
Hari yang panjang seperti deretan tugas yang begitu memenuhi meja itu. Anita masih berkutik dengan lembaran kertas di tangannya tak lupa juga dengan laptop yang terus menyala. Entah apa yang membuat wanita itu terlihat sangat sibuk.
Mata nya masih fokus membaca tulisan di kertas tersebut.
Sampai sebuah botol ada di depan nya.
"Minumlah! ibu ku memuat kan jus special untuk mu"
Andrew duduk di samping wanita itu.
Anita masih sibuk dengan tugas-tugas nya. Dia memilih mengutak atik laptop nya.
Sudah 2 hari sejak diamnya gadis itu membuat Andrew terus berusaha membujuk nya. Dia tak putus asa dengan perubahan sikap wantanya.
Andrew terus memperhatikan kegiatan Anita "Jangan memaksakan jika kau memang tak sanggup kau bisa meminta bantuan ku"
Anita memnghentikan kegiatan nya dia menatap pria di samping nya itu "Kenapa kau banyak bicara sekarang?" Ujarnya merasa diremehkan.
Andrew tersenyum "Bukankah kau selalu menyuruh ku untuk tak bersikap kaku. Dan sekarang aku sudah bersikap santai dengan mu"
Anita mengambil botol yang berisi jus itu lalu meneguk nya sampai habis "Aku ingin bertemu dengan ibu mu lagi" Ujarnya masi dengan raut wajah datar.
Andrew menautkan kedua alisnya "Kau sudah memaafkan ku?"
"Memaafkan? Kau tidak melakukan kesalahan apapun" Anita kembali membaca beberapa jurnal di tanganya.
"Ya, kau membuat ku bingung dengan perubahan sikap mu" Andrew meraih laptop Anita dan mulai menyelesaikan baris-baris angka yang terlihat sangat rumit itu.
Anita tidak peduli dengan yang dilakukan pria itu.
"Kau seharusnya tidak mengambil kelas kalkulus, ini cukup rumit untuk mu"
__ADS_1
Anita terkekeh "Aku hanya ingin keluar dari zona nyaman ku, kenapa kau cerewet sekali"
"Oh ya? Aku sudh menyelesaikan nya" Andrew meletakkan kembali laptop tersebut ketempat semula "Bukan karena kau ingin dekat dengan ku?" Bisiknya.
Anita menundukkan wajahnya menyembunyikan ekspresi kikuk dan malu di wajahnya.
Andrew terkekeh "Aku akan kembali ke kelas" Dia melirik jam di pergelangan tangannya "Aku akan menunggu mu di parkiran nanti".
Anita kembali menegakkan wajahnya setelah Andrew benar-benar beranjak dari hadapannya "Lihatlah dia bahkan tak memberikan sedikit pelukan pada ku" Gerutunya.
Jelas saja gadis itu sangat merindukan Andrew.
*
Seorang wanita nampak sibuk dengan napan ditangannya yang berisi gelas-gelas wine. Dia berjalan menelusuri setiap penjuru ruangan berisik itu dengan suasana temaram.
Dia terus menyunggingkan senyumannya "Ambil saja ini penawaran gratis dari bar kami" Tawarnya kepada sekelompok orang yang nampak tertawa disana.
Dia kembali dengan menenteng napan yang sudah kosong di tangannnya. Namun, beberapa saat kemudian ekpresi nya berubah menjadi sendu saat bertatapan dengan seorang pria.
Kenan tersenyum "Hai"
Khai balas tersenyum "Hai"
"Kau nampak lelah, kau bisa berhenti sejenak bukan?"
Khai mengangguk "Ya, shift ku sudah selesai" Dia berjalan menuju meja bartender.
__ADS_1
"Tak biasanya pengunjung ramai seperti ini" Ujar Ken berusaha mencairkan suasana.
"Ya, adik bos ku merayakan ulang tahunnya disini" Khai membuka celemek yang sebelumnya dipakai.
Kenan meneguk cocktailnya "Aku ingin membicarakan sesuatu, apa kau bisa menemui ku di balkon?"
*
Mereka masih diam memandang jauh ke tengah gelap nya malam.
"Khai, aku hanya ingin menanyakan kabar mu"
Khai menoleh "As you see, aku baik-baik saja"
Kenan menelan salivanya berat "Aku sudah mengetahui siapa dalang dari semua tragedi yang kulakukan pada mu"
Khai sudah menduga arah pembicaraan pria di samping nya itu akan membahas hal itu "Apa yang akan kau lakukan pada nya?"
"Dia adalah lawan bisnis ku, dia sengaja menjebak kita malam itu" Kenan menatap dalam wanita di samping nya itu "Aku akan melenyapkan nya jika kau menginginkan nya"
Khai menarik nafas dalam lalu menghembuskan secara perlahan "Ya, aku memang sasaran yang tepat untuk menghancurkan reputasi mu, aku tidak akan ikut campur lagi" Setetes air mata membasahi pipi wanita itu.
Kenan mengerutkan dahinya mersa bingung dengan ucapan Khai "Apa yang kau katakan? Kau adalah sahabatĀ ku reputasi mu juga di pertaruhkan disini".
Semua ucapan Khai seperti menggambarkan perbedaan yang jauh diantara mereka. Walaupun kenyataannya demikian, namun Kenan tau Khai masih wanita baik-baik. Bahkan dia mendapatkan keperawanan Khai saat malam itu, sudah menjelaskan wanita seperti apa Khai. Walau bekerja di Bar dia masih bisa menjaga tubuhnya.
"Ken kau berniat akan bertanggung jawab bukan? Lupakan saja, anggap saja malam itu kita menikmatinya dan sebagai tanda persahabatan kita" Khai berucap dengan diiringi isakan tangis diwajahnya.
__ADS_1