biasa saja.

__ADS_1


FLASHBACK OFF


__ADS_2