Sorry To Goodbye

Sorry To Goodbye
180°


__ADS_3

Hari-hariku sudah tak seceria dulu setelah mendengar pernyataan mamaku di mobil kemarin. Aku si anak adopsi mamaku. Apa karena aku anak adopsi aku jadi serba salah setelah dia memiliki anak kandung, siapa lagi kalau bukan adikku? Sifatku berubah drastis semenjak hari itu. Aku menjadi pendiam, sering melamun, dan bahkan nilai-nilaiku ikutan menurun sama seperti mood dan hidupku.


 


"Lu kenapa, na?" Vivian telah menyadarkanku dari lamunanku sedari tadi.


 


"Ahhh lu ngagetin aja. Gue ga kenapa-napa kok" Aku tak berani menceritakan tentang hal yang kurasa pada siapapun saat itu.


"Lu yakin? Gue perhatiin lu makin kesini makin parah deh. Muka kusut banget kayak baju yang ga di seterika." Vivian menatapku seakan-akan dia khawatir dengan kondisiku.


"Beneran gue ga kenapa-napa, Vi"

__ADS_1


"Nilai lu juga banyak turun, peringkat juga turun drastis banget gila. Lu dari rangking 5, kenapa bisa jadi ke rangking 20 an? Lu cerita kalau ada masalah, jangan lu pendam sendiri! Lu masih punya temen yang peduli sama lu"


Vivian terus mengintrogasiku dengan terheran-heran. Maaf Vi untuk saat ini gue belum bisa cerita apapun masalah gue. Gue hanya bergumam dalam hati namun wajahku tetap tersenyum padanya agar temanku ini tidak khawatir denganku.


Hari sabtu disekolahku ada pengambilan raport yang harus di ambil oleh orang tua. Mamaku sangat marah dan kecewa karena raport semester yang ia terima aku mendapatkan peringkat 2 dari bawah. Aku semakin hari semakin drop karena masih terngiang omongan mamaku yang menyatakan aku bukan anak kandungnya.


"Kamu ini sekolahmu kerjaannya ngapain sih sampai-sampai dapat nilai merah, rangking juga dibawah banget. Mau jadi apa kamu? Ini balasan kamu ke mami? Setelah mami merawat kamu dari kecil tapi kamu balas dengan ini? Jangan sampai mami mengeluarkan kalimat yang bikin kamu sakit hati karena statusmu di keluarga ini!"


Jangan sampai sakit hati? Perkataan itu saja sudah membuat aku sakit hati walau dia tidak menyebutkan aku anak adopsi, tapi kalimatnya sudah mengarah kesana. Aku bergumam dalam hati.


Hari kelulusan tiba..


Hari ini adalah hari kelulusan SD ku untuk memasuki SMP sekaligus acara pelepasan kami untuk ke kota Bandung selama 2 hari 2 malam. Perasaan campur aduk menyelimutiku sejak pagi tadi. Kami para siswa di bariskan di lapangan dengan pidato dari kepala sekolah yang membicarakan mengenai pendidikan, dan sedikit membuat kami semua khawatir. Aku khawatir jika aku tidak lulus, mengingat nilai-nilaiku yang hancur. Mama dan papaku telah berdiri diantara orang tua murid lainnya untuk menyaksikan kelulusan anaknya.

__ADS_1


"Saya kecewa dengan kalian semua. Di angkatan kali ini, banyak yang tidak lulus dalam ujian" Kepala sekolah membuat kami para siswa ketar-ketir mendengarkan hal itu.


Mamaku dari jauh melototiku setelah mendengar omongan kepala sekolah itu. Mata mamaku seakan ancaman buatku jika aku tak lulus. Aku teringat ketika mau ujian kelulusan, mamaku sudah mengancamku. Jika aku tak lulus nantinya, aku akan di usir dari rumah. Mengingat hal itu aku ketakutan dan menangis di barisan.


Tak lama kemudian amplop kelulusan dibagikan satu persatu pada kami para siswa di sekolah itu. Kepala sekolah pun memberikan aba-aba untuk kami membuka amplop tersebut bersamaan di barisan kami masing-masing.


Saat sudah diperbolehkan membuka amplop, kami semua pun membuka amplop tersebut. Tanganku gemetaran sangat hebat, bukan tanganku saja tapi seluruh badanku bergetar sangat hebat. Aku takut dan gugup, bagaimana jika aku tidak lulus?


"Selamat atas Saudara/i Anna Angelista dinyatakan LULUS"


Aku senang sekali membaca kelulusanku, aku langsung lari berhamburan ke pelukan mamaku, aku memeluknya duluan karena aku bisa lulus. Aku menangis dalam pelukannya, Mamaku juga berusaha menenangkanku untuk tidak menangis lagi karena dia tahu bagaimana aku ketakutannya tadi. Ekspresi mukaku memang tak dapat berbohong.


"Sudah berhenti menangis, bersenang-senanglah diacara pelepasan nanti. Jangan nakal dan jangan nyusahin orang lain"

__ADS_1


Ini pertama kalinya aku pergi jauh dari mamaku dan rumah, karena acara pelepasan. Awalnya dia tidak mengijinkan aku untuk ikut, karena memang aku tak diperbolehkan kemanapun selain ke sekokah. Tapi aku membuat alasan bahwa ikut tidak ikut bayar. Awalnya mamaku bilang tidak masalah jika aku tidak ikut dan harus bayar. Tapi aku berusaha keras agar biasa ikut di acara pelepasan itu, dan akhirnya aku diijinkan untuk pergi.


__ADS_2