Sorry To Goodbye

Sorry To Goodbye
Jangan!


__ADS_3

Bertahun-tahun sudah aku berkuliah di kampus yang memberiku kesempatan masuk, walau tidak sesuai dengan jurusan yang ku mau. Aku menjalaninya denngan penuh kejenuhan dalam pikiranku. Saat semester awal aku berkuliab masih terasa baik, namun sudah semester 4 sekarang aku mulai merasa penurunan dalam belajarku di kampus. Banyak yang tak ku mengerti.


Liburan semester telah tiba, aku pulang ke rumah. mamaku mulai membebaskanku dalam cara belajarku juga dan semenjak kuliah, dia tak banyak mengomeliku. Karena setiap dia menghubungiku, aku selalu di kosan dan dia mempercayaiku.


"Kak, sarapan berdua yuk sama mami ke pasar"


Ada apa lagi ini? Tumben-tumbenan mamaku mengajak pergi hanya berduaan. Aku langsung teringat ketika mamaku mengatakan aku anak adopsi, sama seperti itu rasanya. Ada yang akan mami bicarakan lagi? Aku hanya menuruti ajakan mamaku.


Sesampainya kami di pasar, kami memasan makanan yang akan kami santap ketika itu.


"Kak, kalau mami cerai dengan papi bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


"Lagi? Kenapa?" Aku terkejut mendengar hal itu dari mulutnya. Apa semudah itu untuk bercerai? Apa dia tak tahu bahwa perceraian orang tua akan berdampak pada anaknya? Apa dia tak memikirkan adikku?


"Yaa, mami sudah capek saja. Papimu saja sekarang sudah tak bekerja bertahun-tahun, mami semua yang urus biaya ini itu. Mami percaya kok hidup kita akan bahagia walaupun tanpa papi."


'What? Semudah itu? Oh my God. Jangan lagi bercerai.. Aku tak mau adikku sepertiku' Aku bergumam dalam hati sedih. Memang sih sudah 4 tahun belakangan ini papaku sudah tak bekerja, kerjaannya hanya makan dan tidur. Kadang sedih lihat mamaku yang berjuang sendiri mnghidupi keluarga.


"Tapi mih, apa cuma karena ekonomi keluarga dan karena papi tak bekerja?"


"Hmm.. Kalau aku kuliah sambil kerja, apa mami ijinin aku? Asal mami jangan cerai." Entah tiba-tiba terbesit pikiran seperti itu. Baru kali ini aku bisa berbicara santai dengan mamaku tanpa ada keributan dari kami.


"Bebas, asal kuliahmu jangan sampai lengah"

__ADS_1


Baru kali itu mamaku mengijinkan hal yang ingin ku coba.


3 bulan kemudian, aku segera kembali ke Bandung untuk kembali berkuliah lagi. Dan disana aku mulai mencari-cari lowongan kerja yang sekiranya bisa ku lakuin dan tidam bentrok dengan jam kuliahku.


'Aaahhhh kenapa part time malah kebanyakan bentrok?' Aku mulai putus asa dan rasanya seperti nyesek saja, kalau aku taj dapat kerjaan sama saja perceraian itu tak bisa aku cegah.


Tiba-tiba mataku terfokus pada iklan lowongan yang terpampang di suatu browsinganku.


'Waaahh cocok ini kerja dari jam 7 malam hingga jam 2 malam. Lumayan, aku bisa kerja.'


Aku sangat senang sekali seakan-seakan peluang sedang membantuku mencegah perceraian mama dengan papaku. Aku berbuat itu demi adikku, agar dia tetap selalu memiliki orang tua yang utuh. Tidak seperti aku.

__ADS_1


Segera aku menghubungi nomor yang tertera di iklan tersebut. Orangnya pun terdengar sangat ramah, aku di suruh interview besok jam setengah 7 malam. Aku pun sangat senang mendapat respon baik dari pihak sana. Semoga saja aku bisa membantu perekonomian mami, aku harus bisa.


__ADS_2