
Tak sabarnya aku ingin bertemu rasanya sudah rindu saja dengannya. Dia selalu sibuk dengan kuliahnya, untung saja hari ini dosennya tak masuk dan aku bisa bertemu dengannya walaupun harus melihat dia balapan motor.
Praank..
Gelas yang berada di meja riasku terjatuh dan pecah. Ada apa ini? Mengapa perasaanku jadi tak enak begini? Aku segera memanggil mbakku untuk mebersihkan pecahan gelas dikamarku.
Kriing..
Suara teleponku berbunyi, Sandy meneleponku kala itu.
"Sudah siap-siap?"
"Sudah"
"Baiklah, sebentar lagi aku jemput."
Telepon dimatikan, aku pun segera keluar rumah. Seperti biasa dia memberikanku helm, dan aku menaiki motornya.
"Harus banget ya kamu balapan hari ini?" Aku merasakan ada hal yang tidak nyaman dalam diriku, tapi entah apa.
"Aku sudah janji dengan kawanku, kalau kamu tak suka tak apa, biar aku pergi sendiri"
"Tidak juga, toh selama kita pacaran aku juga sudah berkali-kali melihatmu balapan"
"Lalu?"
"Hanya saja, aku hari ini seperti tak ingin kencan di tempat balapanmu"
__ADS_1
"Ya sudah next time aja kah kita ketemuannya?"
"Nggak, aku sudah berbohong pada mamaku demi bertemu denganmu. Ya sudah ayo jalan"
Sandy langsung menancapkan gas motornya ke tempat arena balapnya. Sesampainya disana seperti biasa kita bercengkrama dulu dengan kawan-kawannya yang ada disana.
"San, sudah mau mulai ya. Siap-siap lu. Hati-hati juga. Kali ini lu ga menang gapapa deh, gue khawatir sama lu, soalnya lawannya berat" Digo, teman Sandy di arena itu memperingati Sandy dengan menepuk bahu Sandy.
"Ahhh seberat apa sih? Slow, bisa gue atur" Sandy terlihat sangat santai, ya dia bersikap seperti itu karena sudah terbiasa dengan hobinya.
"Lawan lu sekarang Ricko, dia terkenal lawan yang bisa nekat dengan menyelakain lawannya demi menang"
"Gue bisa jaga jarak"
"Ya sudah, terserah deh." Digo meninggalkan Sandy.
"Apa ga sebaiknya kamu ga perlu turun ke arena?" Aku merasa khawatir setelah mendengar perkataan Digo tadi.
"Yaa aku khawatir setelah dengar Digo bilang begitu. Aku ga mau kenapa-kenapa. Selama ini kan aku ijinin juga kamu balapan, tapi aku takut apa yang dikatakan Digo terjadi"
"Ga usah di pikirin, aku bisa handle semua" Sandy mengusap rambutku sambil tersenyum.
"Sudahlah ngalah aja bro, sesekali kalah ga masalah" Teman-teman Sandy mencoba untuk membuat Sandy mengalah, memang kita semua khawatir dengan hal yang belum kita ketahui.
"Tenang aja, jagain bidadari gue ya buat gue. Jangan sampai ada lelaki lain yang menyentuh dia" Ucap Sandy dengan senyumannya, dan mulai bersiap-siap ke dalam pertandingan.
Aku memperhatikan Sandy dengan perasaan khawatirku yang tak hilang-hilang. Aku pun berharap dia akan baik-baik saja.
__ADS_1
1...2...3.. Go..
Instruksi bahwa dimulainya pertandingan pun terdengar. Sandy dan lawannya mulai menancapkan gas motor mereka dengan ngebut. Aku terus memperhatikan Sandy hingga Sandy dan lawannya menghilang dari penglihatanku karena mereka sudah jauh. Aku menunggunya di garis finish. Teman-teman Sandy mencoba menenangkanku dari rasa khawatirku yang tak kunjung hilang.
"Mereka kembaliii" Teriak salah satu penonton menunjuk ke arah 2 sepeda motor yang mengarah ke garis finish.
'Akhirnya dia tak kenapa-kenapa' Aku bersyukur dan senang setelah melihat motornya dari kejauhan.
Namun ketika hampir beberapa meter mendekati garis finish, Sandy terjatuh dari motornya dan aku melihat kaki lawannya lah yang menendang motor Sandy dari samping. Namun karena kejadian itu terjadi dengan cepat, banyak orang yang tak menyadari hal itu.
Aku melihat Sandy terjatuh dan terseret jauh beberapa meter dari tempatnya jatuh hingga helmnya terlepas. Aku berteriak menangis melihat kejadian itu dan segera menghampiri Sandy. Sandy tak sadarkan diri itu penuh dengan darah akibat aspal jalanan yang melukainya.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit!!!" Aku berteriak panik.
Aku dan teman-teman Sandy pun membawanya ke rumah sakit. Kami juga segera menelepon orang tua Sandy untuk datang menemui anaknya yang tak sadarkan diri. Menurut kata dokter dia mengalami krisis dan kekurangan darah.
Tiba\-tiba suara adzan maghrib terdengar di telingaku, menandakan aku harus segera balik. Ingin rasanya aku tetap di rumah sakit, hanya saja aku tak berani pulang malam. Jika itu terjadi, aku pasti susah lagi untuk keluar. Aku pun minta diantarkan oleh salah satu teman Sandy yang ikut ke rumah sakit.
"Sudah lu jangan nangis. Gue yakin cowok lu baik-baik aja."
"..." Aku hanya terdiam sambil terus menangis dari balik punggung Digo.
"Sudah sampai, sudah lu masuk" Digo memerintahku dan memutar balikkan motornya.
"Tolong kabarin gue keadaan Sandy. Gue pulang sekolah besok bakal ke rumah sakit"
"Iyee, tenang aja. Nanti gue kabarin jika ada perkembangan. Sekarang lu masuk, dan jangan nangis terus!"
__ADS_1
Aku pun langsung masuk ke rumah, namun air mataku tak juga berhenti. Aku terus memikirkan lelaki itu.
'Jangan tinggalin aku, lu harus sembuh, lu harus kuat! Gue ga mau sendiri. Gimana gue bisa jalanin hari gue tanpa lu'