
Akhirnya pernikahan mamaku dan papa tiriku sudah hampir 3 tahun, aku pun sudah hampir kelulusan SD. Aku memiliki banyak teman disekolah, aku masih menjadi anak yang aktif dan periang di tambah lagi, aku selalu dapat juara kelas di sekolah. Makin bangga kedua orang tuaku ini. Mereka makin sayang denganku. Tapi sepertinya kebahagiaanku ada yang kurang. Aku melihat banyak teman-temanku yang memiliki adik, keliatannya seru banget kalau punya adik.
Di ruang televisi,
"Miiih.. Aku mau punya adik dong kayak teman-temanku." Kataku dengan manja.
"Aduuuhhhh anak papi yang satu ini pengen punya adik ya sayang." Papa tiriku memang masih selalu bersikap memanjakan aku semenjak kenal hingga saat ini.
"Iyaa, teman-temanku pada punya adik. Masa aku nggak?" Aku menjawab dengan kepolosanku.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu perbanyak berdoa sama Tuhan sayang. Setiap hari doa minta adik." Jawab mamaku dengan sangat lembut.
Aku mengiyakan kata mamaku dan aku kegirangan mendapat jawaban lembut dari mereka. Mulai saat itu aku selalu berdoa minta sama Tuhan untuk diberikan adik yang lucu.
"Memangnya kamu siap punya adik sekarang? Dan akan menjaga adikmu?" Tanya mamaku.
"Kalau urusan sayang, papi percaya kamu akan menyayanginya. Karena kamu punya hati yang sangat lembut sayang sama seperti mamimu" Jawab papaku dengan tersenyum padaku.
Beberapa tahun kemudian, doaku terkabulkan. Aku memiliki seorang adik yang lucu sekali, ia bernama Anindita Kusuma Wicitra. Wajahnya yang cantik, lucu, mungil, putih dan tembem itu membuat aku benar-benar sangat bahagia atas kehadiran bidadari cantik ini kedalam kehidupanku. Dia seperti orang Arab dengan kulitnya yang putih, mata besar, dan rambut hitamnya yang tebal. Saking aku bahagianya, aku menyombongkan adikku yang sempurna kepada teman-temanku. Teman-temanku juga gemas melihat keindahan adiku. Akhirnya aku punya teman bermain, aku tak perlu bermain sendiri lagi kalau mama dan papaku tak di rumah.
__ADS_1
Tak ku sangka, setelah adikku menjadi semakin besar aku merasa perhatian mama dan papaku menjadi berkurang padaku. Kami sudah jarang bermain bersama dan aku selalu terkena omelan mamaku. Aku seperti selalu salah dimata mamaku saat itu. Setiap hari aku selalu menangis karena omelan-omelan mamaku. Baru kali itu aku merasa sangat sedih diomelin habis-habisan dengannya. Mamaku lebih dekat dengan adikku sekarang. Aku menjadi seorang yang kesepian. Aku seperti menyesal telah berdoa memohon seorang adik, kalau begini jadinya.
Orang-orang yang menemaniku sekarang hanya teman-temanku atau pembantu dirumah. Aku rindu bermain dengan kedua orang tuaku. Bahkan banyak yang mengejekku, aku ini anak pembantu karena memang hari-hariku bersama pembantu terus. Jujur, aku sedih mendengar ejekan itu yang saat ini seringkali ku dengar dari mereka-mereka.
Aku menjadi semakin tak banyak bicara dengan kawan-kawanku. Bahkan bukan 1 atau 2 orang yang membullyku disekolah hampir satu kelas tak ingin bermain atau berbicara denganku tanpa membully. Di sekolah pun aku hanya memiliki beberapa teman yang bisa dihitung oleh jari.
Walau mereka tahu aku dibully, tapi mereka teman-temanku ini masih tetap ingin bermain denganku walaupun tanpa banyak membela.
Aku berpikir setelah kelahiran adikku ini, semua kehidupanku berubah. Dialah penyebab semuanya.
__ADS_1