
'Perasaan apa ini? kenapa tiba-tiba aku selalu senyum-senyum kalau memikirkannya?'
Aku senyum-senyum sendiri memikirkan lelaki yang ada dalam pikiranku. Sesekali aku menepis pikiran itu, ada perasaan aneh dalam diriku. Setiap hari rasanya ingin bersama dengannya, setiap dia tak ada kabar malah membuatku gelisah. Ada apa denganku, Tuhan??? Sudah 3 hari terakhir ini dia tak ada mengabariku sama sekali. Apa dia menjauh dariku sekarang?? Aku harus berbuat apa? Apa aku coba menghubungi dia? Aku terus menggenggam handphoneku dan membuka tutup aplikasi chat yang ada di handphoneku.
Sebuat chat masuk ke handphoneku, aku segera cepat-cepat membuka pesan tersebut.
"Apa kita bisa bertemu?"
"Aaahhhhh.... Akhirnyaaaa...." Aku melompat kegirangan melihat pesan itu.
Akhirnya lelaki yang ku tunggu kabarnya itu menghubungiku duluan. Tak perlu aku susah payah untuk menghubunginya duluan. Aku pun sesegera mungkin membalas chat darinya.
"Kalau aku malas bagaimana?" Aku berusaha untuk jual mahal dulu, untuk melihat responnya.
"*Ya sudah next time saja"
'Huuuft menyebalkan. Kenapa responnya seperti itu, bukannya membujukku untuk mau*!' Aku bergumam dengan kesal, terpaksa dia berhenti untuk jual mahal pda lelaki itu.
"*Baiklah aku akan bertemu denganmu, dimana kita bertemu?"
"Nanti ku jemput, jam 3 sore*"
Chat pun berakhir, aku menjadi penasaran kemana dia akan membawaku nanti? Ya sudahlah, lihat saja nanti.
__ADS_1
Waktu telah menunjukkan jam 3 sore, aku sedang menunggu seseorang di teras rumahku.
"Ini pakai, dan naik" Sandy telah berada di depan rumahku. Dia memberikanku helm dan juga menyuruhku untuk menaiki motornya yang gede itu.
Setelah aku naik ke atas motornya, dia menyuruhku untuk berpegangan padanya. Aku menurutinya karena aku baru kali itu di bonceng menggunakan motor gede seperti ini, sebenarnya agak takut selama di perjalanan kaeena motor ini. Mungkin aku yang tidak biasa.
"Sudah sampai"
"Ini dimana? Ramai sekali. Tau sedekat ini jaraknya mending ga usah pakai helm tadi" Aku segera turun dari motor dan melepaskan helm. Aku pun melihat sekelilingku. Aku memang sangat tak suka menggunakan helm. Helm bagiku tuh berat dikepalaku dan membuat ngantuk sekali kalau kepalaku berada di dalam helm.
"Demi keselamatan. Kita di tempat biasa aku balapan" Dia menjawab, dan langsung menghampiri kawan-kawannya yang ada disana.
'Whaaaat??? Apa dia sudah gila mengajakku kemari? Bagaimana kalau mami tahu aku ke tempat ini? Mami kan tidak suka aku berteman atau berkenalan dengan orang yang menurutnya ga bener.'
Aku sepertinya salah sudah ikut dengannya kemari.
Seketika aku teringat omelan mamaku ketika ia tahu bahwa aku berteman dengan Sandy. Sandy memang dikenal anak yang nakal di tetanggaku, tapi menurutku mereka hanya mengenal ceritanya saja bukan sifat aslinya. Walau dia nakal, dia tidak pernah kasar ke orang lain seperti orang-orang pikirkan tentang pembalap motor.
"Sini kamu, nanti hilang disini aku yang repot"
Aku pun menghampiri Sandy yang sedang bersama dengan teman-temannya. Aku mencoba ramah pada teman-teman Sandy, dan berkenalan dengan mereka semua.
"Wiiidiiihhh Cewek dari mana lu. Tumben\-tumbenan lu ajak cewek kemari?" Temannya yang bernama Tomi mulai meledek Sandy karena kehadiranku.
__ADS_1
"Jangan-jangan ini cwenya? Lu kan pernah bilang bakalan bawa ke tempat ini kalau cwe itu...." Rangga belum sempat menyelesaikan omongannya langsung buru-buru di tutup mulutnya dengan Sandy dengan tangannya.
"Kenapa di tutup mulutnya?" Aku penasaran apa kalimat yang akan diucapkan Rangga.
"Tidak apa-apa, dia hanya ngelantur, biasa otak gesrek" Sandy salah tingkah karena ulah temannya.
"Kamu mengajakku kemari untuk apa? Untuk melihat kamu balapan?" Tanyaku dengan nada jutekku.
"Nggak, hari ini aku tidak balapan kok. Aku cuma pengen ajak kamu kemari ya biar tempat ini yang jadi kenangan kamu. Kamu kan tidak pernah ke tempat seperti ini. Ya secara orang sepintar kamu, mana mungkin sih kesini"
Entah mengapa aku tidak suka di bilang seperti itu olehnya. Aku tidak suka rasanya dipuji kepintaranku.
Aku pun tak menjawab omongan dia, dan akhirnya melihat aksi balapan motor disana. Tanpa ku sadari wajahku menunjukkan ekspresi takut saat melihat aksi mereka.
'Bodoh, seperti ini bisa dijadikan hobi? Ini sama saja mencari mati. Apa mereka tidak memikirkan resiko dan bahayanya jika balapan seperti ini?' Gumamku dalam hati.
Tapi ternyata lama kelamaan aku menikmati acara mereka. Seru juga ternyata, melihat aksi mereka walau bercampur ngeri melihatnya.
"Ndy.. Udah Maghrib"
Aku panik mendengar adzan, karena aku memang tidak diperbolehkan kemana saja dengan mamaku kecuali hanya di depan rumah atau hanya ke sekeloh. Hidupku memang sangat membosankan.
"Eh gue cabut dulu ya, mau antar dia dulu pulang"
__ADS_1
Sandy berpamitan dengan teman-temannya dan segera menancapkan gas motornya untuk mengantarkanku pulang. Sandy tahu aku sedang panik dan takut karena pulang maghrib, dan Sandy juga tahu kalau aku tidak diperbolehkan kemanapun kecuali di depan rumah atau sekolah saja.
Sandy mengebutkan motornya, aku memegang erat jaketnya kali ini bukan takut jatuh dari motor tapi aku takut mamaku sudah sampai di rumah dan mengetahui aku tidak di rumah.