Sorry To Goodbye

Sorry To Goodbye
Kembali Bangkit


__ADS_3

Aku merenung semua ucapan mamaku padaku. Aku sadar mamaku marah karena dia menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Aku mulai membuka buku catatan dan mulai menjadwalkan kegiatan belajarku di rumah.


'Aaahhh waktunya aku untuk bangkit, aku tak ingin terpuruk seperti ini. Sekolahku sangat mahal, aku harus mendapatkan prestasiku kembali untuk membahagiakan orang tuaku' Pikirku sambil memperhatikan tulisan jadwal yang ku buat dengan pena yang menari-nari diatas bukuku.


Disekolah memasuki pembelajaran seperti biasa, aku harus fokus pada pembelajaran yang diberikan oleh guru-guruku di sekolah. Aku mulai berbaur dengan teman-teman yang pintar dan mulai belajar bersama. Menyenangkan sekali jika kita memiliki teman dan bisa berbagi ilmu bersama dan saling membantu dalam hal pendidikan.


"Kakak... Belajar, jangan sampai nilai kamu merah. Kalau kamu merah lagi dan peringkatmu hancur lagi, lebih baik berhenti saja sekolah! Minimal harus dapat 10 besar"


Mamaku mulai mengancamku lagi-lagi karena pendidikan lagi. Memang keras dia jika masalah apapun. Mamaku berkata seperti setiap hari tanpa bosannya mengatakan hal itu.


'Apa tak bisa sekali saja memberiku semangat untuk belajar dan mencoba berkata lembut padaku?' Protesku dalam hati.

__ADS_1


Seminggu sebelum ujian dimulai, aku sudah gasrak-gusruk beradu dengan buku-bukuku untuk ujian nanti. Aku mulai membaca, menghafal, dan berlatih sendiri. Aku pun inisiatif jika tak mengerti dengan pelajaran, aku akan menanyakannya dengan teman-temanku. Aku tak pernah belajar dengan mama ataupun papaku, karena setiap aku ga mengerti dia akan memarahiku lagi dengan bilang aku tidak fokus dengan guruku atau aku tidaj belajar dengan sungguh-sungguh. Padahal aku sengaja berpura-pura bertanya dengan mamaku, agar bisa dekat dengannya tapi kedekatan kami hanya untuk sebatas marahnya saja.


Ujian pun tiba, aku sudah duduk di bangku kelas yang sudah ditentukan. Namaku berawalan huruf A, otomatis aku ujian duduk selalu di paling depan. Aku tak permasalahkan itu, malah aku seneng duduk di depan di dekat pengawas. Dengan begitu, tak akan ada yang berani meminta jawabanku. Beberapa lama kemudian, pengawas pun masuk dengan soal dan lembar jawaban kosongnya yang masih tersegel. Aku sangat santai dengan ujian itu, walaupun banyak yang bilang pengawas kami ini termasuk guru killer dan matanya tak akan membiarkan kami menyontek. Aku santai saja, toh aku tidak pernah menyontek. Pengawas tersebut duduk di mejanya yang ada tepat di depanku, segera membimbing kami untuk berdoa bersama-bersama sesuai agama kami masing-masing. Setelah itu dia langsung membagikan soal dan juga lembar jawaban kosong itu pada kami, satu per satu.


Aku menerima soalku dengan senang, karena soalnya terbilang aku sudah memahami semua soal-soal yang ku terima. Aku yakin, aku bisa mendapatkan prestasi yang mamaku inginkan.


"Anna, nomor 5 dong"


"Tidak tahu" Aku berbohong padanya, karena aku tak ingin jawabanku disalin dengan siapapun. Dia mulai menanyakan jawaban dari soal nomor lain, ya aku hanya menjawab tidak tahu, dan mulai sibuk dengan ujianku.


Seminggu kemudian, ujian pun kelar. Aku tak sabar untuk mengetahui hasilnya. Aku sangat yakin aku akan bisa membanggakan orang tuaku kali ini. Aku sangat percaya diri saat itu.

__ADS_1


Pembagian raport pun berlangsung, aku dengan deg-deg an membuka raport hasil ujianku, berharap bisa mendapat peringkat sesuai dengan yang mamaku inginkan.


"Peringkat : 5 / 30"


Hatiku serasa mau copot melihat peringkat kelasku, akhirnya setelah berdrama dan menangis-nangis setiap hari dengan mamaku akhirnya aku bisa mengembalikan peringkatku yang telah jatuh. Tak sabar hatiku ingin segera memberikan raport ini kepada mamaku.


"Pelit banget sih lu sama jawaban aja setiap ujian!" Aku membalikkan badanku untuk mengetahui siapa yang berbicara dan berani-beraninya mendorongku dari belakang hingga badanku menyondong ke depan karena dorongannya.


Kulihat di belakangku sudah ada Adi dan kawan-kawannya. Mereka marah karena aku saat ujian tidak memberitahukannya 1 pun jawaban dari ujian kemarin. Yang bikin mereka kesal juga, aku yang bilangnya tidak tahu dengan jawaban bisa mendapatkan rangking 5. Wajahku ketakutan, Mereka memang kelompokkan anak nakal, yang senang sekali membully anak yang lemah termasuk aku. Aku mulai saat itu sering dibully, aku pun mulai sering menangis di toilet jika habis jadi bulan-bulanan dari mereka.


Di rumah

__ADS_1


Aku duduk di sofa ruangan keluarga dengan raport di tanganku. Aku menunggu kepulangan mama dan papaku dari kerjaan mereka. Aku tak sabar ingin melihat ekspresi mereka dan tak sabar ingin di peluk oleh kedua orang tuaku. Aku terus menghayal kelakuan mamaku yang membuka tangannya untuk memelukku, aku senyum-senyum sendiri membayangkan hal itu.


__ADS_2